3.6.09

Langit kota urban

Penulis: Mudin
Domisili: Jakarta
blog: http://poenyaem.multiply.com/

Beberapa hari ini, saya membiasakan berjalan kaki dari tempat kost menuju Cikal. Kebetulan jaraknya tidak jauh. Hanya saja karena sudah dimanjakan dengan kendaraan bermotor, awalnya saya merasa lelah sekali untuk menempuh.

Sebagai pejalan kaki Jakarta, sudah pasti tidak ada yang patut dibanggakan. Trotoar dipersempit oleh penjual bunga, diserobot pula oleh pengendara motor, kadang-kadang gerobak pedagang ikut-ikutan mampir. Sementara di samping saya suara klakson bersaut-sautan dari mobil ke mobil, bus ke bus, dan motor ke motor. Saya bersyukur MP3 Player ditemukan untuk mengalihkan suara itu semua. Walau menurut kabar, seharusnya saat berjalan di jalan raya benda itu sebaiknya tidak digunakan. Tapi mudah-mudahan di Jakarta itu tidak berlaku. Bukankah orang Indonesia selalu punya cara lain untuk memperlakukan sesuatu yang datang dari luar?

Sekali-kali, karena penat dengan kanan kiri jalan, saya memandang langit. Saya jadi ingat waktu saya kuliah dulu. Kebetulan tempat kuliah saya yaitu Jatinangor, meski disebut Bandung, namun terletak di paling ujung sebelah timur kota bunga ini. Bisa dikatakan masih kampung atau kota kaget. Saya selalu bilang ke kawan-kawan saya bahwa salahsatu yang membuat saya kangen dengan Jatinangor adalah langitnya. Tentu saja dari mereka pasti cuma tersenyum meledek.

Langit Jatinangor itu biru seperti kembaran laut. Pagi-pagi cahaya matahari membuat birunya nampak berkilau. Siang-siang birunya menjadi alas tempat awan-awan berganti bentuk. Sore-sore birunya meneduhkan perjalanan. Dan malam-malam birunya membuat bulan dan bintang seperti bisa dipetik.

Tapi sejak di Jakarta, saya tidak pernah menikmati langit seperti ini lagi. Saya berangkat pagi-pagi, main siang-siang, keluar sore-sore, atau pulang malam-malam. Langit Jakarta warnanya tak pernah biru. Kadang ia abu-abu, kadang hitam pekat, dan kadang merah kusam. Mungkin beginilah sebuah kota urban. Semua harus menjadi multikultur. Bahasanya, warna kulitnya, gaya hidupnya, model rumahnya, termasuk juga warna langitnya. Mudah-mudahan dugaan saya benar. Namun, saya tidak tahu apakah saya akan merindukan langit Jakarta ini?


Tulisan ini di publikasikan ulang dari blog penulis. Sumber tautan klik di sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails