8.4.09

Maja, Beribu Ruang Bermainku (Bagian 1)

Ditulis oleh Ana P. Dewiyana
Domisili: Maja, Majalengka (1977-1996), Bandung (1996- ...)
http://anapdewiyana.multiply.com
anapdewiyana77@gmail.com


berlatar:
gunung-gunung menjulang
liukan sungai-sungai berbatu
lajur jalan setapak
undakan pesawahan
rumpun bambu
pohon-pohon jambu
jalanan beraspal

dinaungi:
sinar mentari
cahaya purnama
lengkungan bulan sabit
kerlip gemintang
awan yang berarak
hembusan angin
rintik dan riuh hujan
pucatnya kabut
segenggam tanah hitam

di sana:
kaki-kaki kecil menggores rupa dalam beribu permainan


Ini tentang tempat yang kutingalkan sejak 13 tahun lalu (1996), Maja, Majalengka. Sesekali, atau tepatnya hampir sekali atau dua kali setahun saja, aku datang ke sana. Tentunya saat Lebaran atau hari-hari ”dadakan”. Kota kecil ini tempat bersemayam abadi bagi orang-orang yang paling kucintai dan segala cerita yang mengukir lebih dari separuh usia kehidupanku. Saat ini, tak ada lagi yang bisa kubawa serta. Tertinggal dalam bulir-bulir kenangan.

Jika aku rindu, kadang hanya kusimpan dalam pikiran. Sekarang, yang bisa memanggilku ke sana untuk berlama-lama hanya berziarah, niatan menuliskan kisahnya, atau mendaki gunung Ciremai bersama keponakan-keponakanku, tuk mewujudkan impianku saat sering kupandangi gunung itu dari jendela dapur di rumah ibuku. Ah, rumah itu tak lagi berpenghuni. Pemiliknya berpindah ke rumah yang berhiaskan pusara menyusul Bapak yang sudah terlebih dahulu berpuluh tahun silam.


TAHUN 80-AN

Jalan Aspal Depan Rumah, Ruang Multifungsi
Hingga usiaku 8 tahun, aku pikir letak rumah ibuku di blok Sabtu sangat ”strategis”. Sebab, depan rumah kami ada jalan aspal yang ”multifungsi”. Fungsi utama tentu saja sebagai tempat melajunya kendaraan pribadi dan umum, juga tempat berjalan kaki. Perharinya, mobil yang melintas di sana dapat dihitung jari. Itu pun dengan kecepatan yang lambat. Jalanan terasa sepi.

Namun, dari terbit fajar hingga jam 09:00 WIB, jalan itu menjadi pasar sekaligus terminal. Suasana pun berubah ramai. Bahkan pada Selasa dan Jumat, suasana ramainya jadi tiga kali lipat karena dua hari itu dinobatkan menjadi hari pasar.

Selain itu, ada fungsi lainnya yang terasa unik saat senja tiba hingga lembayung di langit memancarkan warna merah menyala. Jalanan itu kembali ramai dipenuhi anak-anak yang bermain bersama dari beragam usia, baik laki-laki maupun perempuan. Sepanjang jalan dari arah Selatan hingga arah Utara, terlihat beberapa kelompak bermain yang berbeda. Ada yang bermain bola, sorodot gaplok, loncat tinggi, layangan, bola voli, badminton, atau kucing-kucingan.

Sementara anak-anak kecil bermain, tampak di depan rumah atau pinggir jalan, ibu-ibunya atau kakak-kakaknya yang sudah besar mengawasi mereka sambil asyik ngerumpi, menyirami tanaman, atau pun menyuapi balitanya.

Beribu Ruang Bermain
Waktu itu, jika hari minggu tiba, secara tak terikrarkan, dijadikan hari bermain bebas seharian bagiku dan puluhan teman-temanku. Tapi, tempat bermain kami kali ini tidak lagi di jalan aspal. Pilihannya cukup beragam, ada halaman rumah, pohon jambu, pohon kopi, halaman mushola, kebun-kebun, kolam-kolam, sawah, sungai-sungai, lapangan voli, lapangan sepak bola, dam, gang gang menuju kebun, ladang, gang-gang rumah, dan hutan kecil.

Setiap minggunya, kami bermain di berbagai tempat yang berlainan. Tentu saja, tidak harus dijadwalkan berhari-hari sebelumnya. Kesepakatan muncul bisa berlaku saat ide muncul kapan saja untuk bermain di mana saja. Sekalipun harus bermain dalam lumpur di kolam yang sedang ”dibedahkeun” untuk mencari impun (ikan kecil) atau perang-perangan dengan saling melempar lumpur. (Besambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails