23.6.09

Good Morning, Little Friends!



Penulis: Mira Asriningtya
Domisili: Yogyakarta
Blog: http://dreamiy.multiply.com http://thepicnicgirl.blogspot.com http://cupshop.multiply.com

Kemarin aku terbangun oleh cericipan ramai burung-burung di teras kamarku. Karena penasaran, aku segera membuka jendela dan pintu menuju teras. Tiga ekor burung kecil segera terbang dengan lincah- kaget, karena pintuku terbuka.

Tak lama kemudian, tiga burung tersebut datang lagi dan bertengger di atap terasku. Aku menunggu. Burung-burung menunggu.

Aku diam berusaha tidak membuat banyak keributan. Lalu tak lama kemudian, burung-burung mulai mengintip ke arahku dari atap.

Ketika burung-burung ini menyadari kehadiranku, mereka kembali ke persembunyian mereka di atap. Tak lama kemudian, ada burung lain yang terbang menuju atap terasku. “Hmm.. mungkin mereka membangun sarang di atapku”, pikirku.

Beberapa detik kemudian, salah satu dari burung-burung itu memberanikan diri terbang turun ke teras dan bertengger di salah satu tanaman mama yang berjajar di terasku. Lalu kembali terbang, bercericip memanggil temannya, dan dua ekor burung kembali bertengger di terasku sebelum kembali terbang.

Ah! Aku baru ingat!

Minggu lalu aku membawa pulang sebatang padi dari sawah ketika menemani murid-muridku bermain di sawah.. lalu sebatang padi itu aku letakkan begitu saja di teras kamarku dengan tujuan memanggil burung-burung. Rupanya usahaku berhasil!

“Miy, coba deh pasang beberapa batang padi di depan kamar, gantungkan di teras- nanti terasmu akan sering didatangi burung-burung. Padinya akan diambil untuk makanannya, dan batangnya akan dipakainya untuk membuat sarang tak jauh dari kamarmu..jangan lupa beri secawan air juga”, kata Pamanku suatu hari.

Pamanku sendiri telah mempraktekkannya beberapa tahun belakangan. Beliau rindu akan cericipan burung di pagi hari. Wajar saja, tinggal di pusat kota Jakarta sepertinya hanya akan membuatnya mendengar suara bising kota di pagi hari- sesuatu yang mati-matian ditutupinya dengan berlapis-lapis kaca kedap suara..

*****
Sembari mengingat-ingat nasehatnya, aku berjalan ke arah teras, mengambil padi yang semula kuletakkan begitu saja di lantai, lalu menggantungkannya di sebuah tali. Semoga saja itu memudahkan burung-burung itu untuk mengambilnya.

Di sisi lain, aku berharap semoga permainan kecilku untuk memanggil burung-burung ke terasku tidak akan mengganggu kehidupan alami mereka dan membuat mereka tergantung padaku.

Burung-burung itu pastinya tidak memiliki kesulitan makan atau membuat sarang karena rumahku masih berada di daerah pegunungan. Tapi tidak ada salahnya, kan, bersikap ramah pada mereka.

Mungkin burung-burung di kota lah yang lebih membutuhkan keramahan kita. Kasihan sekali mereka yang desanya ditebang, udaranya dikotori, makanannya hilang, dan terpaksa hidup tergusur di atas kotak AC yang selalu berdengung.

*****
Cericipan ramai burung yang terbang berulang kali menjauh dan kembali ke atap terasku mengembalikan konsentrasiku pada mereka.

Huff.. aku benar-benar bukan gadis yang cocok tinggal di kota besar! Aku selalu saja terpesona pada cericipan burung, langit biru yang terlihat dari kamarku, dan pohon-pohon yang bergoyang pelan oleh angin yang sesekali menyapaku ringan.

*****
Lalu pagi ini aku kembali membuka pintu terasku..kali ini perlahan-lahan.. dan benar saja, mereka menyapaku- chirp..chirp..

..good morning to you too, Little Friends!

Tulisan ini pernah diterbitkan di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails