19.12.09

Menelusuri Kuncen (Selatan)

Oleh: Utari Dewi Narwanti
Domisili: Yogyakarta


Jogja! Kota yang menyimpan banyak cerita. Ingatanku pun langsung menyuguhkan ‘layar lebar’ tentang suatu lingkungan di masa kecilku, dan kini.

Kuncen

Lengkapnya Pakuncen. Salah satu kelurahan di kota Jogja. Dari cerita lisan, kudengar nama itu bermula karena di wilayah Kuncen ini terdapat makam. Kuncen berarti terkunci, tidak ada orang, maksudnya mengacu pada makam yang hanya dijaga para juru kunci. Terus terang sampai saat ini, aku belum menemukan dokumentasi tertulis tentang sejarah nama Kuncen (Pakuncen) ini. HOS Cokroaminoto adalah salah satu pahlawan nasional yang dimakamkan tepat di jantung pemakaman Kuncen. Oleh karena itu jalan raya di sekitar Kuncen yang membujur dari Selatan ke Utara itu bernama Jl. HOS Cokroaminoto. Kompleks makam itu sendiri tepatnya terletak di wilayah Pakuncen bagian Tengah. Oya, ada satu lagi makam Kuncen yang berada persis di samping jalan raya, namun luasnya jauh di bawah makam Kuncen yang berada di bagian Tengah. Adi Sucipto (juga pahlawan nasional) dikebumikan di makam yang berada di samping jalan raya HOS Cokroaminoto ini.

Ada hal penting lain dalam ingatan bahwa dahulu di Kuncen ini pernah berdiri Pasar Hewan. Tepatnya di sisi Timur Jl. HOS Cokroaminoto depan tikungan jalan menuju makam Kuncen bagian Tengah. Pada hari pasaran tertentu, di Pasar Hewan Kuncen itu selalu ramai dengan keberadaan hewan, terutama sapi dan kambing. Sejak paruh awal tahun 2000-an, pasar hewan ini pindah ke Ambarketawang, Jl. Wates, Gamping, Sleman. Sedangkan bekas Pasar Hewan Kuncen bermetaforfosa menjadi Pasar Klithikan, pasar yang menjual segala macam barang, baik bekas maupun baru, mulai dari alat pertukangan sampai komunikasi. Imbas keberadaan Pasar Klithikan ini kemudian menyebabkan kepadatan yang sangat di seputaran pasar, terutama pada petang hingga malam hari.

Kampung Kleben

Kuncen terletak di Jogja Barat, berbatasan dengan Kelurahan Ngestiharjo, Kabupaten Bantul. Aku tinggal dan dibesarkan di sebuah rumah di jalan utama perkampungan, tepatnya Kuncen bagian Selatan: kampung Kleben. Wilayah ini termasuk dalam Kecamatan Wirobrajan. Sebelum tahun ’80-an, wilayah ini bernama RK Kuncen. Sejak RK berganti nama menjadi RW di akhir tahun ’80-an, RK dibagi menjadi 3 RW.

Tahun ’70-an, wilayah ini memiliki jalan kampung yang berupa tanah. Tanaman besar masih banyak bertumbuhan. Pohon bambu juga bertebaran di penjuru kampung. Pagar rumah masih banyak yang berupa pagar hidup: tanaman teh-teh-an. Kebun-kebun masih banyak yang tumbuh natural, tidak tertata dan tidak dirawat oleh pemilik tanahnya. Orang-orang menyebutnya sebagai ‘bon suwung (kebon suwung)’. Karena ‘suwung’, sepi kosong dari pemilik tanahnya, kebun itu pun sering kali membuat anak-anak penasaran untuk menjelajahinya. Tidak sedikit yang takut dengan mitos ‘hantu’ di kebun itu, tapi banyak juga yang bahagia banget karena bisa berpetualang di dalamnya seolah sedang menjelajah hutan belukar.

Halaman-halaman rumah di wilayah itu masih relatif luas. Anak-anak kampung sering kali bermain di halaman itu. Permainannya pun bervariatif, seperti gobag sodor, ‘ingkling’, jamuran, ‘ancak-ancak alis’ yang berakhir dengan tarik tangan (seperti tarik tambang tapi dengan tangan saja, tanpa tali), nekeran, bentik, delikan (petak umpet), dan lain-lain yang kesemuanya itu cenderung membutuhkan kerja sama satu tim. Suara tawa canda anak-anak terdengar jelas sungguh. Mereka terlihat gembira dengan sorak sorainya.

Banyak tanah di wilayah ini masih dimiliki oleh segelintir orang. Dalam satu RT misalnya (menurut perkiraanku, kurang lebih seluas 9.000 – 10.000 m_ pada waktu itu), bisa jadi hanya dimiliki oleh satu atau dua orang saja. Biasanya pemilik tanah itu juga memiliki banyak anak. Mereka menyewakan tanah-tanah itu sebelum diwariskan kepada anak-anaknya. Dalam perkembangannya, tanah itu kemudian dijual seiring dengan banyaknya pendatang di wilayah itu.

Kampung Kleben, Kuncen, Yogyakarta, termasuk salah satu wilayah penting dalam ‘menyangga’ keberadaan sekolah tinggi di seputaran Wirobrajan, diantaranya sebagai penyedia tempat tinggal dan juga menjadi zona interaksi antara mahasiswa dengan penduduk setempat.

Di akhir tahun ’60-an – ’90-an, STSRI ASRI Yogyakarta (sekarang bernama ISI Yogyakarta) berlokasi di Gampingan, berdampingan dengan SMA Negeri 1 Yogyakarta. Menyusul kemudian, di seberang jalan berdiri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Banyak mahasiswa dari lembaga pendidikan itu kemudian mencari tempat tinggal: kos / asrama / kontrakan di sekitar kampusnya. Dari ingatanku masih jelas tergambar bahwa para mahasiswa itu mampu mendayakan kehidupan di sekitarnya. Dalam relasi itu terjadi akulturasi budaya. Ada yang mengajarkan musik, ada yang kemudian menularkan kemampuan menggambar atau melukis, juga ada yang menularkan kemampuan memahat, atau mentransferkan ilmu lainnya, dan sebagainya.

Di wilayah kampung Kleben itu pernah muncul sosial entrepeneur, wirausahawan sosial, seorang yang memiliki solusi inovatif untuk menyelesaikan masalah mendesak di masyarakat dalam kepemimpinannya. Salah satunya adalah Narno S, pemuda kelahiran Sukoharjo (Jawa Tengah) yang menempuh studi di STSRI ASRI Yogyakarta kemudian mengajar di almamaternya. Sejak di bangku kuliah pada tahun ’60-an hingga akhir hayatnya di tahun 1997, beliau tinggal dan menggerakkan masyarakat di kampung itu untuk berkarya dalam sanggarnya yang semula bernama Sanggar Seni Ukir. Perannya sangat signifikan dalam mendorong produktifitas masyarakat, mulai dari menggambar, membuat keramik, memahat, hingga menjalin relasi dengan dunia luar yang lebih luas. Karya-karya mereka diapresiasi bukan hanya dalam verbal tapi juga materi. Seiring waktu berjalan, pengangguran pun dapat ditekan. Dalam hal memahat, masyarakat juga berinteraksi dengan para pengrajin ukir yang didatangkan dari Jepara di sanggar itu.

Seniman-seniman lain yang pernah mengalami hidup di kampung ini, baik tinggal maupun sering sekali bertandang, diantaranya Nasirun, Heri Dono, dan lain-lain. Sedangkan seniman otodidak yang belajar dari akulturasi budaya di kampung ini salah satunya adalah Djon Batik. Belum lagi kehadiran para ‘bule’ dari berbagai negara yang turut bertandang karena relasi budaya itu. Sungguh kehadiran mereka mempengaruhi  gairah hidup di kampung itu.

Interaksi yang terjadi di dalam masyarakat tidak hanya dalam hubungan kerja atau relasi biasa. Lebih jauh, tidak sedikit pasangan suami istri yang lahir dari kampung ini. Banyak mahasiswa yang kemudian menikah dengan penduduk kampung. Salah satunya adalah mantan petinggi Pusat Studi Kebudayaan UGM yang berasal dari Sumatera Barat dan menimba ilmu di Jogja, menikahi anak tetangga ibu kosnya. Romansa cinta ternyata juga berpendar dari rumah-rumah kos.

Selain aktifitas kesenian, kegiatan keagamaan juga berelasi kuat dengan mahasiswa luar Jogja yang menempuh pendidikan di UMY. Aktifitas masjid semakin ‘semarak’ dengan kehadiran dan sepak terjang mereka, semisal seringnya diadakan pengajian dan tadarus bersama.

Kondisi Kini

Waktu terus bergulir. Menjelang tahun ’90-an, terjadi pemekaran wilayah di kampung itu, juga kampung-kampung yang lain. Satu RT yang luas itu dibagi menjadi 2 RT. Hal ini mengingat pertumbuhan penduduk yang kian padat dan juga sesuai dengan peraturan Tata Kota pada waktu itu.

Sekitar awal tahun ’90-an, kampus ISI Yogyakarta yang semula di Gampingan telah berpindah ke Sewon, Bantul, arah Selatan dari kota Jogja. Sedangkan UMY telah berpindah ke Ring Road Barat, Gamping, Sleman, yang terletak di kawasan Barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Perubahan ini juga sangat berimbas pada wilayah-wilayah di sekitar lokasi awal institusi tersebut.

Kini, di tahun 2009, banyak rumah kos yang tutup. Kamar kos banyak terbengkalai. Ada satu rumah kos yang berisi sekitar 20 kamar hanya aktif dipakai 4 - 5 kamar saja. Sungguh situasi yang sangat bertolak belakang dengan keadaan pada beberapa tahun lalu. Kegiatan kesenian cenderung tumbuh privat, dilakukan perorangan. Sedangkan kegiatan ritual keagamaan didominasi oleh penduduk setempat.

Dari sisi fisik, memang ruas jalan di kampung ini sudah beraspal, berkonblok, maupun berplester meski berlubang di sana sini. Tanah yang semula hanya dimiliki segelintir orang itu sekarang juga sudah berpindah tangan alias dijual ke banyak orang. Kaum urban berdatangan, mulai dari buruh hingga wirausahawan. Kampung pun semakin padat oleh rumah-rumah dan ruas jalan kecil. Halaman semakin berkurang. Kebun luas sudah jarang, bahkan hampir tiada. Hanya tanaman-tanaman pot di teras-teras rumah. Ada satu dua rumah saja yang membiarkan pohon besar tumbuh di halaman depannya yang tidak seberapa luas. Anak-anak jarang sekali terlihat melakukan permainan tim, seperti gobag sodor dan kawan-kawannya itu. Meskipun demikian, ada harapan menyelinap: ternyata di antara kepadatan rumah itu ada salah satu tanah bekas lantai rumah yang dibiarkan lapang oleh pemiliknya. Walaupun lokasinya kurang mudah diakses publik secara lebih luas karena letaknya benar-benar di jantung kampung, tempat ini kemudian menjadi tempat publik bagi lingkungan kecil di wilayah itu. Seperti ajakan Walikota Jogja, Herry Zudianto, pada suatu ketika di tahun 2007, sebaiknya memang satu wilayah, setidaknya setiap RW di kota Jogja, memiliki satu lahan publik yang bermanfaat bagi proses interaksi warga di sekitarnya. Mudah-mudahan tanah itu tidak semakin tergerus ditelan kebutuhan pemiliknya. Semoga!

 Jl. HOS Cokroaminoto di tahun ’70-an
Foto: Istimewa

Jl.HOS Cokroaminoto kini, tahun 2009
Foto: Utari Dewi Narwanti

Balai RK Kuncen di tahun ’70-an  
Foto: Istimewa

Balai RK Kuncen kini berubahmenjadi TK (RK) Kuncen, 2009
         Foto: Utari Dewi Narwanti

1 komentar:

  1. ada foto laine tdk wik?
    heheheh...aku mas supri , kakange ninuk

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails