17.6.09

Pulang

Penulis: Anggi Hafiz Al Hakam
Domisili: Cimahi, Jawa Barat

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu” Kla Project, Yogyakarta


Setiap mau pulang ke Cimahi via Bandung, memang benar lirik lagu diatas. Ada setangkup haru dalam rindu yang berkelebat. Aku dapat melihatnya berkejaran sepanjang jalan tol yang membentang dari Jakarta-Cikampek, turun naiknya ruas Cipularang, hingga datarnya ruas Padalarang-Cileunyi yang berujung di Pintu Tol Pasir Koja. Perasaan itu begitu megah terasa. Perasaan itu kian terbawa dalam riuh rendah mesin Hino Primajasa yang terus mengerang sepanjang perjalanan. Ada sesuatu yang kembali.

Aku selalu datang di Bandung setiap Jum’at malam berada di waktu dhuhanya. Malam masih perawan dan belum terlalu tinggi. Tapi malam tetap saja masih gelap. Aku lanjutkan perjalanan pulang ini dengan menaiki angkot (angkutan kota) Cimahi – Term. Leuwi Panjang yang sudah mengantri di pantat Hino Primajasa. Menunggu kedatanganku bersama penumpang lainnya.

Ketika penumpang angkot sudah penuh, perjalanan kembali dilanjutkan melintasi perempatan Pasir Koja yang selalu terendam air setinggi 40-50 cm setiap kali hujan besar turun disitu. Kemudian, belok kiri ke arah Holis atau Bunderan Jl. Jenderal Sudirman. Setibanya di Bunderan, aku harus belok kiri ke arah Pal Tiga atau Cimahi. Kalau kau lurus dari situ kau menuju Jalan Elang, dimana terdapat Terminal Elang (terminal bayangan) tempat berkumpulnya bis kota DAMRI jalur 1 Cicaheum – Cibeureum AC/Ekonomi dan jalur 6 Elang – Jatinangor Patas via Tol/via Cibiru.

Yang menarik, jalur itu bagaikan jalan raya di Amerika sana. Jalan Elang yang membentang tak lebih dari satu kilometer itu memiliki jalur yang berlawanan dengan jalur di Indonesia pada umumnya. Yang biasa di kanan, ada di kiri. Begitupun sebaliknya. Itulah yang aku suka. Aku kenal sekali daerah itu. Kurang lebih 4 tahun aku selalu menaiki bis kota favorit, DAMRI jalur 6, Elang – Jatinangor via Tol, satu-satunya angkutan antar kota, antar kecamatan untuk menuju kampus Unpad dibelahan bumi Jatinangor.

Aku akan mengajakmu jalan-jalan kesana, tapi aku harus menyelesaikan ceritaku dulu. Setelah belok kiri ke arah Pal 3 itu akan banyak angkutan kau temui. Macam-macam warnanya. Aku bisa turun disitu dan ganti angkot. Pilihannya ada dua, Si Hijau Cijerah –Sederhana atau Si Merah Elang-Melong Asih. Keduanya sama saja dari segi ongkosnya. Namun, Si Hijau mengambil rute yang kelewat panjang karena harus melewati pusat kota Cijerah. Tapi, aku lebih menyukai naik si Hijau ini walau harus sedikit lebih lama menahan rindu. Justru karena aku ingin menikmati kembali saat-saat dulu waktu masih sekolah. Kisah perjalananku tidak lepas dari Si Hijau ini.

Sesampainya di Blok 4, aku berhenti sejenak di gerobak pedagang Bubur Kacang Hijau dan Ketan Hitam khas Madura. Sudah sekitar 2 tahun tukang dagang itu ada disitu. Disitu juga aku dan Bapak pernah bicara empat mata tentang sebuah hal. Aku sudah lupa tentang hal itu. Namun, aku tidak akan pernah lupa sensasi rasanya. Disajikan dalam mangkuk kecil dengan tambahan kuah santan yang manis seharga Rp. 2000. Lumayan untuk menambal perut apalagi kalau cuaca Bandung dan sekitarnya sedang diselimuti malam yang dingin.

Melanjutkan perjalanan, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan. Ada ojek, becak, atau angkot. Tapi karena sudah malam yang ada tinggal ojek atau becak. Aku tidak pernah memilih satu dari mereka. Aku lebih baik jalan kaki saja. Lagipula tidak terlalu jauh. Aku bisa rasakan denyut perubahan itu sepanjang perjalanan melalui gerbang Pharmindo. Tanah lapang itu kini telah jadi ruko yang berjajar. Ada apotik, studio band, salon, restoran, warnet, dan beberapa masih kosong tidak terisi. Begitupun komplek real estate yang berada didepannya. Satu dari penduduknya membuka warung jajan sehingga komplek itu terasa lebih accessible. Bayangkan, sekitar3-4 tahun yang lalu pengelola komplek menerapkan system keamanan yang sangat ketat. Bahkan, untuk sekedar bermain sepeda pun tidak boleh. Apakah gerangan yang telah terjadi dengan masyarakat disana? Apakah ketakutan dan privasi telah menjadi suatu hal yang mahal?.

Berjalan kaki tentu akan membuat perutku semakin lapar. Energi yang dihasilkan dari semangkuk kecil bubur kacang hijau pun rasanya belum cukup. Namun, aku selalu sabar untuk terus berjalan melewati gang sempit jalan pintas satu-satunya. Tak lama kemudian, terpampanglah “Jl. Agastya VI Cimahi 40534” dengan message tambahan dari sponsor: “Hati-hati banyak anak kecil”. Pesan tambahan itu seperti sudah menjadi budaya bagi penghuni sebuah komplek perumahan. Tujuannya adalah memperingatkan pengendara agar berhati-hati. Tapi, pernahkah terpikir olehmu bila suatu saat pesan itu bisa saja diganti jadi begini: “Anak-anak dilarang main disini.” Untuk komplek perumahan dengan system blok dan jalan yang lebarnya hanya 5 meter itu aku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Kecuali, dengan satu syarat bahwa penghuni jalan tersebut semua adalah kakek-kakek dan nenek-nenek.

Terus berjalan, hingga terlihat pintu pagar berwarna orange dengan pohon mangga yang menutupi tiang listrik. Itulah rumahku. Dari jauh kau bisa dengar suara pompa akuarium yang tetap menggema dalam keheningan malam. Setelah kau membuka pagar, mungkin juga kau akan temui seekor kucing yang akan langsung melompat dari tidurnya dan menunggu di depan pintu masuk. Oh ya, bila kau temui cahaya terang di sekitar teras rumahku yang tipe 36 itu kau akan jumpai Arwana Irian memberi salam selamat datang padamu. Tentu tidak dengan gaya yang seperti Tugu Selamat Datang yang menyambutmu di ibukota. Atau bahkan mengikuti gaya Tukul di Bukan Empat Mata. Ia hanya akan melirik padamu saja.

Aku mengucap salam dan membuka pintu masuk. Kucing tadi mendahuluiku sambil berteriak didalam. Ahh… lega hati ini bisa bertemu kembali dengan Ibu, Bapak, dan Adikku yang satu-satunya itu. Ada satu lagi kebiasaan yang belum bisa kutinggalkan. Sehabis cium tangan, aku selalu membuka tudung saji meja makan dan melihat ada menu apa. Hari ini, nampaknya tidak sesuai harapanku. Hanya ada sayur saja. Tapi itu sudah cukup bagiku. Aku tidak pernah berharap Ibu akan memasak menu spesial di hari kedatanganku. Aku sudah tahu. Esok pagi, Ibu akan membuatkan tumis capcay kesukaanku untuk sarapan.

Kelapa Gading, Jakarta. 26 Mei 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails