16.7.09

Pesta Pora Para Paria

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur

Semua kota punya 'anak tiri'-nya masing-masing. Mereka yang luput (atau diluputkan) dari kemilau kota yang terus menuntut mereka menjadi lebih menarik, lebih wangi, lebih konsumtif. Tapi, percayalah bahkan Surabaya yang selalu saya maki ini ternyata masih menyediakan ruang bagi paria-paria macam kami untuk berpesta.

Destinasi saya untuk menjelajahi kota selalu tidak jelas. Begitu juga pada akhir pekan 11 Juli lalu. Jalanan sudah kian menor dan memabukkan. Tapi justru saya dan kawan saya malah melangkahkan kaki di tempat yang lebih menor lagi : Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya!

Anda tahu Dunia Fantasi (Dufan)? Baiklah, THR seperti imitasinya. Model taman hiburan dengan aneka permainan. Hanya saja tingkat kengeriannya lebih masuk kategori 'siaga satu'. Maklum waktu naik rollercoaster-wannabe saya serasa naik bus Sumber Kencono dengan supir mabuk plus ngantuk dengan rem nyaris blong!

Kalau kata kawan saya, hanya dengan Rp 6.000 untuk satu wahana saja kami bisa menuju tapal batas antara kesenangan dan kematian (haha!). Yang jelas, empat belas penumpang belia mendarat dengan selamat tanpa protes. Termasuk kami yang berencana mencoba rollercoaster gila itu lagi. Suatu saat.

Bersama ratusan warga dari kota antah-berantah kami merayakan luapan adrenalin. Dengan biaya masuk THR Rp 10.000, mata dijejali kegembiraan liar yang tidak saya lihat di Time Zone. Di sini, anak-anak dengan logat Surabaya, Blitar, hingga Madura merengek-rengek minta naik komidi putar yang bikin pusing itu.

Ini memang liburan, dan Surabaya termasuk magnet yang menarik penduduk dari kabupaten/kota yang rindu hiburan. Atau mayoritas dari mereka tengah menghadiahi anaknya liburan seru karena nilai rapor memuaskan. Sebagai bagian dari promosi, THR memang memberi potongan untuk anak yang punya nilai rata-rata 7,5. Lucunya.

Mimpi kota anak desa

Entah kenapa semua ini begitu nyata buat saya. Lebih nyata dari jembatan terpanjang Suramadu, toko kopi favorit, atau mal-mal yang seakan berhasrat merampok saya. Semua warga THR yang berkumpul pekan lalu melupakan hiruk-pikuk kehidupan sejenak.

Tidak ada yang peduli suara SBY masih tertinggi, uang untuk tahun ajaran baru harus disiapkan, dan uang terkuras demi beberapa jam kesenangan di THR. THR seperti prozac untuk melupakan sedikit gilanya rutinitas.

Remaja-remaja tanggung yang saya lihat di THR dengan bangga mengimitasi gaya Charlie, vokalis ST 12 hingga Giring Nidji. Rambut miring tak beres dipadu dengan celana skinny hitam dan sepatu ala Converse. Setidaknya semua tampak bahagia, menjadi bagian dari 'mode besar' di kota yang juga besar.

Ini sebuah pesta yang mampu mereka biayai. Mimpi-mimpi para paria yang terhipnotis gebyar kota namun tak kuasa menguras lebih banyak isi kantong. Tapi kesenangan harusnya tidak mengenal kelas sosial, tidak dibedakan antara 'norak' dan 'berkelas'.
Meski dicap 'kampungan' oleh rekan sekantor karena menjajal THR, saya mulai menemukan oase lain di kota ini. Entahlah, ditemani kawan terbaik dan tahu petis seharga Rp 500, saya menemukan inilah Surabaya yang sebenarnya. Kota menor yang bermimpi jadi Jakarta, tapi gagal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails