22.4.09

REFRAIN DARI KOMPOSISI KORENSPONDENSI

Penulis: Elida Tamalagi
Domisili: Jogjakarta, Jawa Tengah
http://www.kinokijogja.blogspot.com/


Toronto, suatu sore Desember, minus 15 derajat.

Saya membungkus diri rapatrapat, di tikungan depan kami akan berhenti, membuka bagasi, sedikit kata dan saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Jangan sampai kulit kami bersentuhan. Jangan sampai baunya menempel di tubuh saya.

Jadi, berpisahlah kami. Begitu saja. Setelah pelukan singkat, saya tertawa dan bilang :

“Saya bohong waktu bilang kamu salah satu alasan saya kesini.”

Keningnya berkerut.

“Yang benar,”

Saya melanjutkan kalimat saya dengan bernyanyi:

“You’re the reason I’m travelling on, but don’t think twice, it’s allright.”

Dia tampak kikuk. Tak enak hati. Tampak benar-benar tak tahu harus berkata apa. Akhirnya keluar juga kalimat-kalimat klise yang membuat saya selalu membenci momen perpisahan.

“One day, I’ll travel to asia again”

“Ssh…promise didn’t make thing any good. Bye…”

Tukas saya cepat. Dia membalas:

“À bientôt.”

“No! it’s bye! I know I’m not gonna see you again”

Jawab saya ngotot

“Ssh…promise didn’t make thing any good.”

Jawabnya. Dan kami tergelak bersama.

Dua hari yang lalu, saya masih saja mencari-cari hikmah dibalik semua kesusahan yang sudah saya tempuh untuk perjalanan ini, juga kemudahan yang tiba-tiba hadir di penghujung harapan saya. jika seluruh semesta terasa mendukungmu, tidak mungkin untuk suatu hal yang biasa bukan? Tapi saya memang pembaca roman, pecinta Ebiet G.Ade dan Pablo Neruda. Semua hal menjadi seolah-olah punya makna besar bagi diri.

Dan disinilah saya. di sebuah penginapan murah di jantung kota Toronto. Dengan jatah tempat tidur tingkat di kamar berpenghuni 6 orang ini, saya mencoba mengartikan segala hal yang sudah terjadi pada saya sambil menunggu malam datang. Setiap malam, dia akan menjemput saya. Tepatnya, dia akan mengontak saya untuk bertemu di salah satu sudut jalan dengan halte streetcar. Dia sedang mempersiapkan ujian profesionalnya di bidang teknik informatika; siangnya untuk Toronto Reference Library dan malamnya untuk berburu restoran sushi murah supaya ada cukup sisa uang untuk segelas bir. Hanya segelas, karena saya juga tidak punya cukup uang untuk berfoya-foya di kota ini.

Tiket pesawat saya dari Paris kenal cekal, karena rute perjalanan ini melewati Amerika, dan untuk duduk di ruang transit selama 20 menit, sebagai orang Indonesia, saya tidak punya visa mereka. Pertama kali mendengar itu, saya hanya bisa melongo. Ketika kesadaran saya penuh kembali, saya hanya mendorong trolley saya menjauh dari petugas check-in, mencari sudut sepi untuk duduk diam sebentar. Kepala saya kosong dan hati saya meledak-ledak. “Apalagi ini!”, maki saya dalam hati. “Taik kucing riset! Taik kucing tesis! Taik kucing film! Taik kucing semua!saya hanya mau lihat dia lagi!”. Setelah lima menit, tidak terjadi apa-apa. Saya masih memberikan kesempatan diri saya untuk menangis atau memaki lagi. Tujuh menit, saya bangkit, berjalan menuju maskapai berikutnya.

“un ticket d’aller-retour pour paris-toronto, aujourd’hui!”

Dan melanjutkan kalimat ini dalam hati,

“selamat tinggal konser jazz! Selamat tinggal bir!”

Saya melihat sosok yang saya temui di satu malam enam bulan yang lalu, tersenyum lebar saat pintu otomatis bandara terbuka. Tetap saja aneh rasanya, bagaimana dia bisa langsung mengenali saya diantara orang-orang. Mungkin dia nyontek di facebook dulu sebelum ke bandara, batin saya sambil berjalan menghampirinya. Bahkan bagi saya, yang menyantap slide show foto-fotonya demi kualitas tidur yang prima, dia tampak sedikit asing. Mungkin karena mantel panjang itu. Mungkin juga karena ia tampak lebih kurus. Dia memeluk saya,akrab. Saya membalas sambil mencuri hirup baunya.

“how’s thing going, el? Wow! You are in Toronto!”

Dia memberondong dengan nada gembira yang terdengar sangat tulus.

“not a single word untill first zip of beer!”

Jawab saya sambil tertawa

“kita lihat apa kamu tahan ya. Bandara sama kota satu setengah jam lho!”

Kami tertawa bersama.

“oke! Kita bisa mulai dengan cerita konyolku ke petugas imigrasi tadi. Waktu dia tanya, alasan kunjungan, saya mulai ngoceh : personal. pacarku selama tiga tahun akan menikah dengan orang lain dan saya kesini untuk menyanyi di pesta pernikahannya......”

Dia tergelak-gelak. Cerita demi cerita, mengalir lancar setelah itu dengan metode bilingual. Bahasa Inggris saya meruap entah kemana.


Festival kesenian yogyakarta, malam terang bintang di bulan Juni


Seseorang mencolek saya di pinggir panggung rock klasik untuk meminjam korek, dan mengembalikannya dengan senyum dan mulut yang membentuk ucapan “thanx”.

Saya melambai memberi gestur “you’re welcome” dan membantin “manis eh! Kok gak pernah liat ya di jogja?!”

Tak sampai setengah lagu, si peminjam korek mencolek saya :

you speak english?”

fluently

“what do you think of the band?”

“i’m not thinking, i’m watching! The boys are my neighbours! It’s my social obligation”

Kami tertawa dan saya langsung tahu ini akan jadi percakapan panjang. Saat dia tampak bosan dan mimik muka saya sudah tak bisa diatur lagi untuk memberi semangat pada teman-teman saya yang di panggung, saya menawarkannya untuk pergi dari sana.

Kami melanjutkan malam itu di warung kopi saya dengan terus bertukar kisah. Sebanyak yang bisa kami kisahkan dalam semalam. Sebanyak kesamaan yang kami temukan.

Ini kisahnya. Hidup dengan cita-cita menjadi pemain piano jazz di sebuah kota kecil berjarak dua jam dari Toronto, ia tiba-tiba sadar bahwa cita-citanya itu hanya mampu memberinya roti. Bukan keju apalagi makanan penutup yang manis. Kesadaran yang datang ketika masa kelulusan SMA sudah sangat dekat. Kesadaran yang membawanya pada kehidupan baru selama sepuluh tahun di depan monitor komputer,hingga bergabung dengan korporat raksasa dengan 3000 orang pekerja. Pekerjaan yang membuatnya hanya bisa mengingat sepuluh nama rekannya.Pekerjaan yang memakan banyak waktu dan menghasilkan banyak uang sehingga sedikit waktu yang tersisa untuk membuang sedikit uang.

Jadi ? dia berhenti. Begitu saja. Pergi kemanapun. Kadangkadang membuka peta. Lebih sering lagi menghadang loket apapun yang ada di depannya untuk membeli tiket perjalanan selanjutnya. Pergi kemanapun.

Tapi dia juga menghabiskan waktu sedikit lebih lama di negara asalnya, Filipina. Komentar saya spontan:

“Kamu pasti merasa seperti pedagang di cerita Alkemis yang ingin sekali naik haji.”

Dia tertawa kecil. Ketika bercerita bagian ini suaranya merendah, matanya melindap. Orang tuanya berimigrasi ke Kanada, dan dalam rangka melindungi sang anak dari “serangan” rasisme, mereka pun menolak mengajarinya bahasa asali. Ia menirukan nada ibunya :

You can’t grow up as an asia kid speaking whatever language still with tagalog dialect

Sampai disini, dia tertawa. Katanya:

“Bagaimana mungkin! Dengar aja gak pernah! Orang tua saya bahkan memilih untuk berjuang dengan vocab inggris mereka yang terbatas daripada harus bertengkar dalam bahasa Tagalog”

Sesuatu yang sangat visioner, menurut saya, walau tetap saja, penerapannya tidak tepat. Siapa yang bisa membayangkan bahwa rasisme sebenarnya semakin mengakar kuat dalam usia peradaban manusia. Buat dia, tentu saja tetap terasa berbeda. Isu identitas ini merasuk dalam dan dibawanya kemanapun dia pergi.

Saya bertanya padanya, kali ini dengan mimik serius:

“Bagaimana rasanya menemukan perjalanan “pulang” setelah kondisi half belonged yang menahun seperti itu?”

Jawabnya:

“Kamu baru saja membantu saya merumuskan pertanyaan baru! Bagaimana rasanya untuk pertama kalinya hidup tanpa berpikir akar dan muasal? Itu yang sedang saya alami sekarang”

Perbincangan kami beralih dari satu hal ke hal lain. Dari kisah anakanak yang tumbuh di tahun ‘80an sampai konser jazz di Montreal. juga pada Sartre, dan di titik mana dia gagal meyakinkan kami dan bagaimana Derrida hadir mengisi lubang yang kosong itu. Sebanyak yang bisa kami kisahkan dalam semalam.

Melihat api yang menyala di matanya saat saya mengantarkan dia ke stasiun menuju perjalanan berikutnya, saya merasa menjadi gadis penjual korek api. Tak lama setelah malam itu, kesadaran saya datang. Dia telah menjadi kawah api yang bergemuruh di dalam diri saya. Dan matahari pun seolah terbit dari kotak surat elektronik saya.


Keputusan itu datang tiba-tiba. Saya merasa sudah tidak bisa lagi bertingkah sebagai penasihat ajaib atas turbulens hari-harinya belakangan ini. Depresi semacam itu, saya kenal betul, dan merasa memiliki teman dengan jarak ribuan mil rasanya tidak cukup ampuh untuk benar-benar menjalankan fungsi menemani. Saya bukan hanya sedang mengikuti insting god syndrome. Saya sadar benar, di saat ini, sayalah yang sedang butuh diselamatkan. Melalui korespondensi paling intens yang pernah saya punyai ini, saya merasa sangat terbantu, kalau tidak mau mengakui, adiktif. Bukan saja pada sensasi yang hadir setiap kali surat dengan ribuan kata itu tiba, terlebih pula akan kejujuran saya padanya dan diri saya sendiri. pertanyaan dan gugatannya sering membuka tingkap-tingkap kemarahan saya akan masa lalu. Tingkap yang tertutup rapat dengan gembok besi dan debu tebal. Atas semua hal yang sudah dia lakukan untuk menyelamatkan hidup saya, tanpa pernah sadar atau bermaksud melakukannya, perjalanan ajaib ini saya tempuh juga.

Menyaksikan langsung bagaimana dia hidup sekarang, membuat saya setengah bangga setengah miris. Dengan semua kebiasaan dan fasilitas yang biasa dia punyai selama bertahun-tahun, ia kini harus bisa menghidupi diri dengan sepuluh dolar sehari dengan menumpang di basement apartemen kawannya. Walau dia jelas semakin kurus, untunglah api di matanya terjaga dengan baik. Kembali berlatih piano intensif dan memperbaiki kamera foto yang sudah lama teronggok. Sedikit receh dari ebay, dan tenaga pengganti untuk dosen yang berhalangan hadir. Streetcar dan sushi. Koleksi unduhan MP3 dan bukan tumpukan CD.


Suatu malam, ketika ia harus menjenguk ibunya yang sakit di kotanya, saya memaksakan diri sedikit berkeliling. Itu bukan pilihan yang mudah dan rasional, bahkan buat pasangan muda yang sedang mekar. Di tengah badai salju bertemperatur lima belas derajat di bawah nol, saya berusaha mencari sedikit kesenangan dari lampu kota dan jalanan Toronto. Nihil. Beberapa hari kemudian, saya menceritakan pengalaman ini kepadanya. Bahwa saya mendapati diri saya yang bukan true traveller, karena kesenangan itu ternyata tidak datang dari mengunjungi tempat-tempat tertentu. Ia datang dari setiap perjumpaan dan interaksi antar yang hidup. Bukan monumen apalagi etalase toko. Saya tidak menceritakan padanya, bahwa malam itu, dengan salju yang turun lebih kencang daripada malam-malam sebelumnya, saya pulang ke penginapan sambil menangis tersedu-sedu. Sebuah kalimat dari film dokumenter yang saya tonton malam itu, menampar saya keras. Kalimat yang dikutip dari potongan surat antar kekasih, i want to ended up loving you, not needing you.

Kalimat yang membuat saya bisa melihat relasi dengannya dalam cara pandang yang sama sekali berbeda. Saya malu melihat diri saya yang begitu menuntut dan minta dihargai karena segala hal yang sudah saya lakukan bagi dia. Kenyataannya, tidak ada hal yang benarbenar saya lakukan bagi dia. Semuanya saya lakukan bagi diri saya sendiri dalam rangka mengejar dia. Mengukuhkan eksistensi saya di depan dia, membuat diri saya terlihat jelas. Saya, saya, dan saya!

Pencerahan dan rasa malu yang dalam inilah yang membawa saya bisa tidur lebih lama malam ini, tidur yang paling panjang semenjak saya meninggalkan negeri.Saya merasa ditemukan kawan, menemukan kawan dan memiliki cinta yang baru saja bertumbuh.

Saya membungkus diri rapatrapat, Dingin malam ini tidak ingin saya ingat lagi, sampai kapanpun.

Saya tidak perlu mengambil apapun lagi dari dia, dia sudah ada di dalam diri saya. Seperti sejak kami bertemu pertama kali.

Saya membalik badan, melangkah menjauhi sedan hitam itu. Dia tergesa kembali ke balik kemudi, sambil menerima telpon geram dari sang kakak.

Saya masih bisa mendengar:

Yeah, I’ll be there in 20 minutes! jesus mary joseph!

Dan dia kembali tertawa pada saya. kami punya cerita dengan umpatan itu. umpatan yang memanggil seluruh keluarga untuk mengumpat pada keluarga. Dengan tangan, saya memberinya isyarat : menulislah. Dalam hati saya melanjutkan: jika sempat.

I want to ended up loving you, not needing you.

saya akan berjalan lagi, sebagai saya yang tidak pernah sama dengan saya sebelum perjalanan ini. sebuah dongeng yang dengan sadar tetap terjaga menjadi dongeng.

Di sebuah bar dekat terminal bis sebelum melanjutkan perjalanan menuju Montreal, saya mampir untuk berdiam diri. Menikmati white russian, minuman yang sama yang kami nikmati bersama malam tadi. Saya tahu, sayalah yang melangkah meninggalkan dia, mengembalikan dia kepada kehidupan yang dia pilih. Hidup yang tidak mudah, hidup yang diambil dengan sadar salah satunya setelah pertemuan kami yang pertama. Hidup yang akan terus dia jalani justru setelah perbincanganperbincangan panjang kami di pertemuan kedua ini.

Hidup yang tidak memungkinkan kami hidup sebagai: kami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails