9.9.09

Catatan harian : Tentang suryanamaskara, matahari terbenam, langit terbalik (16-05-09)

Penulis : Tria Nin
Domisili : Solo & Boyolali
Blog : http://mimpikiri.multiply.com/ , http://mimpikiri.wordpress.com


Sore ini, saya bersama seorang teman perempuan berjalan ke barat menuju sebuah taman. Pintu coklat menyapa , dan kami pun memutuskan untuk ke kanan.Memasuki arena yang biasanya digunakan untuk pertunjukan seni di tempat terbuka. Kami berdiri sebentar menatap langit yang begitu putih bersih dan memutuskan untuk duduk di matras murahan yang kami bawa dari rumah.Di sebelah kanan, serombongan orang yang sedang melakukan pemotretan pre wedding, begitu riuh. Di sebelah kiri ada anak-anak kecil sedang berlarian. Dan di tempat duduk atas arena taman ada enam pasangan sedang berasyik masyuk. Ada yang berpelukan, ada yang berpoto-poto romantis, ada yang sedang berbincang-bincang, ada yang diam-diaman saja, dan ada yang ada ada saja.
Sore itu, kami berdua melakukan suryanamaskara , melakukan kombinasi gerakan asana ketika matahari akan terbenam, menyadari aliran napas, begitu sederhana. Entah sudah berapa kali kami melakukan suryanamaskara, keringat pun begitu riuh membasah. Kami pun beristirahat sebentar.Dan di sebelah kanan masih begitu gaduh dengan tertawa kencang dan sesekali berbisik, ada yang meliuk, ada yang merekam, diantara lalu lalang angin yang segar. Kami melanjutkan beryoga kembali, melakukan asana ringan sambil duduk dan dilanjutkan bermeditasi. Mata terpejam, duduk di atas matras murahan, di sekeliling begitu riuh, dan pikiran-pikiran berpesta. Begitu adanya , menyadari keriuhan. Entah berapa lama, kami tak tahu.

Pikiran-pikiran berpesta, menyadari begitu adanya.

Mata begitu hangat, membuka mata, melihat ke atas langit yang begitu putih. Nampaknya acara pemotretan di samping kami sudah usai.Suasana agak hening, tetapi beberapa pasangan yang beraktivitas di sekitar kami masih ada beberapa. Matahari begitu laki , kuat nan lembut berpamitan resap di sore ini. Sore yang riuh dan teduh. Kami melipat matras dan memutuskan untuk meditasi jalan. Saya dan teman saya yang perempuan berjalan kaki tanpa bicara dan menyadari langkah kaki berjalan, Menyusuri taman yang hijau dan beberapa orang sangat resah dan riuh dalam berbagai pergulatan kegiatan. Kaki berjalan, napas mengalir, sekeliling riuh, menyadari begitu adanya.

Di dekat kolam berwarna air hijau, di bawah pohon berusia senja. Kami duduk berdua.Kemudian terjadi perbincangan sore tentang kecamuknya pikiran. Kemudian diam, kemudian berdiri dan memutuskan untuk meditasi jalan kembali tanpa perbincangan apapun lagi.

Kami berhenti di dekat pohon , daun daun muram, dahan-dahan mengering, dan burung-burung pipit berpesta di tubuhnya. Mereka bertepuk tangan, bersuka cita. Pohon itu begitu cantik. Saya dan seorang teman yang perempuan berbaring lagi di atas matras murahan,mendongak kepala ke atas, hingga sekeliling terlihat terbalik, pohon di belakang menjadi begitu kecil dan terbalik, bangunan megah kota menjadi terbalik dan sangat mengecil, beberapa pasangan menjadi terbalik dan sangat mengecil, semuanya begitu mengecil di antara langit putih bersih yang sangat luas entah di sore ini.

Kami mengakhiri sore ini dengan entah, keluar taman dengan pelan dan beberapa lelaki iseng menggoda resah dan kami pun menyadari resahnya, berjalan kaki diantara mobil dan motor yang bersahutan gagap kalap.

Tulisan ini di posting ulang dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails