27.7.09

Kampoeng Batik Laweyan, sebuah lorong dari masa kecilku….


Penulis: Nur Apriyanti
Domisili: Surabaya

Aku sudah puluhan tahun meninggalkan kota ini dan hidup di kota lain yang lebih besar. Namun, Solo, tetap menjadi tempat tujuan utama jika liburan sekolah anakku tiba, atau libur hari raya. Ia semakin megah, makin dipadati mall dan tentu saja, makin sibuk dibandingkan waktu aku kecil dahulu. Jika aku dulu bisa menyepeda ke SMP ku dengan melenggang ria, sekarang rasanya, aku tidak akan tega melepas anakku bersepeda menempuh rute yang sama dengan saingan lalu lintas kendaraan yang padat, seenaknya dan …. tidak mau mengalah.

Adabanyak yang berubah, dibandingkan 20 tahunan lalu waktu pertama kali kutinggalkan. Tapi tempat-tempat tertentu, sudut kota tertentu, tetap menyimpan ukiran kenangan yang sama. Masih ada getaran kenangan ketika melintas beberapa kelok jalanannya. Uh, aku hampir ketangkep Polantas disini, untung saja aku sempat kabur dengan vespa PX ku. Sudut yang lain
menggugah ingatanku sewaktu aku dibonceng ayahku dengan sepeda onthel, bertiga dengan adikku, membeli martabak di daerah Sriwedari di tengah kota. Itulah mungkin keunggulannya menjadi sebuah kota kelahiran. Ribuan mil pun kita pergi, ia tetap lekat di hati.

Jika aku diminta mengenang tempat mana yang paling lekat menjadi kenangan bermainku saat di SD, maka Kampung Laweyan-lah tempatnya. Kampung ini sejak dahulu banyak dihuni oleh
pengrajin batik. Banyak temanku SD yang ayah ibunya menjadi juragan batik. Mereka menempuh ilmu di sekolah yang sama denganku, hanya sekitar 300an meter dari kampung ini. Karena banyak temanku yang tinggal disini, otomatis sepulang sekolah, disinilah aku biasa menghabiskan waktu mainku. Biasanya dengan bersepeda menggunakan sepeda kebo besar milik ayahku.

Sudah cukup banyak perubahan yang dialami kampung ini sejak dahulu. Kebanyakan rumah masih punya style lama yang sama sekali tidak berubah sejak dahulu. Namun banyak juga
bangunan baru, biasanya berupa show room batik. Papan penunjuk arah banyak bertebaran di tiap gangnya untuk mempermudah wisatawan mencari tempat tujuannya. Ada papan penunjuk untuk beberapa perusahaan batik, tempat penjualan souvenir, warung makan, pengrajin
blangkon, sentra pembelajaran batik, bahkan rumah-rumah kuno. Balutan modernisasasi tercampur kental dengan peninggalan sejarah yang terabadikan.

Sekarang, kampung ini sudah menjadi kampung tujuan wisata yang cukup ramai dikunjungi turis lokal, terutama waktu weekend. Rumah seorang teman, bahkan sekarang sudah tersulap menjadi sebuah Museum Batik. Sebuah rumah kuno berpendopo luas, tempatku dulu sering bermain di sana sambil meminjam majalah ‘Hai’ koleksi temanku, sekarang sudah disulap menjadi 2 show room batik dengan menyekat bagian pendopo itu tepat di tengah ruangan. Beberapa teman kecilku, saat ini juga sudah menjadi juragan batik yang cukup terkenal di sana, meneruskan usaha orang tuanya.

Di hari-hari biasa, siang hari, kampung ini relatif sepi. Beberapa tukang parkir duduk di tepi jalan utamanya, kadang sambil terkantuk-kantuk karena tidak banyak kesibukan. Angin siang yang kering, dipadu sinar matahari tengah hari, adalah paduan yang sempurna untuk menikmati istirahat siang. Musim kemarau datang lebih lambat tahun ini. Mangsa bedhidhing, yang dikenali orang Jawa sebagai musim peralihan ke musim kemarau, baru datang di awal Juli. Angin terasa agak menggigilkan badan meski matahari menyapa dengan ramah. Aku mengenalinya dengan baik; pemandu musim yang setia. Ia mengantarku menganyam kenangan siang itu. Tiga puluh tahun, bukan waktu yang pendek. Beberapa kenangan masih tinggal, sebagian lain luruh bersama waktu.

Kenanganku yang tidak hilang akan kampung ini, tersisa utuh di sebuah lorong kecil, tempatku sering bersepeda berombongan dengan teman-temanku dan kemudian mampir di rumah seorang teman yang tinggal di lorong sempit itu. Di mulut gangnya yang sempit, ada tanjakan yang sekarang sudah dibuat lebih landai dibanding dulu sehingga lebih memudahkan untuk dinaiki. Dahulu aku butuh bantuan seorang teman untuk mendorong sepeda keboku dari belakang untuk melewati tanjakan itu. Rumah pertama dari mulut gang itulah rumah temanku, Indah. Keluarganya terdiri dari keluarga besar, mungkin sekitar 6 orang anak yang jarak lahirnya saling berdekatan. Rumah sederhana yang berhalaman luas, menjadi tempat singgah favoritku. Indah memiliki banyak buku bacaan di rumahnya yang berasal dari perpustakaan sekolah tempat ibunya mengajar. Entah kenapa, buku-buku bacaan itu dititipkan di situ. Buku favoritku adalah serial binatang yang diceritakan dalam kisah seperti manusia. Piko, si anjing laut, misalnya. Mengikuti satu per satu serinya selalu membangkitkan perasaan haru tersendiri
pada kehidupan binatang. Aku yakin, buku-buku ini sangat mewarnai bagaimana aku memperlakukan binatang saat ini. Mereka punya keluarga juga seperti kita; punya perasaan sedih dan bahagia. Punya naluri untuk menyelamatkan dari bahaya, membentuk keluarga dan melindungi keluarganya. Seringkali aku ikut menangis mengikuti kisah mereka yang susah payah menyelematakan diri dari tangkapan manusia dan mempertahankan diri untuk tetap
bisa hidup di alam bebas bersama kelompoknya.

Suatu hari aku pernah terhadang hujan waktu berniat pulang dari rumah Indah. Bahkan sampai Magribpun hujan belum mereda. Jamanku kecil, tentu saja, belum ada HP atau telepon umum seperti sekarang ini. Jadi aku tak bisa mengabarkan pada keluargaku di rumah bahwa aku baik-baik saja berada di rumah temanku, hanya menunggu waktu pulang sampai hujan reda. Bapakku pastilah sangat khawatir karena tidak biasanya aku pulang main selarut itu. Tapi aku belum diperkenakan pulang oleh mereka sekeluarga, takut aku menjadi sakit esok harinya terguyur hujan. Alhasil, aku mengikuti sholat magrib berjamaah di rumah mereka. Selesai sholat, masih dalam posisi duduk, bapaknya berputar badan menghadap anak-anak yang menjadi makmumnya dan satu per satu anaknya mencium tangan beliau. Ritual inilah yang kemudian aku tiru di rumahku; ditiru juga oleh adik-adikku; dan kuajarkan sekarang pada anakku.

Lorong itu masih sama sepinya seperti dulu. Dinding-dinding pembangunnya, bahkan terkesan semakin tua tak terawat. Pas di tikungan kecilnya, ada pos ronda yang tak lagi bisa diduduki
karena sekarang dipagari bilah-bilah bambu yang disilang-silangkan. Aku dulu tertawa-tawa dengan temanku, duduk bercerita di sana. Mana pernah kami berpikir tentang lapar di tengah waktu bermain itu. Uang jajan kami sangat pas-pasan, jadi memang hanya cukup untuk membeli jajanan saat di sekolah. Lebih sering kami bersepeda bersama tanpa ada yang membawa uang sama sekali; sangat berbeda dengan anak-anak kecil jaman sekarang. Tapi kemanapun sepeda kami melaju, kami selalu riang gembira. Adalah suatu ‘keajaiban kecil’ apabila ada teman yang mau membelikan kami makanan ringan. Es mambo, rambak, kadang kala kami dapatkan secara gratis dari traktiran seorang teman yang cukup kaya; ayah ibunya pengusaha batik yang sukses. Namun kebanyakan hari bermain kami, terlewat tanpa makanan
camilan apapun. Oleh karena itu, jika kami singgah di rumah seorang teman dan ibunya berbaik hati menyediakan minuman teh atau sirup bagi kami, tentu
saja kami terima dengan rasa syukur yang dalam.

Karena banyak temanku yang ayah ibunya menjadi pengrajin batik, maka kami juga mempunyai satu hobi yang unik : mengumpulkan tiket batik. Tiket, demikian kami biasa menyebutnya, adalah label kertas yang ditempel di atas kain batik yang sudah terlipat rapi dan siap dipasarkan. Besar dan bentuknya bervariasi; tapi biasanya tak lebih besar dari 3 x 5 cm. Pada lembaran tiket itu ada logo, nama perusahaan batik serta alamatnya. Banyak teman membawa tiket ke sekolah, masih dalam bentuk gepokan rapi yang baru diambil dari tempat percetakan. Masih lengket antara tiket satu dengan yang dibawahnya, sehingga jika kita mengambil salah satu lembarannya pastilah akan menimbulkan bunyi khas yang berkeretekan.
Tiket batik, bisa menjadi sarana untuk mendapatkan penerimaan kelompok bermain kami. Siapa yang membawa tiket yang cantik dan besar, biasanya segera akan diserbu oleh teman lain yang meminta. Mereka akan sangat menikmati waktu membagi-bagikan ini, karena teman-teman yang lain akan berusaha memberikan rayuan terbaiknya agar mendapatkan banyak pemberian. Teman yang murah hati, akan membagi tiket itu sampai titik darah penghabisan. Namun yang pelit, hanya akan membaginya pada anggota ‘gang’ nya
dan menyimpan banyak sisanya untuk dirinya sendiri, untuk dipamerkan pada teman lain bahwa ia memiliki sesuatu yang mereka idam-idamkan. Ada beberapa teman yang sengaja menyebar gepokan tiket tadi di tengah ruang kelas saat istirahat, sambil berdiri di atas
bangku belajar. Anak-anak yang lain (mayoritas murid perempuan) akan dengan histeris memperebutkannya. Setelah tiket didapat, kami akan menyimpannya di wadah khusus. Saling bertukar koleksi, atau membuat tiket tsb menjadi koin penukar jika kami melakukan acara pasaran (permainan jual beli) adalah hal-hal kami lakukan dengan tiket itu. Sampai aku sekolah di SMA, masih kudapati aneka ragam tiket itu dalam wadah koleksiku. Ah, kerjaan dari ‘maling-maling kecil’, batinku saat ini. Kebanyakan teman mendapatkan tiket itu secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanan orang tua mereka. Seringkali mereka mengambil dalam jumlah banyak, tanpa permisi. Aku bisa membayangkan sekarang, orang tua mereka pastilah akan terkaget-kaget mendapati persediaan tiket yang cepat habis. Tak jarang, acara membagi-bagikan tiket ini juga bisa menjadi ajang perselisihan antar teman. Yang tidak kebagian, akan berbalik membenci teman si pembawa tiket itu. Tapi dasar anak-anak, hal ini akan cepat terlupa saat kami bermain lain hari.

Dahulu rumah-rumah kuno di kampung ini, menjadi bagian dari aktivitasku sehari-hari. Sekarang banyak yang menjadi tontonan wisata yang menarik. Dari sebuah kampung kecil
yang penuh kenangan, berganti wajah menjadi kampung wisata belanja yang menjadi ikon kebanggaan kota. Tapi kenangan itu tidak pernah pergi dari benakku. Masa kecilku, teman-temanku, pengalamanku survival mencapai eksistensi diri dalam kelompok bermainku, terpateri rapi dalam setiap lorongnya. Aku hanya bisa bercerita pada anakku, bahwa aku dulu pernah membaca buku-buku yang indah tentang kehidupan binatang, namun tak bisa mencarikan terbitan buku yang sama di toko buku saat ini. Aku juga mengajaknya melewati lorong kecil yang paling kucinta, menunjukkan padanya bahwa ibunya dahulu sangat menyukai duduk bercengkerama di pos hansip yang sudah tak bisa ditempati itu. Menunjukkan sungai favorit tempat teman-temanku senang berenang di arusnya; langgar (mushola) dulu tempatku belajar mengaji di sore hari. Kenanganku memang tak akan bisa kuwariskan dalam ingatannya. Namun kuharap, ia juga akan mau berbagi pengalaman masa kecilnya, pada anak-anaknya nanti…

(diselesaikan, 16 Juli 2009, 21: 54)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails