14.4.09

BANDUNG: SEKELUMIT PETA KEHIDUPAN Sebuah catatan kecil

Penulis: Resti Nurfaidah, S.S.
Domisili: Bandung
www.nengresti_tea.blogspot.com
neneng_resti@yahoo.co.id





Bagiku, Bandung merupakan sebuah hanparan sebuah peta yang memiliki wilayah yang berwarna-warni. Peta tersebut juga disertai dengan tanda jalanan, lembah, dan pegunungan. Kawasan yang berwarna warni bukan merupakan tanda yang membatasi luas wilayahnya itu. Tanda jalanan juga bukan merupakan tanda jalanan yang menyambung dari ujung wilayah yang satu ke wilayah yang lain. Lembah dan pegunungan juga bukan merupakan petunjuk bahwa kontur tanah dalam peta memiliki ketinggian yang berbeda dari permukaan laut. Bukan! Bukan sama sekali! Peta dalam pandanganku adalah pertanda bahwa aku telah melampaui beberapa wilayah yang berbeda dalam setiap tahapan perkembanganku. Ya, dalam peta itu jelas tertera wilayah yang pernah kudiami selama sembilan bulan lamanya di dalam kandungan; wilayah yang pernah kudiami selama masa batita dan balita; wilayah yang kudiami selama masa sekolah, wilayah yang kudiami selama masa perkuliahan; wilayah yang kudiami selama masa kesendirianku; dan wilayah yang kudiami selama masa perkawinanku (wilayah yang belum terukur perbatasannya).

Ya, Bandung benar-benar merupakan sebuah peta yang mampu berbicara denganku, dengan sejarah hidupku. Peta yang tidak mungkin kuhapus jejak keburukannya dan tidak mungkin kutambah jejak kebaikannya. Peta itu senantiasa terpampang di dinding imajinasiku yang tidak akan pernah terlihat oleh siapapun. Namun, peta itu hanya mampu menghembuskan nostalgi yang menyenangkan atau menyedihkan bagi lingkungan sekitar yang pernah sama-sama terlibat dalam penyusunan peta itu.

Peta itu begitu melekat dalam kehidupanku, fisik maupun psikis. Berkaitan dengan fisik, peta itu senantiasa menawarkan lahan untuk menggambarkan jejak setiap hal yang kulakukan dan kualami sendiri. Peta itu selalu berbicara kepadaku bahwa aku masih memiliki lahan yang luas yang bisa kugambari dan kutandai selama hayat di kandung badan. Berkaitan dengan psikis, peta itu sangat berjasa sebagai ‘rememberance’ atas hal-hal yang pernah kulakukan dalam suka dan duka. Peta itu akan berbicara tentang dosa dan amalan yang pernah kutorehkan pada permukaannya. Selain itu, peta tersebut befungsi sebagai penanda tinggi-rendahnya volume alur kehidupanku. Gunung dan lembah dalam petaku menjadi saksi bisu atas frekuensi dosa dan amalanku. Jalanan panjang dalam peta itu merupakan pertanda bahwa sampai saat ini interval masa hidupku telah berjalan lebih dari seperempat abad dengan segala lika-liku, tanjakan dan turunan yang tiada putusnya. Pertemuan alur sungai merupakan pertanda bahwa selama kepingan hidup telah bertaut selama lebih dari tiga dasawarsa.Ya, kepingan kehidupanku yang sarat makna.

Bandung, laksana sebuah ukiran abadi yang tertera dalam batinku. Sebuah ukiran raksasa yang belum terselesaikan selama sukma masih bertahan dalam raga. Laksana lukisan panjang di sekeliling Candi Borobudur, ukiran itu pun mampu menyampaikan makna dan cerita dari setiap kepingan kisah hidupku.
Bandung sangat melekat dalam batinku, meskipun aku masih memiliki kampung halaman yang hanya bisa menjejakkan kenangan yang dalam hanya kepada kedua orangtuaku. Kampung halaman hanya bisa kurindukan pada momen-momen tertentu saja, seperti lebaran atau peristiwa-peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran diriku.

Bandung laksana sebuah biduk raksasa yang menghanyutkan diriku di sebuah samudera mahaluas dan tiada berujung. Begitu besarnya biduk itu hingga mampu menawanku dan tidak membiarkan aku untuk membagi rasa cintaku pada biduk yang lain. Betapa dalam makna Bandung itu untukku. Betapa ketatnya ia memeluk diriku hingga tidak membiarkanku lepas sedikit pun. Selain mahabesar, Bandung pun seolah bertindak sangat angkuh hingga tidak membiarkan diriku berselingkuh dengan pangeran yang lain. Bandung telah berperanan sebagai sebuah magnet bagiku yang berdaya cengkeram dengan kokoh. Ya, Bandung telah mengikatku erat-erat dengan manis. Bandung telah menjerat erat-erat jiwa dan ragakku. Begitu banyak hal yang ditawarkan sang biduk kepadaku, hingga aku tidak sempat melayangkan mata dan minat pada pasar yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku lahir di biduk dan samudera yang lain. Bandung tidak pernah membiarkanku menimba ilmu di kota lain, Ia berjuang keras menyediakan ribuan sarana pendidikan dengan faslitas yang beragam, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang sangat fantastis. Tentu saja, fasilitas yang ditawarkan itu harus dibayar sesuai dengan nilai nominal yang ditawarkan sarana pendidikan itu. Bandung tidak pernah membiarkan aku mengais rezeki di kota tetangga di muka bumi pertiwi. Bandung tidak pernah membiarkanku menggandeng pasangan hidup di luar daerah kekuasaannya. Bandung tidak membiarkan keturunanku menyembul di tempat lain. Bandung tidak membiarkan keturunanku untuk menimba ilmu di luar batas wilayahnya. Ia begitu mengikatku erat-erat hingga aku tidak mampu bergerak. Namun begitu, terkadang aku dilepaskan serdadunya jika ada hal penting yang mengharuskan kehadiranku. Aku diizinkannya untuk eksis di beberapa acara, pelatihan pada berbagai instansi, seminar, kongres, workshop, atau berbagai acara lainnya termasuk acara keluarga atau instansi. Dengan demikian, aku masih bisa menghirup udara bebas di seantero tempat di belahan nusantara ini.

Selain menjadi pengikatku, Bandung juga tidak kalah keras upayanya untuk menebarkan mantra dan medan magnet berkekuatan tinggi pada makhluk di berbagai penghujung dunia. Bandung yang dikenal sebagai kota bidadari menjadi kota tujuan utama pembelajaran seni selain Yogyakarta dan Bali. Bandung juga menjadi tempat serbuan peminat studi,, baik dari luar kota maupun mancanegara. Bandung menjadi kota tujuan utama belanja para “buyer” dari belahan penjuru dunia. Pasar Baru seakan menjadi jantung pusat belanja di kota kembang ini. Outlet menjadi biji mata trend mode bagi kawula muda di nusantara dan mancanegara. Bagi para food hunter, Bandung memanjakan perut kita dengan jutaan ragam pangan yang jenisnya mampu menembus hingga ke ujung dunia. Bandung memanjakan nusantara dengan luasnya lahan pekerjaan hingga mampu mematahkan semangat pulang kampung para pelajar di tempat ini.

Ya, sedemikian besarnya jasa Bandung sebagai penebar mantera dan medan magnet di nusantara ini. Namun, upayanya itu ia lakukan dengan pengorbanan yang sangat besar. Rusaknya alam di kota ini dan sekitarnya adalah akibat yang salah satunya harus ditanggung dirinya. Namun, Bandung tidak ubahnya seorang autis yang keras kepala yang tak peduli lagi dengan dirinya dan orang lain. Ia tidak kapok untuk mengepulkan mantera dan medan magnetnya ke berbagai penjuru meskipun harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya yang kini ringkih digerus penyakit tidak ia hiraukan. Tulangnya yang mulai keropos tetap ia gunakan untuk menopang tubuhnya yang semakin tertimbun lemak usang. Wajahnya yang sudah berhiaskan gurat keriput di sana-sini, tetap ia hadapkan pada para pecintanya meskipun untuk itu ia harus menutupi kekurangannya itu dengan olesan bedak yang sangat tebal.
Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tertatih-tatih berjalan bertumpu pada sebuah tongkat mendaki jalan terjal yang naik dan turun dengan curam. Tidak jarang ia terjatuh, terpeleset, terguling, terluka, tergerus ingatannya, dan terkapar …. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak peduli jika langkahnya semakin terseok-seok menyusuri jalan berliku dengan bertumpu pada sebilah tongkat. Tidak jarang ia harus menghentikan langkahnya karena deraan sakit yang luar biasa di setiap inci tubuhnya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia didera gangguan jiwa yang cukup akut melihat para penghuni yang berbuat seenaknya. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tak sanggup membagi warisannya dengan adil karena hartanya dirampas makhluk tak beriman. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu lagi menyusui.

Padahal,anak-anaknya belum lagi pantas ia sapih. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak lagi memiliki cadangan kolagen untuk membuat kenyal setiap mili kulitnya. Padahal, ia dituntut harus berpenampilan sebagai seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Ya, Bandung sudah semakin tua. Ia tidak mampu menahan beban sanggul di belakang kepalanya. Padahal, ia dituntut untuk tampil bak seorang pengantin tradisional yang dikenal dengan sanggul bersunggar-nya.

Tak ada alat kosmetik yang mampu menutup wajah tuanya. Tak ada obat-obatan yang mampu memulihkan penyakitnya. Tak ada mode yang sanggup mengubah penampilannya. Tak ada sepatu yang berdaya menutupi kaki ringkihnya. Tak ada perapian yang dapat menghangatkannya. Tak ada pendingin yang bisa mengompresnya. Tak ada makanan dan minuman yang terbukti mengenyangkannya dan menuntaskan rasa dahaganya.
Ufff, Bandung memang tua … seiring menuanya diriku. Yaahhh, Bandung tidak ubahnya sebuah peta yang rapuh karena disetang binatang pengerat. Mmmmhhhh, Bandung tidak lebih dari seorang nenek tua yang tengah menanti ajalnya.****

1 komentar:

  1. Ayo rumuskan Peta Kehidupan kita...
    Jangan biarkan mengalir/menggelinding begitu saja...
    Semua harus terencana akan tetapi Rencana Allohlah yang pasti terjadi...
    Untuk itu Jangan pernah jenuh untuk selalu Taqorub Ilalloh....

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails