27.4.09

Diarel (Diary Sisi Rel)

Penulis: Agus Bebeng
Domisili: Bandung, Jawa Barat
http://www.facebook.com/profile.php?id=1163328835#/profile.php?id=1163328835


pada suatu waktu.
senja tua kuning telanjang terpuruk di ujung rel yang mengkilat diterpa cahaya senja.
ada gelisah yang menggeliat masuk berkeliaran, menelisik bilik-bilik jantung yang berlubang diterobos polutan yang semakin

tajam.
batas ingatan yang telah kugunting kembali menyatu menjadi puzle yang menampilkan gambar hitam putih; dramatik.
lebih dramatik daripada acara termehek-mehek.

masih jelas kentara dalam monitor ingatan.
saat itu aku sering berlari sepanjang rel menerobos pekat asap kereta tua yang melenguh seperti kerbau tua yang lelah dipecut

anak gembala. tentunya, demi mimpi mengejar pendidikan yang murah meriah dan bakti agung kepada ema dan bapak.
kami selalu saja berlari kencang, ingin mengadu kecepatan hasil dari pembakaran tenaga mie instan dengan tenaga diesel tua

dari Jerman itu. namun tetap saja ular besi itu memiliki kecepatan yang tinggi. mie rebus campur telur goreng dan teh manis

tak mampu meredam kecepatan sang kereta.

padahal dalam khayalanku saat itu aku tengah memerankan Zorro yang membebaskan tawanan dari kaum penindas dengan menunggang

si Tornado yang cepat seperti panah. namun kenyataannya tetap saja kami kalah berlari. tak ayal kekalahan kami lampiaskan

dengan melempari kereta itu dengan batu hamparan dampalan rel. dari sekian puluh kali melempar batu, kadang terdengar sumpah

serapah dari penumpang yang terkena lemparan kami. kami hanya bisa tertawa lepas.

saat ini aku kembali merindukan masa itu.
masa dimana kami hanya berlari pagi dan siang hari. bermain di stasiun tua yang kumuh diisi pedagang asongan, dan gembel yang

meramu kaki dengan lem kayu agar nampak terkelupas kulitnya. atau mengganggu anjing galak milik seorang tionghoa yang

rumahnya bersebelahan dengan stasiun.

bagiku dan kami saat itu, sekitaran stasiun merupakan taman bermain yang tak pernah habis memanjakan kami. aku masih ingat

rumah berpagar tinggi, dengan kawat yang mengitari ujung besinya. rumah megah itu memiliki bel rumah yang terletak di ujung

pintu. kadang kami sering memainkan bel itu sambil berlari membuat sang pemilik rumah yang sama galaknya dengan sang anjing

mencak-mencak berteriak tak jelas. selama seminggu kami melakukan itu pada jam pulang yang sama.

sampai suatu ketika salah satu temanku. mimijit bel itu dan langsung berteriak keras. kami terkejut luarbiasa.
"Anjing nyetrum!" teriaknya sambil menjilat ujung jari.
kami tak percaya.
lalu salah satu teman memijitnya lagi.
benar memang begitulah adanya.
dari pintu tampak sang pemilik tersenyum puas.
sejak saat itu kami tak lagi berani memijit bel rumah tionghoa itu.

stasiun kereta memang tak pernah sepi.
bila malam beganti penghuni stasiun pun berubah.
entah dari kedalaman gua mana mereka datang.
tubuh mereka selalu serong kiri kanan seperti pasukan upacara bendera. di tangan mereka plastik hitam, berbungkus botol

minuman selalu nampak seperti para penjaga kerajaan yang membawa tumbak. sedang mulut tak pernah menghembuskan nafas naga

yang demikian kental. untunglah saat itu belum ada konversi dari minyak ke gas. kalau ada dapat dipastikan banyak gas

meledak. satu lagi, jangan ditanya tentang bahasa yang keluar dari mulut mereka. pasti lebih kotor dari stasiun tua itu.

belum ditambah dengan para perempuan malam yang sering mangkal di jalan dekat rel.

pernah suatu ketika ada pemabuk dan pelacur yang tertabrak di rel.
menurut warga sekitar korban ditutupi telinganya oleh jurig bonge (hantu tuli yang menutup telinga orang). selama seminggu

stasiun itu sepi dari para pemabuk karena konon hantu pemabuk dan pelacur sering mengganggu orang dengan shiluete yang

temaram dan sempoyongan.

entahlah saat itu aku pun demikian takut, tapi kalau dipikir sekarang masa mungkin waktu sadar alkohol demikian lama. atau

jangan-jangan karena preman di stasiun sering menumpahkan arak ke rel untuk berbagi dengan hantu. entahlah. namun yang kuingat sampai sekarang mereka selalu saja mabuk di pinggir rel dengan wajah sangar dan menakutkan.

meski kini aku tak lagi mengencingi stasiun aku masih ingat betul dengan mainan yang sering kami buat saat itu.
sebentar.
sebelum menjelaskan mainan kami. aku jelaskan terlebih dahulu ritus kami kencing.
saat itu di tvri ada acara yang sangat aku senangi. acaranya bernama flora fauna. di acara itu sering kamu melihat anjing hutan yang mengencingi daerahnya. menurut sang narator itu adalah cara menguasai ruang dan memberi tanda pada anjing lain untuk tidak memasuki wilayahnya. maka kami pun sering mengencingi stasiun itu. ternyata memang berhasil mengencingi stasiun itu membuat masinis marah dan penjaga rel melempar kami dengan batu. karena kami memberik bau yang sangat kental di stasiun.

sekarang kembali ke masalah mainan kami yang paling kreatif sedunia.
saat itu, karena kami begitu miskin alias tidak mampu membeli mainan terpaksa kami membuat sendiri mainan kami. salah satu bahan mainan kami adalah paku. biasanya kami sering menggilas paku beton ukuran besar yang biasa kami beli atau curi dari orang yang membangun rumah. paku beton yang sudah tergilas itu biasa menjadi lempengan besi tipis yang sudah membentuk pisau. tinggalah kami mencari gerinda untuk menajamkan tiap sisi yang langsung berubah menjadi pisau. atau dengan usaha sedikit menjadi bekas sapu kami tinggal menyimpan besi di ujungnya dan jadilah tumbak yang bisa kami jual.


begitulah kelakuan kami di sepanjang rel kereta.
mungkin besok aku akan bercerita tentang mainan anak-anak kota yang tak berduit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails