10.11.09

where the good old movie (houses) dissapeared, and new movies blossom

Penulis: Elida Tamalagi
Domisili: Jogjakarta, DIY, Indonesia

saya rasa hari itu, sayalah orang yang paling kaya di manila. melebihi mereka yang kebanyakan minum di semua gala premier festival ini, ataupun yang dilamar untuk masuk ke festival berikutnya.

hari itu sudah ajaib karena dimulai dari minum kopi saya bersama ami, seorang oma kenes kelahiran 1954, lajang, pernah mengelola cafe yang menjadi tempat ngumpul seniman dan pekerja film, meminjamkan apartemennya ke teman dan pindah kembali ke rumah ibunya agar mereka berdua bisa saling merawat. perbicangan dengan ami berujung pada dia memberikan saya hadiah, magic stone. sebuah batu yang dihiasinya sendiri dengan glitter, bunga kering dan foto Jose Rizal, pahlawan kesusatraan Filipina. pengisi waktu luangnya.

ada telpon dari mark, teman dari festival musim lalu. dia hanya bertanya, apakah kamu ada di Market!Market! ? aku di Serendra. kesini yuk.

saya mengiyakan dan melepas ami untuk mengejar film berikutnya. Aktivitas ami sekarang adalah menonton film.

tidak ada yang aneh dengan permintaan ke Serendra. Saya dan Mark selalu minum white russian dan double johnny on the rock disana. tapi waktu melihat kostumnya yang ajaib, celana pendek cargo dan topi dan kaos oblong, dan satu orang macho nan rapi disebelah Mark, saya langsung mengendus ada yang tak beres. benar. Mark putus asa dan memutuskan untuk meminta saya main di satu scene di filmnya. peran saya, perempuan yang diperkosa. fuih, can’t complaint!

petualangan dimulai.mengepas kostum mbak kantoran, pelurusan rambut dan make up. semua kapster di salon lantai bawah mall ayala itu berusaha menarik perhatian saya dengan bahasa inggris yang dibuat tidak terdengar taglish karena tahu make over saya untuk main film. Mark senyum selama tiga jam, katanya : kalau saja mereka tahu apa peranmu, pasti mereka merasa tidak perlu bersaing hahaha
kami mengelilingi kota manila ke arah selatan dan barat daya, mencari daerah yang kumuh, tapi dengan lampu jalan yang memadai. beberapa kali take di dalam van, tak ada masalah. kami akhirnya melakukannya di ruasruas jalan kecil di kompleks Mall SM. pada pengambilan gambar terakhir, tibatiba Mark bilang,
cut ada polisi datang.
dan pecahlah tawa kami bertiga. lebih kaget lagi, ternyata para petugas keamanan SM sudah mengintip di kaca mobil van itu. sambil tertawatawa dan setengah telanjang, kami membuka pintu van untuk menunjukan kamera dan memberi keterangan bahwa kami hanya sedang buat film. kesalahan partner saya menyerahkan simnya, membuat kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di kantor polisi pasay. saat kami masuk kantor itu pertama kali, saya langsung mencium bahwa urusan akan segera beres. 1000 pesos will do him.mark juga membaca ini dan sinar nakal langsung lewat di matanya. jadilah kita membiarkan polisi itu bicara tentang violence against public space, obscene art dan lainlain karena dia bukan orang yang buta seni. sampai disini, dia menekankan,
i once a singer!
yeah rite,
kami semua menyambut dalam hati.
drama kantor polisi itu juga berakhir seru ketika ia meminta kartu identitas kami masingmasing untuk dicatat di buku besarnya. ketika melihat paspor saya, pak polisi langsung histeris
oh my god, sister! i don’t realize you are not filipino. we have the same skin and face, diba?
oh my god, you come all the way from indonesia here just for being raped?
can you say some tagalog word? perfect sister! god be with you
kami mengakhiri hari itu dengan menyantap inasal pork jam 4 pagi. saya mengecek ponsel, ada pesan dari vic bahwa janji kita ditunda jadi jam 7 pagi. untunglah, sebelumnya kami sepakat untuk mulai jam 6. mendengar itu, mark bertanya:
does vic cast you also?
haha polos sekali. saya bilang,
tidak, saya tidaklah sepopuler itu
belum
kata mark
not after me,
tito, partner saya menyambung genit. kami terbahak.
petualangan jam 7 pagi dimulai. vic membuka pintu mobil dan tertawa menanyakan cerita suting semalam. ada bong juga. sopir pribadi vic yang cinephilic. sebagai supir taksi, penghasilannya sebenarnya lebih besar. tapi berada di lokasi suting setiap waktu dan akses bebas ke festivalfestival film membuat bong memilih terus bersama vic. kami menjemput aped, kawan vic yang juga mengerjakan desain produksi dua film vic. saat sarapan, aped meminta saya memerinci bioskop seperti apa yang masuk kriteria saya. aped sudah membuat daftar hampir 50 lokasi bioskop di manila. mati Aku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails