9.4.09

Profesi Tertua di Dunia Adalah Pelacur

Penulis: Indrawan Prabaharyaka
Domisili: Jakarta
Profile Facebook: http://www.facebook.com/profile.php?id=542224142&ref=name
iprabaharyaka@gmail.com -

Ini cerita tentang ibu kota. Yang sejak 400 tahun yang lalu telah menjadi pelabuhan internasional. Betapa pun indah wajahnya dalam pantulan mall-mall dan distrik bisnis, masyarakat miskin kota yang tinggal di daerah kumuh tidak akan pernah tersembunyi dan ikut serta dalam bagian pantulan tersebut.

Di satu sudut lokasi saya bekerja, sebuah lokalisasi tua berdiri. Mereka mampu mengorganisir dua tingkat area pelacuran dengan gradasi usia, wanita yang lebih tua bertempat di bagian timur, lalu semakin ke barat wanita dengan usia yang lebih muda berdiri berurutan. Mengesankan bagaimana mereka mampu mengorganisir sekelompok massa dari berbagai macam latar belakang suku, agama, dan usia. Memang, secara statistik, perempuan yang bekerja di area tersebut memiliki spektrum yang serupa dalam hal pendidikan, rata-rata hanya bersekolah hingga sekolah menengah, itu pun sudah luar biasa. Meskipun demikian, mereka adalah satu dari masyarakat yang mampu bertahan hidup dalam kondisi paling sulit, lebih resisten dari kecoak. Dengan manajemen sederhana, struktur informal, dan kapital yang terbatas, mereka mampu mengelola modal sosial untuk mempertahankan bisnis tradisional ini.

Maria, 16 tahun.
Pertama kali bekerja di Kafe Kota Lama.
“Harga saya dulu lebih tinggi daripada hari ini”
Di sini, ada tiga tipe perempuan - yang memiliki seorang mami sebagai pelindung yang kadang menyediakan tempat tinggal gratis, yang bekerja frilens tanpa pelindung, dan yang bekerja sama dengan preman untuk memperoleh perlindungan. Mereka semua mencari perlindungan di bawah payung perputaran uang dengan tarif rata-rata IDR 70,000 per orang setiap kali layanan. Uang tersebut belum termasuk sewa kamar yang nantinya akan dipotong oleh biaya kosmetik, sewa kamar petak, iuran RW, kiriman pada keluarga di kampung, makan minum, peralatan mandi, kostum, dan ongkos jalan. Tak lupa juga, biaya celengan seribu rupiah untuk masuk kamar mandi.

Perlindungan tersebut dibuat dengan sistem yang sederhana. Setiap perempuan pekerja menyetorkan bagian uang pendapatan pada pemberi perlindungan, lalu oleh sang pelindung dibagikan pada pemberi jasa keamanan, mulai dari Badan Pengurus RW, Kelompok Preman hingga Lembaga Keagamaan, dan akhirnya dibagikan lagi pada kekuatan formal yaitu Polisi dan Militer. Siklus tersebut mampu menggerakkan roda ekonomi dengan mengundang masyarakat kelas bawah, mulai dari supir truk hingga tukang becak, yang menjadi bagian besar paling bawah piramida penduduk kota Jakarta.

Uding, 39 tahun.
Menguasai seluruh lahan setelah suksesi preman yang mangkat.
“Kalau kita bisa bekerja sama, tidak ada yang bisa mengganggu kita."
Ada tarif khusus untuk penduduk dari RW tersebut, 20-40 ribu sekali layanan, bahkan gratis untuk warga yang menjadi petugas keamanan lokal. Masyarakat sekitar lebih toleran hingga mampu menerima mereka sebagai salah satu elemen yang berbeda saja. Terjadi simbiosis yang muncul secara alamiah. Setiap malam Jumat, musik di bar esek-esek dimatikan. Bila seorang warga meninggal dunia, mereka ikut serta berkontribusi untuk biaya pemakaman. Simbiosis tersebut sudah menyatu dalam masyarakat sehingga mampu menjadi salah satu karakteristik khusus yang mampu meningkatkan tingkat toleransi terhadap perbedaan. Di saat terjadi kebakaran, warga menyediakan tempat tinggal sementara mereka bergotong-royong membangun bersama wilayah yang hangus. Modal sosial seperti ini lah yang mampu mempertahankan salah satu dari wajah masyarakat kumuh untuk menghadapi tekanan pergerakan modernisasi kota.

Farah, 20 tahun.
Anak manis dari seorang mucikari yang berkerudung, lulusan sekolah tinggi, dan aktif dalam organisasi pemuda.
“Saya tahu kalau Ayah-Ibu melakukan hal yang tidak benar, karena itu saya mau jadi orang besar"
(demi menjaga kerahasiaan, nama-nama di atas disamarkan)

Tulisan ini di posting ulang dari Note Indra Prabaharyaka di Facebook

1 komentar:

  1. Ulasan yang sangat menarik. Dari tulisan ini saya jadi memahami dan mendapat pencerahan dalam banyak hal. Tulisan ini menjawab pertanyaan yang sudah lama sekali saya pertanyakan, mengapa prostitusi tidak pernah mati?

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails