11.4.09

Bandung masa kini = kombinasi antara vampire dan zombie

Foto dan tulisan: Wiku Baskoro
Domisili: Bandung, Jawab Barat
http://wikupedia.co.cc
http://wikupedia.multiply.com



bercerita tentang kota tempat saya tinggal, saya pasti akan memilih bercerita tentang bandung, kota kelahiran dan kota tempat tinggal saya seumur hidup, sampai sekarang.


jika membaca nama saya, pasti orang akan menyangka saya berasal dari suku jawa, wiku baskoro, begitu bunyi nama saya. tidak salah memang karena ayah dan ibu saya jawa tulen, dan dirumah, mereka masih sering bercakap dengan bahasa daerah asal mereka, jawa tengah.

namun jika mendengar saya berbicara tanpa mengetahui nama saya, pasti orang langsung berkata : “asli sunda kang?” dan saya akan menjawab dengan jawaban paradoks: gelengan kepala dan ucapan mengiyakan.


saya lebih menyukai disebut sebagai penduduk asli bandung, ketimbang sunda yang merujuk pada jawab barat, bukan karena masalah rasial tetapi lebih karena masalah pengetahuan. kalau ditanya tentang jawa barat, paling saya hanya bisa mengucap “sumuhun”(iya dalam bahasa halus sunda), tanpa bisa menjelaskan apa-apa tentang asal-usul jawa barat, tokoh-tokohnya, cerita-cerita rakyatnya dan berbagai macam kebudayaan masyarakatnya.

saya lebih menyukai disebut sebagai orang bandung, karena bagi saya bandung adalah wilayah jawa barat yang punya kebudayaan sendiri, yang setiadaknya pernah saya kenal dekat.

dari awal terbentuknya daerah yang nantinya akan jadi kota bandung ini, sudah bisa dijelaskan bahwa bandung tidak memiliki budaya asli seperti budaya khas jawa barat dalam wayang golek misalnya, atau daerah tertentu jawa barat seperti cirebon dengan tari topeng cirebon.


bandung yang awalnya dikuasai oleh orang belanda memang sangat kental budaya campur aduknya, ini bisa terlihat sampai sekarang. dahulu kala modernesisasi ala belanda masuk dalam wilayah hutan yang masih 'kampung'. kota bandung dan penduduknya kemudian saling berbaur dan menciptakan budayanya sendiri. bangunan khas belanda yang merespons tanah yang berbukit sebagai salah satunya, atau jalan dago yang tebentang lurus sebagai jalur utama menuju gudang kopi di daerah jalan merdeka adalah contoh lain, disamping budaya khas jawa barat seperti logat berucap dan penamaan-penamaan jalan yang khas.


sampai kini bandung tetap menjadi kota dengan budaya campur aduk, kini bandung adalah campuran berbagai budaya, antara budaya jakarta yang metropolis, budaya jawa barat yang sunda pisan, antara budaya pendatang dari sumatra sampai budaya pendatang dari papua, bercampur menjadi budaya baru, budaya bandung.

bagi saya, tidak aneh jika banyak orang yang berkreasi di bandung dengan hebatnya, selain wilyahnya yang nyaman (sampai tahun 2004-an) sampai dengan masyarakatnya yang permisif dengan segala kreatifitas yang dimiliki masyarakatnya, baik itu yang asli jawa barat, yang campuran maupun yang berasal dari luar jawa barat.


ketika wilayah jawa barat lain yang sering kali bersifat kolot atas budaya sunda, bandung berkembang menjadi kota dengan seribu budaya, yang pada satu sisi ini menjadi positif namun di sisi lain bisa menjadi negatif, bagi saya itu hal biasa, tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka semua hal positif tentu akan menyimpan hal negatif, vice viersa.


bandung yang nyaman bagi saya hanya sampai pada medio sekitar tahun 2004-2005, tiga tahun ke belakang bandung berubah menjadi kombinasi antara vampire dan zombie iyang menyedot semua darah masyarakatnya untuk menjadi zombie-zombie khas modernitas. sebelum abad zombie ini masyarakat bandung terkenal dengan gang punten-nya, yang disatu sisi mengidikasikan bahwa itu daerah preman, namun di sisi lain menyiratkan bahwa orang bandung itu sopan-sopan, kalau lewat kerumunan mereka akan bilang punten, dan kalau dijalan akan menyapa siapapun entah kenal atau tidak.


sebelum masa zombie, kenyamanan bandung bisa jadi tidak ada duanya, jalanan yang sejuk karena pohoh belum banyak yang ditebang, komplek perumahan yang belum menjamur, mall yang masih terbatas, kendaraan yang masih dalam jumlah yang masuk akal, serta orang-orang yang masih bisa senyum dan tertawa meskin besok tidak tau mau makan apa.


kini pohon di bandung sangat banyak yang ditebang, entah karena alasan sudah tua, atau memang pemkot bandung yang gak becus memelihara dan merevitalisasi pohon, tapi yang jelas, pohon-pohon di daerah yang tekenal dengan kesejukannya seperti jalan aceh, serta daerah gasibu sudah banyak yang ditebang. coba mampir di depan kantor perhutanan di daerah gasibu, coba hitung berapa banyak pohon yang ditebang di depan kantor itu, dan coba bandingkan dengan umur pohon penggantinya (jika ada). saya jamin pasti bakal geleng-geleng kapala.


kota bandung yang penuh potensi ekonomi juga ternyata bisa menjadi pisau yang malah mematikan warga asli bandung, seperti saya. potensi wisata belanja yang diekspolitasi berlebihan malah menjadikan kota yang saya cintai dengan sangat ini menjadi amburadul. kesalahan bisa jadi milik pemerintah kota, tapi kalangan bisnis juga mungkin harus diberondong pertanyaaan, seperti mengapa membuat pusat belanja di belokan jalan riau (sebelah riau 11) dan membuat macet persimpangan di depannya karena pengaturan parkir yang gak beres. atau mungkin maysrakat kreatif a.k.a distro juga mesti diberi pertanyaan pertangungjawaban seperti, kenapa harus membuka distro di sepanjang jalan trunojoyo sehingga mengakibatkan jalur itu harus dijadikan satu arah karena kalau tidak macetnya bisa sampai sepanjang jalan riau. belum selesai dengan masalah macet dan konsumerisme ala factory outlet, kini kaum konunitas yang menjuliki mereka kaum indie malah ikut-ikutan juga membuat bandung hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.

saya hidup di bandung dari tahun 1981, ketika derah margahayu raya masih bayak sawah, tepat ketika galungung meletus. saya sd, smp, kuliah dan bekerja di kota bandung, ketika jalan tikus parakan saat saat masih sangat sejuk dan sangat nyaman di lewati karena banyak sawah dan belum ada proyek-proyek rumah kluster yang menjamur.


saya hidup di jaman ketika pengendara motor tidak awut-awutan seperti sekarang dan angkot masih ramah pada pengemudi jalan lain. saya hidup ketika bangunan sarinah di jalan braga masih memajang produk dengan etalasenya yang khas, wayang-wayang serta beragam produk budaya indah yang begitu merasuk membuat imaji akan jalan braga sebagai jalan 'budaya'.


saya hidup ketika taman kota tidak dipagari dan digembok, ketika air bersih masih bisa didapat dengan sedikit bersabar menunggu pomap air bukan membeli di tukang air keliling. saya hidup ketika batagor masih murah dan rasanya begitu khas rakyat, bukan dengan harga tinggi dan rasa yang sangat kapital.


saya hidup ketika komunitas begitu komunal tanpa klaim-klaimkhas pemilik modal yang serakah yang ingin mendapatkan legitimasi atas produk budaya yang mereka hasilkan, padahal tak ada yang bisa meng-klaim memiliki kebudayaan publik selain publik itu sendiri. saya hidup ketika label independen itu adalah tatanan budaya paling keren sebelum kini berbuah menjadi mahkluk menjijikkan yang sangat opurtunis.


saya tidak anti kapital, bagaimana mungkin, saya seorang pedagang, setiap pedagang pasti membutuhkan dan mencari kapital (dalam arti modal atau uang), tapi bukan berarti saya menjadi begitu tunduk pada kapital. masih banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk menyinergikan antara komunitas dan modal. saya menyebutnya ekonomi berbasis komunitas.


kini menjadi sangat sulit bagi saya untuk mengikuti perkembangan kota bandung yang mesti saya sebut dengan istilah perkembangan konsumerisme yang kebablasan ini. bandung kini tidak lagi dipandang sebagai daerah bersejarah yang merekam bagaimana masa sejarah bisa dilihat dan diteliti dari cerita dan makna bangunan-bangunannya yang sangat cantik, nama-mana jalanya yang unik serta berbagai budaya yang ada. Bandung, bagi saya, kini hanya dipandang sebagai objek kapaital yang mesti diperah terus-menerus samapi menunggu ia (bandung) kembali tenggelam dan menjadi danau purba kembali.


terus terang, rasa cinta saya pada kota bandung tidak akan pernah punah, namun ditengah himpitan kemajuan yang salah kaprah ini, saya harus mulai berpikir untuk mencari tempat idaman lain. meski saya tau dengan pasti: tidak ada yang bisa menggantikan kota bandung.

1 komentar:

  1. SAMPURASUN!

    keren euy!sepakat saya juga Kang!Bandung sudah berubah menjadi "kota kreatif" dengan berkiblat ke para pendahulunya seperti New York,Tokyo,Paris dll.Prihatin kalo kita denger acara2 yang berwacana "memajukan kreatifitas kota Bandung" tapi ujung2nya hanya kedok untuk meraup keuntungan sebesar2nya tanpa mementingkan unsur2 kebudayaan atau seni nya.
    Bertameng sebagai "kota kreatif" Bandung perlahan-lahan jatuh (baca:tenggelam) kedalam konsumerisme,kapitalisme dan -isme2 buruk lainnya.Menyesali keadaan perlu..tapi jangan terlalu lama.Ayo bergerak,satukan kekuatan,rapatkan barisan,pererat silaturahmi.

    10.10.10 nanti di ITB ada Pasar Seni...mudah2an bisa jadi salah satu obat buat "penyakit2" Bandung dan tentunya Indonesia.Mudah2an tidak hanya sekedar "acara" aja, tetapi dapat diambil maknanya oleh seluruh manusia yang ada di sana(termasuk panitianya..hehehe) dan menjadi bibit bangkitnya nasionalisme dan kebudayaan setempat.
    AMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!!

    Nuhun euy!SAMPURASUN
    KMSR-ITB...

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails