10.11.09

Tak Ada Perang di Bumi Ken Arok

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur


Malang membuat saya kehilangan sinisme saya pada setiap kota yang biasanya saya datangi. Kota yang katanya wilayah penaklukkan pertama Ken Arok itu terlampau sederhana sekaligus misterius. Tapi Malang yang saya sambangi  bukan lagi ladang pertempuran terbuka. Arek-arek Malang jaman kiwari tinggal tertawa-tawa saja, nongkrong sepuasnya, tanpa perlu kudeta.

Awal Oktober lalu saya berkesempatan lagi singgah di Malang, kali ini seminggu penuh. Pikiran saya pun langsung melompat pada novel hebat Arok Dedes-nya Pramoedya Ananta Toer. Tumapel yang diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung bisa dikata adalah cikal-bakal Malang.

Sontak adrenalin saya berpacu untuk segera menguliti Malang hingga ke bijinya. Berbekal sepeda motor otomatis pinjaman dan memori yang mudah alpa tentang arah mata angin, mulailah saya untuk misi penting: menaklukkan Bumi Ken Arok.

Tentu saja saya gagal mendeteksi jejak-jejak pemberontakan Arok. Si pemberontak begundal yang muncul jadi pahlawan itu kini diabadikan menjadi salah satu nama pusat olahraga, Gelanggang Olahraga Ken Arok. Sementara nama Ken Dedes setahu saya dipakai jadi nama yayasan kesehatan yang juga menaungi sebuah akademi kebidanan.

Malang yang diberkahi dengan udara sejuk membikin kota ini jadi tempat istirahat orang-orang kota di akhir pekan. Tapi, jangan bayangkan Bandung yang padat dan riuh oleh factory outlet, distro, dan kafe-kafe. Malang ibarat sebuah hammock yang diikatkan pada dua batang pohon rimbun. Saya hanya tinggal selonjoran seharian menatapi langitnya yang abu-abu.

Langit Malang seperti hanya kenal dua warna, yaitu abu-abu dan hitam. Saya, yang selalu terbangun pagi hari dan disambut langit abu-abu, berpikir bahwa sebentar lagi hujan bakal turun. Ternyata hingga menjelang Maghrib pun si abu tetap menggantung sebelum digantikan hitam malam.

Arema

Dari seorang kawan saya mengoleksi banyak cerita tentang kota ini, salah satunya tentang geng Higam. Higam, singkatan dari Hidup Gembira Awet Muda, merupakan kumpulan muda-mudi entah seniman maupun pemusik yang  living their lives to the fullest, maksudnya full nongkrong, full mabuk, dan full juga berkarya. Salah satu lulusannya ialah Anto Baret yang sekarang lebih sering muncul di Bulungan, Jakarta.

Malang juga punya scene rock yang salah satunya melahirkan Ucok AKA. Saya menyesal tidak sempat menyusuri lorong-lorong tempat rock masih bergema kencang. Suatu hari mungkin.

Tapi dua cerita di atas bukan pengalaman saya. Kisah yang saya punya sendiri ialah mengitari Malang dari satu venue olahraga ke venue lainnya dan  menemukan semangat pemuda urakan Arok di dalam suporter-suporter klub sepak bola Arema.

Aremania-begitu suporter Arema disebut- singkatan dari Arek Malang. Mereka kosmopolit, ada di mana-mana baik dalam bentuk toko merchandise, umbul-umbul, hingga umpatan. Mereka muda, gesit, dan berbahaya kalau sudah ngumpul. Tapi mereka hanya membunyikan genderang perang kalau timnya bertemu Persebaya Surabaya saja, lagi-lagi karena alasan yang saya juga tidak begitu paham.

Orang Malang juga punya dialek yang unik, yang sering disebut Malangan. Saya mengibaratkan dialek mereka seperti Bahasa Inggris-nya orang Australia yang meluncur begitu rapat, cepat, hingga saya tidak bisa mendengar satu katapun yang mereka ucapkan.

Malam


Udara dingin Malang tidak membuat orang cepat-cepat sembunyi di balik selimut. Kalau malam, pedagang kaki lima mulai menyeruak seperti laron-laron. Ketimbang menyambangi restoran cepat saji berlambang M yang buka 24 jam, saya lebih suka memilih secara acak warung-warung temporer berlampu petromaks.

Beruntunglah saya sempat mengunjungi warung subuh, warung makan di Jalan Langsep yang justru kian hidup ketika subuh. Mata saya langsung berbinar melihat berbagai jenis makanan rumahan yang masih segar dari wajannya. Saya makin senang waktu melihat ada tempe goreng tebal yang masih hangat.

Makin subuh, warung justru makin penuh, juga oleh muda-mudi yang tampaknya baru pulang dugem. Rasanya lucu melihat campuran orang tua-muda mulai dari yang berbaju training hingga yang cukup gila karena hanya memakai gaun mini bertali spaghetti di udara sedingin itu. Bunyi ketukan sendok dan garpu dan  cekakak-cekikik seperti mengiringi suara-suara manusia berdialek Malangan. Saya  langsung jatuh cinta pada kota ini.

Akhirnya seminggu di Malang saya berhenti mencari sisa-sisa Arok. Cinta juga harus tetap realistis bukan? Sinisme saya rasanya mati kutu dibuat kota ini. Bahkan es krim berharga mahal dengan rasa standar di toko Oen tidak membuat saya merengut. Mal-mal yang tetap saja selalu penuh itu saya singgahi juga, pengendara motor yang hobi nyalip itu pun saya senyumi.

Malang era Arok memang bikin saya terpukau, tapi Malang 2009 yang mulai dikepung mesin dan bangunan beton itu yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana. Ternyata di Malang saya berubah jadi melankolis dan romantis. Walau hanya seminggu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails