10.11.09

Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil

Penulis: Mutaminah
Domisili: Bandung

           Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.

 11 tahun silam, ayah selalu memboncengku di sepeda kuning kesayangannya. Melenggang di antara kendaraan yang lalu lalang, tapi saat itu aku tak pernah khawatir, karena jalanan masih terasa sangat lengang. Udaranya pun sejuk bersahabat, membuatku nyaman meski duduk di boncengan sebuah sepeda tua yang keras. Tapi akan sangat berbeda keadaannya jika aku bandingkan dengan keadaan Bandung saat ini. Berdebu, kusam, dan bising oleh deru mesin kendaraan yang jumlahnya bagaikan bintang di langit, tak terhitung.
 Lagu favoritku saat itu yang selalu menyapaku riuh saat aku berlalu di jalanan, adalah cicit-cicit burung yang hinggap di ranting-ranting pohon yang rapuh. Bagiku, burung-burung itu adalah penyanyi handal yang selalu mampu membuat aku merasa damai. Sampai saat ini pun, aku masih tetap mengidolakan mereka, hanya saja kini nyanyian merdu mereka itu kalah oleh klakson-klakson yang melengking, ban-ban kendaraan yang berdecit, teredam oleh erangan mesin kendaraan. Sekarang aku tak bisa menikmati melodi itu setiap waktu. Kadang jika beruntung, aku bisa mendengar suara mereka sayup-sayup hanya pada pagi hari.
            Sering kami melewati sawah-sawah yang luas, ladang-ladang yang subur, dan kolam-kolam ikan pemancingan. Beberapa kali ayah memetikkan buah ceremai untukku. Meski hanya beberapa biji saja, tapi aku sangat senang karenanya. Tapi lagi-lagi kini semuanya hanya dapat ku kenang saja. Karena banyak dari area sawah dan ladang itu telah menjelma menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Gedung-gedung yang sangat angkuh bagiku. Perkantoran, Mall, supermarket, dan entah apa lagi. Nasib pohon ceremai baik hati yang dulu selalu ku nikmati buahnya pun tak kalah tragisnya, sekarang ikut menjadi korban keganasan manusia. Ditebang karena ada pelebaran jalan.
            Kadang kami beristirahat di sebuah pemakaman, dan selalu pemakaman yang sama. Ayah selalu bilang, bahwa suatu saat ayah atau bahkan aku dan seluruh orang yang hidup di dunia ini, akan menempati petak-petak itu, dan kita akan selalu menunggu orang untuk sekedar mengunjungi dan membersihkan makam kita dari rumput-rumput liar. Aku selalu menangis setiap kali ayah menceritakan hal itu kepadaku, aku takut. Ironisnya, sekarang di atas makam-makam itu berdiri perumahan real estate yang di setiap garasinya terparkir mobil-mobil mewah yang harganya selangit. Tak bisa lagi ku lihat petak-petak dari tanah dengan nisan di atasnya, rumah yang amat sangat sederhana, tempat peristirahatan terakhir kita nanti. Tak ada lagi pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sana selain kemewahan duniawi.
            Ayah baru mengajakku pulang setelah hari beranjak petang. Beliau tak pernah banyak bicara dalam perjalanan pulang. Beliau membiarkan aku menikmati matahari sore yang indah, seakan-akan tahu, bahwa saat nanti aku tak bisa merasakan pemandangan seindah ini, karena kota ini akan begitu usang terselimuti asap kendaraan yang berpolusi.
Memoriku akan tetap menyimpan hari-hari itu. Yang selalu ku ingat, kota ini dulu begitu rindang, asri dengan pepohonan dan bunga-bunga di setiap sudutnya, indah dan menawan. Tak heran jika dijuluki Kota Kembang. Tapi kini Bandung telah membusuk oleh sampah. Dilihat dari segi manapun, tentu saja itu bukan merupakan sesuatu yang bagus dan dapat dibanggakan.
            17 tahun usiaku ini. Hanya tinggal puing-puing kesombongan yang tersisa dari kota Bandung. Termakan oleh modernisasi yang telah merenggut kisah indah dalam hidupku. Andai waktu dapat ku putar kembali, akan sangat aku nikmati dan aku abadikan, potret siluet masa lalu kota Bandung, tempat tinggalku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails