28.6.09

Bandungku : dongeng tentang musim gugur dan musim semi

Penulis: Maya Melivyanti
Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Blog: www.dreamofmay.blogspot.com

1993-1999

menyusuri sepanjang jalan sebelah gedung sate yang bertaburan daun-daun coklat sedikit memperlambat degup jantungku yang berderap mars seperti kaki tentara, ini hari pertama ku menjadi murid pindahan di smp yahya bandung. Mengapa banyak sekali pohon disini, mengapa daun – daun begitu indahnya menari? Dimana bioskop? Dimana mall? Seribu pertanyaan yang kukumpulkan dari Surabaya, kota panas , tempat numpang lahirku itu menumpuk di benakku, dan sebentar lagi aku akan memulai sebuah musim baru, musim gugur di Bandung.

Ya..tepat sekali kunamakan kota ini dengan musim gugur nya, begitu papa memberitahu aku dan adikku kalau kita semua akan pindah ke Bandung, aku merasa sekelilingku mendadak suram, tiba – tiba bayangan meninggalkan semua teman-teman dekatku, membuat hati meringis. Apakah aku akan punya teman lagi di belantara jawa barat ini? Mimpi buruk ku menjadi kenyataan, aku akan menjadi murid baru yang berlogat aneh di tengah – tengah teman-teman yang berbahasa sunda.

“gandeng itu apa sih, ngga boleh gandengan? Kenapa semua orang ngomongnya pake teh? Kenapa banyak sekali angkot? Apa itu bala bala? Batagor singkatan apa sih? Di BIP (Bandung Indah Plaza) ada bioskop ngga? Oh yamin itu mie nya pisah ya sama kuahnya?”
hampir seribu pertanyaan kulontarkan dengan jahatnya pada teman baru ku Tessa, dia orang pertama yang menjadi tour guide dadakan ku di kota baru ini. Untung saja tessa begitu sabar dan sangat jelas sekali merinci jawaban – jawaban nya, bahkan sampai memberi contoh-contohnya.

Hari – hari berikutnya kemudian menjadi petualangan penemuan – penemuan baru bagiku, mengukur jarak antara riau dan soekarno hatta dengan menggunakan angkot dan mobil jemputan, pembukaan kantor pos Banda, munculnya FO pertama di graha manggala siliwangi Bandung, mengiringi gugur nya satu per satu surat – surat penyambung hubungan dengan semua teman – teman ku di Surabaya. Tentu aku menangis saat itu, sebagai seorang anak yang berjiwa melankolis dramatis, ahh..sebuah masa hiperbola.

Musim semi ku di bandung berawal dari sebuah senyum dan sapa dari seorang yang bernama Grace, aku selalu ingat adegan itu: Grace datang tergopoh – gopoh dengan tas nya yang besar, sweater gombrong, muka culun (ups) dan badan yang juga besar , sama besarnya denganku (oh senangnya, aku punya teman “senasib” di smp ini, pikirku) dia melihatku beberapa kali, lalu duduk tepat di kursi depan kursiku, lalu dia menoleh beberapa kali dan tersenyum, ramah sekali dan mulai saat itu Grace lah yang membuatku tersenyum kembali dengan tingkahnya yang lucu, lalu membawaku menemukan sahabat demi sahabat: Golda..Dina..Anna.., bunga – bunga yang masih kuncup, lalu kami berbagi tawa, tangis, duri, bahkan menemukan Tuhan bersama - sama.., ah hampir tidak cukup jika diceritakan satu per satu..saksi nya adalah jalan riau..BIP..candrawulan, base camp nya adalah rumah om Anna yang terletak tepat di depan rumah bersalin , yang sekarang salah satu kumpulan FO di jalan riau..

Beberapa tahun setelah kami lulus SMP, ketika aku, Dina dan Golda menginjakkan kaki kembali di kamar Anna yang telah berubah menjadi ruang ganti pakaian, kami tertawa kecil, dan ingin sekali meng sms Anna yang sudah hijrah ke Belanda.

Dan kini aku tidak mengenal lagi musim semi itu..sepertinya berlalu begitu saja dengan perginya bunga – bunga satu per satu dari kota yang padat ini, semakin padat, untung aku ada di ujung gunung..masih cukup sepi, tapi tidak se semi dulu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails