23.6.09

Interrupted J.A.K.A.R.T.A

Penulis: Qashiratu Taqarrabie
Domisili: DKI Jakarta
Blog: www.taqarrabie.blogspot.com


Gue lahir, besar dan tinggal di Ibukota. DKI JAKARTA. Sinis, kotor, macet, bau dan tidak pernah menyenangkan. Hahaha. Banyak yang mengutuk kota ini. Sejuta sumpah serapah terlontar setiap pagi, bahkan sebelum pukul dua belas siang saat para bayangan menghilang di bawah kaki. Sumpah-sumpah itu melayang-layang di atas udara yang penuh polusi, menunggu kawan-kawannya yang lain, yang tentu saja akan segera bergabung seiring berjalannya hari. Mungkin itu yang menyebabkan maghrib cepat sekali datang di kota ini. Para sumpah itu bergabung menjadi satu, lalu membentuk awan kelabu, yang menggelapkan langit dan membuat siang sesegera mungkin pergi berlalu. Pernah suatu kali, gue harus pergi kerja pagi-pagi, dianter kakak gue yang masih belekan karena belum mandi. Dia yang sudah lama tinggal di Bandung lalu mendengus dan menyeringai. Mengejek. Katanya, ini belum lagi jam tujuh pagi, tetapi sepanjang kami keluar pagar hingga sampai di patung Pancoran ini, tidak satu pun dia melihat ada manusia yang tersenyum menyambut terbitnya matahari. Semuanya cemberut atau mengantuk. Robotik, kalau kata sebuah band yang musiknya beraliran elektronik. Keparat korporat, kalau kata sebuah lagu gubahan penyanyi legenda andalan sejuta umat.

Apapun yang dikatakan semua pengutuk kota Jakarta (yang tetap saja tinggal di kota ini karena haus kekayaan pribadinya sendiri, atau karena belum punya cukup modal pribadi untuk emigrasi keluar negeri, atau terjepit tuntutan orangtua yang masih memaksa untuk tinggal di sini, atau alasan-alasan lainnya yang hanya mengukuhkan bahwa mereka adalah pengecut yang cuma bisa ngomel dan sama sekali tidak mandiri), GUE CUMA MAU BILANG KALAU GUE CINTA KOTA JAKARTA DENGAN SEGALA JENIS NAJIS YANG ADA DI DALAMNYA. Pemikiran ini baru aja dateng kok.. Sekedar informasi, gue juga baru sadar kalau gue sempet masuk dalam jajaran pengutuk kota Jakarta yang pengecut karena cuma bisa ngomel dan sama sekali tidak mandiri, plus belum punya cukup modal pribadi untuk emigrasi keluar negeri, karena terjepit tuntutan orang tua yang masih maksa gue buat tinggal di sini. Hmm.. mungkin juga kalo diterusin, gue bisa aja berkembang jadi orang yang masih tinggal di sini karena haus kekayaan pribadinya sendiri.

Keluarga yang ambisius terhadap cita-cita dan masa depan bikin gue kepecut biar jadi orang yang selalu tahu banyak hal. Apa, kenapa, siapa, gimana, dimana, pake apa, kapan, terus apa. Itu selalu jadi pertanyaan. Keberhasilan lalu diukur dengan angka dan huruf, saat tuntutan berkompetisi disodorkan oleh sekolah-sekolah berlabel unggulan. Gue sempet ngira kalo gue hidup di rumah sakit jiwa yang dindingnya bukan main besarnya. Hingga nyampe di satu titik dimana gue ngerasa kalo udah tiba saatnya gue stop menghidupi kehidupan yang diinginkan orang dan mulai ngelakuin apa yang bener-bener pengen gue lakuin. Mengisi waktu sebaik mungkin untuk mengejar kecintaan gue sama bidang yang spesifik. Passion, kalau kata orang-orang yang suka bicara dalam bahasa (yang katanya) canggih.. Kacamata kuda agar terus mengejar posisi sebagai manusia global yang serba cepat dan terdepan dalam menyerap informasi kemudian menjuruskan manusia-manusia di dalamnya untuk menjadi individualis sejati. Sekolah tinggi-tinggi ternyata cuma bikin gue selalu berpikir apatis dan egosentris (serius lah, nggak usah heran kenapa banyak generasi golput beredar di pasaran). Banyak kekecewaan-kekecewaan yang bikin gue bener-bener bertekad pergi keluar negeri sesegera mungkin dan nggak akan pernah balik lagi. Kecewa akan ketidakdisiplinan waktu (nggak usah lempar bodi lah. Kalau emang tau bakal kena macet karena rumah jauh, ya bangun dan berangkat lebih pagi dong. Kalau berkeluh nggak bisa bangun pagi karena pulangnya juga pagi, ya pindah rumah aja. Nge-kost kek kalo emang ribet banget urusan duitnya. Nggak usah jadi komuter sialan yang cuma bisa menuhin jalan sama motor-motor yang selalu nggak mau disalahkan kalau terjadi kecelakaan). Kecewa akan ketidakprofesionalan orang (coba dipikir, account executive di perusahaan iklan itu, harusnya nggak cuma bisa ngomel doang sama kerjaan orang, tapi juga memastikan kalo brief yang dia kasih itu jelas dan bisa dimengerti orang. Nggak usah bego-bego amat deh). Kecewa sama sistem (yang intinya cuma bisa nginjek-nginjek orang yang nggak punya uang, eksploitasi manusia berbakat yang nggak punya kuasa dan keruk habis semua sumber daya buat dijadiin duit). Kecewa sama pemerintah (ya ampuun, ini lagi… perlu banget ya dibahas?). Brengsek. Terus diam. Terus mikir. Apa gue bego? Nggak. Apa gue naif? IYA.

Emang kalo gue keluar negeri, situasi kehidupannya bakalan beda? Siapa yang bilang kalau di sana gue nggak bakalan ketemu manusia-manusia yang tidak lebih menyebalkan daripada yang ada di sini? Hollywood itu ternyata punya totalitas dalam menjalankan perannya sebagai penggambaran paling tepat dari dunia maya. Nggak ada itu yang namanya tinggal di Paris atau New York dan bisa santai-santai nongkrong di kedai kopi tiap hari sambil nyela-nyela orang, terus bisa hidup bahagia bersama teman-teman. Seorang bijak pernah ngomong ke gue. Katanya, kalau kamu sakit gigi dan teriak-teriak di malam hari, sakitnya nggak bakalan hilang. Tapi kalau kamu nikmati, rasa nyut-nyut itu akan menimbulkan irama, yang kalau terus diresapi akan membentuk simfoni pengantar tidur yang lebih menyenangkan dibanding overture manapun. Kemudian dateng tiga momen dalam hidup gue yang bikin pernyataan AKU CINTA J.A.K.A.R.T.A bertambah kuat.

Satu adalah setelah gue nonton Drag Me To Hell (sialan, ini film oke banget!). Di titik itu, gue sadar kalo mempertahankan passion di tengah hiruk pikuk industri yang bikin sesak napas dan putus asa adalah hal yang nggak gampang. Di situ gue sadar kalo yang namanya cinta butuh pengorbanan. Meskipun mesti berdarah-darah sampe rasanya kayak di neraka. Peduli setan sama yang bilang kalo nggak ada itu yang namanya passion. Buat gue, selama lo bisa jadi jembatan antara dunia mimpi dan kenyataan, semuanya mungkin aja kejadian. Menghadapi realita bukan berarti berhenti bermimpi. Gimana caranya jadi jembatan itu? Yang kerja keras. Yang tekun. Yang berdoa. Yang sabar. Yang ikhlas. Percayalah kata-kata usang dari para nenek moyang. Sialannya ngejalaninnya emang nggak gampang. Tetapi bukan artinya mesti tutup mata dan cari titik nyaman dalam kehidupan kan?

Momen kedua adalah waktu gue nonton Garuda di Dadaku, film yang ceritanya dibikin dan skenarionya ditulis sama salah satu mentor gue. Waktu itu, filmnya belom diputer aja gue udah nangis. Sialan. Begini seharusnya yang namanya premiere film. Pesta kemenangan terhadap perwujudan mimpi yang ngomonginnya aja bikin gemeteran. Di saat kita bisa tunduk bersyukur, karena bisa merealisasikan apa yang sejak masih ingusan selalu dianggap omong kosong sama orang-orang. Terus mendongak dan ngelihat kedua orang tua yang sempet khawatir apa bisa anaknya cari makan pake mimpi. Terus senyum dan mengangguk, karena hati lega saat bisa menghilangkan keresahan itu. Sekali lagi, ngomonginnya emang gampang. Tapi coba deh nikmatin prosesnya. Rasa khawatir dan gamangnya. Dag-dig-dug-der-nya. Wuiihhhh! Kayak naik rollercoaster! Udah tau bakal jantungan tapi tetep dijabanin demi rekreasi adrenalin gila-gilaan.

Momen ketiga adalah waktu gue sama mentor gue yang lain ngobrol di salah satu pusat perbelanjaan. Kita ngomongin soal visi, misi dan sistem yang bakal diterapin ke perusahaan yang sedang dirasukin atmosfir kelesuan dan rasa apatis berlebihan. Kepercayaan dipertaruhkan. Sialaaaan! Are you in or are you out? Anggukan menjadi jawaban pasti. Kalau nggak sekarang? Kapan lagi? Mumpung masih muda. Masalahnya sekarang tinggal semuanya harus pake diukur dengan cermat dan tepat. Passion nggak cuma butuh semangat, tapi juga otak dan strategi. Jangan lupa resep nenek moyang yang udah gue omongin tadi. Namanya juga usaha.

Apa hubungannya tiga momen ini sama semakin kuatnya pernyataan AKU CINTA J.A.K.A.R.T.A? Coba gue lahir di gunung atau pelosok hutan atau pinggiran ujung pantai, belum tentu gue bisa secepetnya nonton Drag Me To Hell atau ketemu mentor yang bikin Garuda di Dadaku, atau mentor lain yang ngobrol sama gue di pusat perbelanjaan itu. Belum tentu gue bisa ngembaliin passion yang sempat gue ragukan (Masyaallah bagus banget Drag Me To Hell itu! Gue bener-bener mesti nonton Evil Dead!). Pemikirannya berkembang jadi... Coba gue lahir di kota yang cukup besar, tapi labelnya bukan Jakarta, pasti gue selalu pengen serba ke-Jakarta-Jakarta-an. Nggak pede sama kultur setempat yang gue punya karena semua serba ngikut apa yang kelihatan di sinetron atau internet. Atau coba gue lahir di luar negeri, belum tentu gue bisa sadar bahwa dunia ini terbangun dalam dua sisi, ada sistem serba manual dan birokrasi yang selalu bikin pengen muntah dan ada sistem serba kabel dan digitalisasi yang selalu bikin hidup lebih mudah. Maksud gue, di Amerika aja, banyak anak kelas dua SMA yang nggak tau letaknya Indonesia. Tapi di sini, banyak anak kelas dua SMA yang khatam sama yang namanya Nebraska.

Dan jangan salahin gue kalo gue merasa sangat nyaman menikmati duduk di dalam angkot sampe keringetan sambil menikmati kemacetan. Kapan lagi gue punya waktu sebanyak itu buat ngelihat orang dari berbagai strata ekonomi dan akhirnya bisa berkaca dan berkontemplasi? Terus juga jangan salahin gue kalo gue seneng banget liat lampu-lampu warna warni di malam hari. Kalo nggak, apa yang bisa ngegantiin sinar bintang yang udah dimakan sama polusi? Jangan juga salahin gue kalo sebenernya inti dari tulisan ini cuma berpikir positif dan proaktif (mohon maaf buat Stephen Covey kalo gue nyuri dikit paham-paham dasar dari bukunya), dan memaksimalkan apa yang kita punya buat memicu kreativitas dan produktivitas yang pada akhirnya bisa mengakomodasikan kepentingan orang banyak dan juga kepentingan kita sendiri pada akhirnya. MASIH NAIF? IYA. Tapi apa salahnya sih bersyukur sama rumput sendiri dan merawatnya sampe bisa lebih hijau dibanding dengan rumput tetangga samping kanan dan kiri?


IYA. AKU CINTA J.A.K.A.R.T.A.

Minggu, 21 Juni 2009


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails