17.6.09

busway is not my way!

Penulis: Aditya Dipta Anindita
blog: www.inditdijakarta.blogspot.com
Domisili: Jakarta


Sudah lama nggak ke Salemba, sekitar satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah S2 di UI. Sekarang, udah ada jalur bis Transjakarta melewati kampus. Bahkan haltenya tepat di depan kampus.

Sebut saja busway dan aku berniat mencobanya. Jam 12.10 pm, selesai sedikit urusan di kampus UI Salemba. Masih ada 50 menit untuk mengejar jam buka kolam renang di Pasar Festival. Kalau masuk jam satu siang, tiketnya hanya Rp 1.600. Makanya dibela-belain. Dan ini kesenangan baruku di Jakarta yang menyehatkan.

Aku masih punya 50 menit. Kupikir cukuplah. Busway kan punya jalur sendiri. Harusnya lancar.
Ternyata aku salah duga.

Dari Salemba ke Kuningan harus tiga kali naik busway. Pertama rute Salemba – Matraman, disambung Matraman – Dukuh Atas dan terakhir baru Dukuh Atas – Kuningan. Halte pertama masih oke. Lima menit menunggu rasanya sangat wajar. Di halte Matraman depan Gramedia, aku turun lalu naik ke jembatan untuk ke halte transit. Walah ya ampun, di pintu Dukuh Atas orang yang antre sudah berjubel. Ada 50an orang. Belum lagi di pintu satunya. Mulailah menit-menit menunggu.

Busway ke-lima, baru aku bisa naik setelah setengah jam menunggu. Jelaslah nggak dapet tempat duduk. 13.08 sampai di halt Dukuh Atas, lalu harus menunggu lagi busway jurusan Ragunan yang lewat Kuningan. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... Aku udah mulai menyesal. Kebayang kalau tadi naik bemo dari RSCM ke Manggarai, trus nyambung naik Kopaja 66, mungkin aku udah sampe. Toh, lalu lintas jam satu siang nggak terlalu macet. Paling banyak ongkosnya beda dua ribu lebih mahal dibanding busway dan aku mungkin sudah berada di tengah kolam renang Pasar Festival sekarang.

Tapi aku masih di halte Dukuh Atas berdesakan dengan banyak orang. Di punggung, terasa keringatku menitik. Kaki pegel karena lebih dari satu jam berdiri. Baru di menit ke-duapuluh busway-nya dateng. Antreanku bukan di paling depan. Tapi apa boleh buat, harus maksa naik dari pada nunggu lebih lama. Lagi pula, harga kolam renang 1.600 cuma sampai jam tiga.

13.35 akhirnya sampai di Pasar Festival. Satu jam dua puluh menit, Salemba – Kuningan ternyata perjalanan panjang yang harus dibayar dengan keringat, kaki pegal dan perut keroncongan. Nggak mungkin berenang kalau belum makan, sementara waktu berenang murah hampir habis. Satu jam di berenang pasti nggak puas. Kepalang tanggung juga kalau pulang. Akhirnya aku menunggu masuk jam empat untuk harga tiket Rp 10.100, sambil makan dan mengetik ini. Sambil merutuk-rutuk. Gimana enggak, tadi naik busway beralasan lebih murah dari pada naik dua kali angkutan. Ya iya, lebih murah. Tapi jadinya renangku yang harus bayar lebih mahal!

Efektifkah busway? Efisienkah?

Busway-nya emang nggak macet. Tapi haltenya jauh lebih macet. Besok-besok pasti pikir dua kali naik busway model begini. Amannya ya yang satu trip, misalnya Blok M – Kota. Kalau untuk yang transit-transit, sorry deh, kecuali aku punya banyak waktu dan kerelaan untuk menunggu. Aku membuktikan, busway is not my way...

Tulisan ini pernah dipublikasikan di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails