17.6.09

Surabaya, Sebuah Makian yang Lain...

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur

Hampir setiap hari saya mencaci-maki seisi dunia, juga begundal dengan raungan mesin bermotor di kota ini. Tapi Surabaya, kota dengan sembilan matahari ini, menyodorkan keajaiban yang lain. Ini mungkin yang harus dibayar seorang pejalan jauh manapun: indahnya perjalanan dengan waktu-waktu yang terus memenjara.

Surabaya, 9 Juni 2009. Sudah sepuluh bulan sejak kedatangan saya pertama kali ke kota di Provinsi Jawa Timur ini. Atas nama sebuah vocatio alias panggilan di sebuah media, saya ditahbiskan menjadi prajurit yang siap dikirim ke medan manapun. Saya hanya tidak menyangka, medan perangnya begitu berat.

Surabaya sebetulnya persinggahan ketiga selama dua tahun menjadi ‘pengembara’. Enam bulan di Jakarta berlanjut ke Yogyakarta yang tak lagi berhati nyaman. Ketiganya bagi saya punya kesamaan, lalu lintas yang karut-marut dan tentu jagoan bermotor yang selalu kesetanan. Ah ya, setelah sepuluh bulan, saya pun salah satu dari mereka.

Kalau perbedaan? Wah, ini cukup membikin frustasi. Sempat kuliah dan hidup di Yogyakarta hampir enam tahun membuat saya membanding-bandingkannya dengan Surabaya. Mulai dari acara kebudayaan, acara musik, diskusi menyegarkan, dan angkringan yang saya rindukan, tidak terpuaskan di sini.
Pentas teater teramat minim. Pementasan terakhir yang saya lihat (itupun karena tugas) adalah ‘Miss Kadaluwarsa” yang dihelat di gedung megah dengan penonton bergaun dan berjas dan tiket ratusan ribu. Lalu, saya membayangkan pertunjukkan teater yang saya saksikan di Yogyakarta dengan penonton bersandal jepit.

Setidaknya Jakarta punya Taman Ismail Marzuki dan kantong-kantong kebudayaan urban yang menggeliat. Di sini, mal-mal mengambil kasta tertinggi. Kalau saya tidak salah hitung, ada enam mal yang menjadi magnet penduduk Surabaya baik untuk makan, belanja, bersosialisasi, ngopi-ngopi, sekaligus tempat dugem.

Bahkan seorang sopir taksi yang mengantar saya ke bandara bertanya. “Sampeyan tau mal-mal di sini gak? Orang-orang kalau ke sini tanyanya mal.”

Perempuan dan warung kopi

Persoalan lain ialah tempat nongkrong. Yang saya maksud nongkrong bukan selalu coffee shop sejuk sambil hot spotan gratis. Saya rindu angkringan tempat saya biasa ngopi sendirian sambil sedikit bercanda dengan manusia-manusia anonim yang sama-sama menikmati sore, malam, hingga subuh.

Di Surabaya, nongkrong seperti di angkringan dikenal dengan sebutan cangkrukan. Warung tenda beratap terpal yang berdiri di tepi jalan dengan menu mie rebus, gorengan, dan minuman hangat. Hanya saja cangkrukan seakan mengenal jender.

Beberapa kali saya dan kawan perempuan memutuskan ngopi sambil ngobrol di sebuah warung kopi. Ketika sedang asyik bercerita, seorang pria paruh baya mendekati dengan senyum menggoda dan bertanya hal-hal yang membuat saya ingin menuangkan kopi panas ke mukanya.
Barulah dari penjaga warung, kami mendapat sedikit bocoran. Si penjaga warung memetakan tiga jenis perempuan yang kerap berada di warung kopi semacam itu. Pertama, yang memang hanya nongkrong. Kedua, yang bisa disentuh tapi tidak bisa ‘dipakai’. Ketiga, bisa disentuh dan ‘dipakai’.

Ketika mengitari kota malam-malam, saya pun menyadari warung kopi di pinggir jalan lebih banyak diisi kaum adam yang dengan bebas menyesap rokok tanpa harus dinilai dan dicurigai. Untuk pertama kalinya, saya iri pada privilese yang dimiliki pria.

Bilang saja ‘Jancukkk!’
Saya tidak bermaksud kasar. Tapi coba perhatikan makian khas setiap daerah yang bukan hanya berhasil melukai ego tetap juga merekatkan pertemanan. Di Bandung, makian anjing (maaf) ‘dihaluskan’ menjadi anjjriit. Saking ‘halusnya’ adik laki-laki saya selalu menyisipkan kata itu di setiap kalimat yang dia ucapkan.

Kalau di Yogyakarta, varian makian bisa asu (anjing), matamu, bajigur (bajingan), basuki (bajingan asu ki). Dengan teman-teman yang sudah akrab, akhiran ‘su-kependekan dari asu- bukan bertujuan sebagai pisau untuk menyakiti.

Di Surabaya, makian khasnya ialah ‘jancuk’ yang sering dihaluskan jadi diancuk, diamput, jamput, jangkrik. Menurut kawan saya, jancuk awalnya berasal dari encuk yang artinya persetubuhan alias fuck dalam Bahasa Inggris. Makian ini ‘lahir’ dari kelas bawah Surabaya sebagai penegas identitas arek.

Tapi jujur saja, sepuluh bulan di kota ini saya belum mengenal apa sebetulnya kultur arek. Bahkan seorang pemuda berusia 24 kelahiran Surabaya saja meminta maaf karena tidak bisa menjelaskannya pada saya. Saya juga belum bisa menjelaskan apakah kultur arek juga diadopsi oleh masyarakat menengah dan kelas atas. Yah, saya masih belajar.

Sepakbola, pertaruhan identitas

Kultur arek ini yang kerap dianggap warna dari perjuangan para bonek klub Persebaya Surabaya yang memang supernekat. Seorang senior saya sempat bercerita betapa kultur Surabaya dan kultur Malang begitu berbeda.

Orang Malang menyebut diri mereka arema singkatan dari arek malang. Di Malang, orang membuat lingo-nya sendiri dengan cara membaca kata secara terbalik. Arek Malang pun diubah menjadi Kera Ngalam. Perbenturan paling seru antara kultur Suroboyoan dengan Malangan kentara pada sepakbola. Surabaya punya Persebaya, sedangkan Malang punya Persema.

Kedua klub sepakbola pelat merah ini sama-sama berada di Divisi Utama Liga Indonesia. Rivalitas sengit bukan hanya membakar jajaran pemain, namun lebih-lebih supoter yang menggila dan membawa petasan ke dalam stadion. Darah pernah mengalir akibat perseteruan demi sebuah identitas yang abstrak.

Di penghujung musim kompetisi 2008/2009, perburuan ke puncak klasemen makin panas. Persebaya yang jadi raja klasemen di putaran pertama justru terjungkal di putaran kedua. Laga terakhir Persebaya melawan Persema yang berlangsung 16 April menjadi momentum bagi Persema melaju ke puncak. Begitulah. Di Surabaya, sepakbola adalah darah yang membuat orang-orang kembali bergairah juga marah.

Senja penawar marah
Tapi saya percaya semua kota di dunia punya lorong gelap sekaligus surganya. Di Surabaya, marah dan penat itu pelan-pelan mereda waktu senja turun. Saya tidak bohong, tapi Surabaya merupakan satu kota yang memiliki senja terindah.

Untuk menikmati sore, warga Surabaya beruntung memiliki taman-taman kota yang bersih dan terawat. Beberapa di antaranya, Taman Bungkul, Taman Flora, Taman Surya, Taman Apsari. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah dalangnya. Perempuan satu ini berhasil menghijaukan Surabaya dan menghidupkan kembali taman kota.

Taman Bungkul yang selalu padat di malam hari seperti oase setelah seharian menikmati Surabaya yang terus-terusan menderu. Melewati deretan pepohonan di kawasan ini, saya seperti berada di sebuah sore yang magis di dalam puisi Pablo Neruda.

Sama halnya ketika berhenti sejenak di pinggiran Kali Jagir sambil melihat aktivitas pengayuh rakit (gethek) yang masih saja bertahan hidup. Di antara mesin-mesin yang serba bergegas di kota ini, menyenangkan rasanya melihat masih ada yang asyik dalam gerak lambat.
Saya memang belum mengalami banyak. Baru saja sepuluh bulan dan masih memendam selaksa makian juga keterkaguman. Mungkin inilah keajaiban kota ini. Akhirnya saya hanya bisa bilang, I dont’t like this city, but I can live in this city.

2 komentar:

  1. saya sangat terkesan dengan tulisan ini. andai saya bisa mengenal lebih dekat sang empunya. :)

    -henri saputro-

    BalasHapus
  2. Semoga berkenan untuk dibaca, kiranya bisa sedikit memberi pencerahan...
    Terima Kasih.
    http://kenkamandaka.blogspot.com/2015/04/asal-usul-arek-malang-dan-surabaya.html

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails