3.10.09

analisis kediri (1)

Penulis: Ariningsun P Cinantya
Domisili: Taipei, Taiwan
Blog: http://cinantya.blogspot.com/

Yah, setelah hampir 5 bulan di kediri, kayaknya sudah saatnya saya cerita-cerita soal opini saya tentang kediri. Soal jalan-jalan Kediri-nya, aku lanjutin weekend ini ya. Weekend ini sih sepertinya ga akan ke luar kota.

Kediri sepertinya bertekad untuk menjadi kota dengan ZERO street crime. Gila ya? Waktu gue di singapore aja mereka cuma berobsesi untuk mencapai LOW crime rate (semua jenis kejahatan). Dan dimana-mana Polda singapore (heuheuheuheu... disebut apa sih? kaga tahu nih) masang spanduk "Low Crime Rate doens't mean Zero" or semacamnya deh. Lha ini? Kediri... bertekad untuk ZERO street crime.

Kita hargai saja tekad mereka, dan saya sebagai warga (mudah-mudahan temporary) di Kediri juga akan menyumbang usaha.

Tindakan zero street crime ini terutama sangat digalakkan di area pusat kota. Pusat kota di sini artinya di sekitar kantor walikota. Hm... jalan apa ya? Yang jelas, demi mencapai target mereka yang satu ini, hampir di setiap perempatan terdapat Pos Polisi. Memang ga semewah yang di Jakarta (seperti yang di area Salemba, ada yang make AC tuh... ck ck ck), tapi cukup lah. Seenggaknya, kalau lagi ada bapak-bapak pulisi di sana, orang-orang (terutama pengendara motor, dan bahkan abang tukang becak) jadi serem kalau melanggar peraturan lalu lintas.

Jumlah mobil juga ngga banyak, dan mungkin sekitar 15% dari mobil yang seliweran di dalam kota, adalah mobil dari area lain di jawa timur, seperti plat L, plat S, plat AE, plat P, dll. Thanks to my office, selama beberapa bulan kemarin banyak mobil plat B seliweran di Kediri. Banyak mobil-mobil lama, tapi jangan salah... mobil keluaran terbaru juga gak sedikit. Satu hal lagi, di kediri, mobil matic ga laku! Soalnya mobil tersebut pasti bakal sering dipake keluar kota, dan pake matic nyetir luar kota, kudu saingan sama bus.

Kembali ke kondisi lalu lintas. Yang gue suka banget dari lalu lintas kediri adalah lampu lalu lintasnya yang berfungsi dengan benar. Belum lagi aksesori penghitung waktunya (walaupun ada juga yang ngitungnya ngaco, masa masih angka 30 terus tiba-tiba lampunya kuning dan hijau?). Jam berapapun, lampu tetap beroperasi. Ngga kayak di Bandung, lewat jam 10 malem banyak yang di non-aktifin kalau bukan di pusat kota. heuheuheuheu. Udah gitu, habis lampu merah, lampu kuning dulu sekitar 2 detik, baru lampu hijau. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau mau ancang-ancang lebih gampang. Sayangnya, dasar dodol banget sih pengendara motor dan mobil di sini, lampu kuning baru nyala mereka udah tancap gas.

Nah... segitu dulu analisis kedirinya.

kalau sudah ke kediri, jangan lupa keduduk ya...

Tulisan ini di publikasikan ulang dari sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails