11.4.09

Dari Sebuah Tempat Bernama Gunung Bohong

Penulis: Wiwi Isnaeni
Domisili: Cimahi, Jawa Barat
http://www.facebook.com/people/Wiwi-Isnaini/1622281830

Tempat ini benar-benar ada, meskipun namanya Gunung Bohong. Sebuah segitiga kecil dalam peta Bandung, sebuah titik kecil dalam peta Jawa Barat dan sudah tak tampak bila kamu membuka peta Indonesia apalagi lewat google's earth. Aku adalah salah satu penduduknya yang sejak lahir tinggal disini. Di sebuah titik yang tak terlihat.

Sampai hari ini, aku malu sekali bila harus menyebutkan alamat rumahku, tapi kalau tidak aku sebutkan, pasti tukang becak tidak akan bisa mengantarkanku pulang. Jika aku harus menyebutkan alamat lengkapku secara panjang lebar seperti ini, jalan Panembakan, Kampung Sukasari, Desa Padasuka yang mau ke Pondok Dustira setelah Warung Contong dekat jalan kereta api, maka tukang becak akan menjawab
” Oh Gunung Bohong, bilang dong dari tadi, kan beres” ” seribu aja” ( Ini ongkos becak disaat kamu belum lahir).

Tidak pernah ada yang tahu kenapa namanya Gunung Bohong, bahkan kakek-kakek tertuapun yang masih ada di kampungku pasti menggeleng-gelengkan kepalanya kalau ditanya kenapa kampung kami bernama Sukasari apalagi kalau ditanya asal-usul nama Gunung Bohong.

Aku merasakan betapa tidak enaknya orang mengaitkan nama tempat tinggal dengan sikap yang kita miliki atau perbuatan yang kita lakukan. Pernah sekali waktu aku bercerita pada temanku di sekolah tentang sebuah foto yang dibawa sepupuku dari Jakarta, Sepupuku seorang prajurit angkatan laut, Ia membawakan gambar yang tak pernah kulihat sebelumnya, gambar seekor ikan berkaki manusia yang terdampar di pinggir pantai, ketika kuceritakan pada teman-temanku, mereka langsung menuduhku berbohong, memang pasti banyak yang tidak akan percaya ada ikan berkaki manusia tapi aku janjikan besok hari aku akan perlihatkan fotonya.

Sepulang sekolah aku pun langsung kerumah uwaku dan ternyata sepupuku sudah kembali ke Jakarta, begitu pula foto aneh yang tadinya mau aku pinjam.. Ah, terlambat pikirku. Besok aku harus menerima tertawaan teman-temanku besok dan benar saja, ” Tuh kan udah dibilang pasti bohong, mana ada ikan berkaki manusia, ada-ada saja kamu dasar orang Gunung Bohong, bohongnya segunung!”

Selanjutnya adalah hari-hari yang berat ketika aku harus menyampaikan sesuatu, teman-temanku selalu curiga kalau-kalau perkataanku bohong. Padahal aku bukan orang yang suka berbohong, kadang-kadang kita bicara apa adanya namun apa yang akan dibicarakan harus kita pikirkan akibatnya. Kalau tadi pagi aku bilang makan nasi goreng, pasti mudah sekali untuk dipercaya meskipun sebenarnya tadi pagi aku tidak sarapan, tapi mengatakan sesuatu seperti ikan berkaki manusia meskipun kita benar-benar melihat gambarnya, maka terlalu bersusah payah mengatakan bahwa itu benar dan jadi hal yang sia-sia.

Ada hal lain yang aku yakini bertahun-tahun bahwa itu benar adalah tentang ulat berteriak, nenekku pernah bercerita ketika ia masih sangat-sangat kecil, ia masuk ke hutan dan ia mendengar sebuah jeritan tinggi yang dikiranya suara monyet atau burung. Ternyata setelah didekati, suara itu berasal dari seekor ulat sebesar lengan yang sedang membuka mulutnya dan mengeluarkan suara melengking seakan berteriak. Aku sungguh terpukau dengan kisah itu meskipun disaat kuceritakan kembali pada temanku ia tertawa terbahak-bahak atau lebih tepatnya prihatin dan menyarankanku agar lebih cermat membaca ensiklopedi dan nonton Discovery Channel untuk memikirkan kembali tentang keberadaan ulat yang bersuara dan berteriak. Ia juga mengatakan bahwa nenekku pastinya seorang Ventriloquist yang handal.

Sebuah kebohongan terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun lamanya. Banyak sekali alasan dibalik kenapa seseorang berbohong. Aku adalah anak kecil yang sangat-sangat menjengkelkan, bagiku sendiri dan bagi orang lain, namun nenekku sayang padaku, karena kupikir, aku menerima cinta yang tidak kurang dari cinta yang diterima orang lain, terbukti ketika selama hampir tiga tahun aku tinggal bersama nenek, ia selalu peduli padaku. Karena aku sering bermain sendiri jauh hingga ke sungai yang tak pernah boleh aku sebrangi atau masuk ke tengah kebun karet yang jauh dan gelap. Terpaksa nenekku bercerita tentang ulat yang bersuara untuk membuatku takut dan tidak lagi main ke tempat yang jauh tanpa ditemani dan aku percaya karena nenekku yang bicara.

Gunung Bohong bagiku adalah tempat yang selalu aku rindukan, seburuk apapun kesan yang ditimbulkan dari namanya. Tidak jarang orang penasaran bertanya ”apakah itu artinya tidak ada gunung?”
” Tentu saja ada”
”Apa mungkin dulunya pernah menghilang?”
”Nggak tahu juga”
”Atau mungkin penduduknya tukang bohong ya?”. Pertanyaan ketiga tentunya paling berat untuk dijawab, meskipun perlu waktu lama untuk membuktikan bahwa banyak dari penduduk Gunung Bohong yang hidupnya berhasil karena kejujurannya.
Harus aku catat dengan huruf besar bahwa bohong bukan perbuatan yang baik karena bohong artinya tidak jujur, menutupi kebenaran dan tidak disukai.

Disadari atau tidak banyak sekali nama daerah yang terdengar tidak enak ditelinga, bahkan membuat warganya malu menyebut alamat rumahnya sama seperti aku karena takut dikaitkan dengan apa yang ada pada diriku. Bayangkanlah sebuah nama seperti ” Legok Hangseur yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah sebuah daerah cekungan semacam lembah yang berbau pesing. Kampung kacepet yang artinya kampung terjepit, entah apanya yang terjepit. Satu lagi daerah yang aku tahu adalah Kandang Babi yang katanya dulu ketika Belanda masih menduduki Indonesia, Cimahi adalah pusat kemiliteran dan ada seorang pengusaha Cina yang mempunyai peternakan babi untuk memasok kebutuhan daging para tentara Belanda dan kaum Tionghoa, selanjutnya tempat ini diidentifikasi oleh orang yang akan menuju dan kembali dari daerah itu sebagai Kandang Babi, meskipun bekas-bekas kandang babi itu tak tampak sama sekali. Kandang Babi adalah daerah yang berdampingan dengan Gunung Bohong. Siapa yang mau mengatakan rumahnya di kandang babi? Ada apa gerangan dengan leluhur kami yang menamakan daerah dengan nama yang menggelikan bahkan memalukan?

Tulisan ini di posting ulang dari note Wiwi Isnaeni di Facebook

4 komentar:

  1. judul yang menarik, sebuah tempat yang unik, dan penceritaan yang suka banget.

    BalasHapus
  2. Feti, ditunggu loh kiriman kisahmu dengan kotamu... :)

    BalasHapus
  3. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Dari Sebuah Tempat Bernama Gunung Bohong.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di http://indonesia.gunadarma.ac.id

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails