23.6.09

Tentang Tremor: Aku Mengetuk dan …



Penulis: Mira Asriningtya
Domisili: Yogyakarta
Blog: http://dreamiy.multiply.com http://thepicnicgirl.blogspot.com http://cupshop.multiply.com


Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth
.....
(Robert Frost)

*****
Pada langkah pertamaku memasuki halaman itu, aku mengalami tremor aneh di bagian hati yang lama tidak tergetar. Sakit. Beberapa kali terjadi sebelum memasuki yayasan seni itu. Perasaan yang pernah disebut tidak bernama. Aku tidak berani berharap dan menyebutnya takdir. Mungkin aku hanya cemas.
*****

Sesampainya di sana, aku segera mencari letak kamar mandi. Seseorang pernah memberitahu bahwa agar kita merasa nyaman dengan suatu tempat, pertama-tama temukan letak kamar mandinya. Aneh, tapi itu lah yang aku lakukan di tengah kecemasanku.

Berikutnya, aku mendapati diriku duduk dengan memegang daftar nama peserta. Ada namaku dan nama seniman-seniman yang kemudian kuketahui lebih ingin disebut sebagai pemusik. Aku mulai semakin bersemangat dan berkenalan dengan banyak orang baru.

*****

Aku semakin merasakan betapa komunalnya Jogja ketika mendapati semua orang di sana saling mengenal dan menanyakan hal yang nyaris sama: “Dari komunitas mana?”, begitulah kira-kira.. Saat itu aku selalu menjawab ‘Bukan dari mana-mana’. ‘Individu?’, tanya mereka lagi. ‘Ya..’, jawabku.

Lalu aku ingat, di sana, aku adalah ‘lainnya’.

*****

Tapi aku terlalu bersemangat untuk menjadi ragu. Aku makin merasa ‘nothing to lose’. Aku tidak berani berharap untuk terpilih menjadi satu dari sepuluh orang yang akan bekerja di sana setahun ke depan; yang aku inginkan saat itu hanyalah menambah teman, mencari referensi baru untuk obrolan, dan mengungkapkan pikiranku kepada mereka yang bukan ‘lainnya’- dengan bonus: bercakap-cakap langsung dengan mereka yang selama ini aku kagumi, syukur-syukur namaku bisa diingat. Just like a fun camp!

*****

Kegiatan di hari pertama berkisar antara permainan perkenalan dan keakraban. Selanjutnya kami menghabiskan sisa hari dengan mendefinisikan ‘seni’. Bukan hal yang mudah untuk mendefinisikannya, berbagai debat kami lewatkan dan hal itu cukup melelahkan lahir batin.

Hari itu juga kami membuat refleksi mengenai kegiatan berkesenian selama ini dan manfaatnya bagi kami. Hmm.. lagi-lagi, aku ‘kan bukan seniman.. tapi bila bermain alat musik, membuat slideshow, diorama, menikmati seni, bahkan memasak atau apapun yang merupakan ungkapan ekspresi diri yang diungkapkan dengan indah merupakan bagian dari aktifitas seni, mungkin aku tahu betapa seni membuatku belajar, menghargai tiap detil, menikmati keindahan, dan meningkatkan rasa. Kalau itu termasuk berkesenian, berarti memang seni juga milik masyarakat awam yang ‘lainnya’, seperti aku. Tapi bila berkesenian berarti harus pentas, pameran, bergabung dalam komunitas, atau bersekolah di tempat tertentu- setidaknya aku sudah mengungkapkan poin pentingnya pada awal kalimatku, ‘Saya bukan seniman, tapi..’

Hari berikutnya, aku mulai lebih santai, tapi tremor aneh itu kembali merayapiku beberapa meter sebelum sampai di yayasan seni. Pertanyaan tentang komunitas kembali menghujaniku di hari ke-dua ini. Kali ini aku tahu bahwa LSM tempatku bekerja selama ini bisa juga dibilang komunitas, bahkan mbak Indie mengusulkan untuk menyebut trulyjogja.com sebagai komunitasku. Ah, ya.. setidaknya kali ini beberapa dari mereka menyebutkan nama-nama yang sama-sama kami kenal. Ha! Itu lah komunalnya Jogja!

*****

Hari-hari berikutnya, kami belajar sambil bermain. Menciptakan bebunyian, bermain peran, belajar komunikasi, dan lain sebagainya. Di atas semuanya, yang paling menyenangkan adalah sesi istirahat yang memungkinkanku bercakap-cakap dengan banyak orang baru. Bahkan ada satu pagi ketika aku membahas proses bermusik seorang pemimpin pertunjukan yang satu acaranya pernah kutulis disini- langsung dengan beliaunya. Aku merasa seperti seorang fans yang ketiban durian runtuh dan dipersilakan ikut dalam fun camp bersama artis favoritku! Hahaha..

*****

Percakapan-percakapan beranekaragam itu lah yang membuatku sedikit sedih ketika kami harus berpisah di hari ke-empat. Seperti kata mas Djaduk, “Di sini adalah perpustakaan yang menawarkan banyak pengetahuan baru”. Ya, dan aku masih ingin membaca di sana.

Saat itu aku memberanikan diri untuk sedikit berharap. Aku mengetuk pintu gerbangnya, seseorang membuka pintu- lalu membiarkanku bermain di halamannya. Kali ini aku menunggu di depan pintu rumahnya dan sedikit berharap untuk dibiarkan masuk.

*****

Beberapa hari kemudian, tremor aneh kembali mendatangiku. Aku membuka pesan-pesan baru yang tersimpan rapi hari itu. Ada sebuah pesan dari seorang yang sama dengan yang membiarkanku memasuki halaman itu- mempersilakanku masuk ke rumahnya. Ada sepuluh nama di sana, kali ini aku bukan ‘lainnya’. Namaku tertulis di nomor sembilan- nomor keberuntunganku. Ah..beruntung sekali! Setidaknya setahun ke depan aku sudah mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan.

Kemudian mengenai tremor itu.. walaupun sekarang aku masih menyebutnya perasaan yang tidak bernama, setidaknya aku mulai bisa memetakan polanya. Perasaan itu timbul ketika aku bertemu dengan jalan yang layak aku pilih, seperti salah satu keputusan terbaikku di hari laut dan bintang-bintang, beberapa tahun yang lalu. Semoga kali ini keputusanku sama baiknya- dan setidaknya, aku menikmatinya.. walaupun sedikit menyimpang.

*****

tulisan ini pernah diterbitkan di sini

p.s: all photo in this and previous blog entry are credited to mas Anton Asmonodento (http://antonguitar.multiply.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails