8.4.09

Cinta di Bandung Lautan Api

Tulisan Oleh Adi Marsiela
Domisili: Bandung
http://marsiela.multiply.com

Email: colenakbandung@yahoo.com

Didi David Affandy (72 tahun) masih ingat betul pengalamannya, 63 tahun silam saat meninggalkan Kota Bandung. Waktu itu usianya masih sembilan tahun. Dia tengah ngabuburit bersama teman-temannya sembari bermain kelereng di dekat rumahnya, Jalan Melong Kidul.

Belum lagi waktu berbuka tiba, Didi harus menyudahi permainannya. Dia dibawa oleh ayahnya, Didi Sukardi pergi keluar Bandung. Ibunya, Iti Sutiah hanya ingat untuk menggendong anaknya yang masih berusia lima bulan dan membawa nasi yang belum lagi masak. Bersama kakak perempuannya, Didi kecil pun berjalan ke arah Bandung bagian selatan sembari menangis. "Kelereng saya masih tertinggal satu," ujar dia.

Sebelum pergi, Didi ingat ayahnya sempat membakar dahulu rumah mereka. Tetangga-tetangga yang lain juga membakar rumahnya sendiri. Perintah untuk membakar rumah itu datang dari mulut ke mulut.

Hari itu, tanggal 24 Maret 1946. Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia, Kolonel Nasution memutuskan untuk mundur bersama rakyat dari Kota Bandung. Keputusan ini diambil setelah ada ultimatum dari Inggris agar pejuang keluar dari kota. Meski sempat ada pertentangan, akhirnya disepakati pejuang mundur, tetapi tidak akan menyerahkan Bandung dalam keadaan utuh.

Belum mencapai lima kilometer Didi berjalan, dia sempat menengok ke belakang dan melihat terangnya Bandung kala itu. "Sangat indah kalau tidak ingat itu dibakar," kenang dia.

Tidak hanya untuk Didi, peristiwa itu membawa kenangan indah juga buat kakak perempuannya, Uun Ratnaningsih.

Jauh sebelum, Uun dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota, perempuan ini sudah menaruh perhatian khusus terhadap atasannya di rumah makan Panca Warna.

Sebagai tanda perhatiannya, Uun memberi selembar kain pada Khoe Tjandra, sang atasan. Agar selalu teringat pada dambaan hatinya, Khoe yang bukan merupakan warga pribumi ini sengaja memasang kain itu di dinding rumah makannya.

Menurut Didi, kepergian Uun itu memang tidak dibarengi dengan Tjandra yang masih tinggal di kota. Seperti diketahui, seluruh penduduk Bandung yang bermukim di selatan rel kereta api mengungsi ke arah selatan karena rumah tempat tinggalnya mereka bumihanguskan.

Bangunan-bangunan yang berada di utara rel kereta api terlindungi oleh tentara Inggris dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Sebagian warga keturunan Tionghoa yang tidak mengungsi pun beralih ke arah utara rel.

Dalam buku "Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan", Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, dan Ummy Latifah Widodo menulis hal ini juga yang menjadi masalah di kemudian hari saat penduduk asli Bandung kembali dari pengungsian mereka. Para penduduk itu kembali setelah tinggal di pengungsian sekitar dua tahun lamanya.

Sekretaris Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Frances B. Affandy mengungkapkan hal ini secara tidak langsung 'memicu' konflik antara penduduk pribumi dengan keturunan Tionghoa kala itu. "Karena ada anggapan orang Tionghoa itu merebut atau mengambil tempat tinggal mereka. Selain itu, mereka juga yang memegang perekonomian," terang Frances kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Setiap kali dia mengingat kisah cinta kakaknya, Didi seringkali meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Tjandra yang memang menaruh hati pada Uun, setia menanti dan berusaha mencari keluarga Didi setelah pergi meninggalkan Bandung.

Sampai pada suatu hari, sekitar dua tahun setelah mengungsi, keluarga Didi yang bermukim di Majalaya kedatangan seseorang suruhan Tjandra. Mang Pii, kata Didi, datang sembari membawa timbel. Tapi begitu dibuka di dalam timbel yang cukup besar gulungannya itu ada kain pemberian Uun buat Tjandra.

"Di situ seluruh keluarga terharu, karena ternyata Tjandra datang mencari. Kain itu sebagai tanda agar Uun percaya kalau Mang Pii itu disuruh Tjandra. Dari sana saya dan kakak dibawa pindah ke kota duluan. Kami tinggal di tempat Tjandra. Tidak hanya itu, dia juga ternyata menjaga rumah kami selama mengungsi," kata Didi.

Enam bulan setelah itu, seluruh keluarga Didi kembali ke Bandung. Uun dan Tjandra menikah. Namun, kini keduanya sudah meninggal. Uun yang menderita kanker menghadap Sang Pencipta di tahun 1985, dua minggu kemudian Tjandra menyusul.

"Ini bukti untuk menampik anggapan sebagian orang kalau orang Tionghoa itu tidak berkonflik dengan masyarakat pribumi di Bandung setelah Bandung Lautan Api," kata Frances yang juga istri dari Didi.

Masih dari buku "Saya Pilih Mengungsi" disebutkan istilah Bandung Lautan Api sendiri sempat muncul di Harian Suara Merdeka, dua hari setelah masyarakat membakar sendiri kotanya. Atje Bastaman, seorang wartawan muda kala itu menyaksikan pembakaran kota dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pamengpeuk, Garut.

Setibanya dia di Tasikmalaya, Atje segera menulis berita dan memberi judul "Bandung Jadi Lautan Api", namun karena kurangnya ruang di media tempatnya menulis, maka judul itu dipotong menjadi "Bandung Lautan Api". [Adi Marsiela]

Tulisan ini dimuat ulang dari blog Adi Marsiela, 31 Maret 2009
Tautan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails