30.4.09

Balang, Kampungku Diantara Kota Lama dan Kota Baru

Penulis: Muslimin Daeng Lalo
Domisili: Makassar, Sulawesi Selatan

http://muslimindaenglalu.blogspot.com
musliminbputra@yahoo.com

Sejak dulu, Kampung Balang, Jeneponto, Sulawesi Selatan bukanlah kampung biasa karena keberadaannya di lingkungan Kerajaan Binamu merupakan suatu wilayah otonom. Pada masa itu, wilayah otonom dibawah Kerajaan Binamu bernama gallarrang, mungkin setingkat propinsi atau kabupaten sekarang ini karena pada prinsipnya sebuah kerajaan adalah sebuah negara tersendiri pada masa dulu. Sedang Kerajaan Binamu bukanlah bawahan dari Kerajaan Gowa, sehingga Kerajaan Binamu merupakan kerajaan yang memiliki otonomi tersendiri diwilayah selatan Pulau Sulawesi.

Letak wilayah Kampung Balang berada diantara kota lama dan kota baru yang menjadi Ibukota Kabupaten Jeneponto. Kota lama adalah wilayah berada dipesisir selatan yang sekarang meliputi Kampung Monro-Monro, Tamabayara, Tanjung Ala. Pada kota lama masih berdiri beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda seperti Gedung Lembaga Pemasyarakatan (penjara) dan bangunan Sekolah Dasar Negeri 1 Jeneponto yang masih memiliki arsitek model Belanda. Pada kota lama Jeneponto ini juga masih berdiri kokoh istana Kerajaan Binamu yang berarsitektur khas etnik Makassar berupa bangunan rumah panggung terbuat dari kayu hitam yang areal halamannya sangat luas (alun-alun).

Sedang kota baru Jeneponto adalah wilayah Bontosunggu yang berada di dataran tinggi (Bahasa Makassar = bonto artinya dataran tinggi). Pada kota baru berdiri bangunan gedung kantor bupati Jeneponto dan gedung perangkat pemerintah kabupaten lainnya seperti gedung parlemen daerah (DPRD Jeneponto). Bangunan rumah jabatan bupati Jeneponto benar-benar juga berada diatas bukit sehingga menambah kuat kesan Kota Bontosunggu sebagai kota yang berada diatas ketinggian laut.

Ketika aku masih kecil pada era 1970-an, sungai yang mengalir di wilayah Kampung Balang merupakan urat nadi kehidupan warga Kampung Balang. Mungkin karena sungai yang memblah Kampung Balang maka kampong ini disebut Balang yang berarti sungai. Airnya yang jernih menjadi sumber air minum utama warga Balang. Namun kini air sungai itu telah mengalami abrasi sehingga airnya menjadi asin dan tinggal menjadi sungai tempat memancing ikan dan sumber penggalian pasir.

Pada masa aku memasuki bangku sekolah dasar, setiap pagi keberadaan sungai Balang merupakan area yang paling ramai sebagai tempat mandi pagi. Di sungai ini aku menemukan kebebasan untuk berenang karena sungai ini menjadi sarana alami yang membantuku bisa berenang tanpa bimbingan seorang pelatih renang. Di sungai ini pula banyak kenangan indah masa kecil.

Salah satu kenangan masa kecil di sungai itu adalah pada saat-saat menjelang buka puasa di bulan Ramadhan. Aku dilatih berpuasa oleh orangtuaku sejak memasuki usia sekolah. Bila menjelang sore, badan terasa lemas. Pada saat seperti itu, aku biasanya menghabiskan waktu di sungai dengan berenang menghangatkan tubuh sambil sesekali memasukkan air ke dalam mulut.

Pada sore hari, aktifitas di sungai itu sama ramainya dengan pagi hari karena setiap orang membersihkan badan sehari dua kali. Seingat saya di sungai Balang terdapat enam tempat mandi berupa lekukan tanah di pinggir sungai yang sengaja dibentuk untuk memudahkan orang menuju sungai. Biasanya berupa susunan batu-batu besar dibuat bertakik-takik dan tersusun dari sisi daratan hingga ke bibir sungai. Batu-batu yang disusun itu bentuknya datar segiempat memanjang. Entah dari mana didatangkan batu-batu itu, dan cara membentuknya. Yang jelas kesannya unik dan cukup eksotik. Di atas batu-batu segi empat ini biasanya para ibu-ibu dan remaja putri melakukan aktifitas cuci baju dengan beralaskan sarung menyelimuti batu. Tetapi beberapa diantaranya tidak menggunakan alas sarung, karena beberapa batu itu berwarna putih bersih sehingga cukup dibersihkan dengan air lalu menaruh cucian diatasnya.

Pada sungai itu pula menjadi sumber air minum. Biasanya air minum diambil pada tengah-tengah sungai yang biasanya terlihat jernih. Air yang akan digunakan sebagai air minum itu menggunakan jerigen dengan bermacam ukuran. Cara membawanya dari tengah sungai ke pinggir sungai sangat hati-hati agar terkontaminasi oleh air mandi seseorang yang biasanya melakukan aktifitas mandi pada pinggir sungai.

Dengan banyaknya aktifitas warga yang berpusat di sungai itu, maka keakraban dan jalinan sosial lebih banyak terjadi di sungai. Orang-orang banyak terlihat akrab, berbincang-bincang di pinggir sungai atau di dalam sungai sambil mandi dan berenang. Meski sungai ini tidak menghasilkan atlet renang berprestasi, tetapi pada sungai inilah sarana alami setiap warga kampung melatih diri berenang sehingga semua warga : tua-muda, laki-perempuan, anak-anak hingga kakek-nenek bisa berenang.

---000---

Seiring berjalannya waktu, sungai itu mulai berubah pada setiap pergantian musim. Pada musin penghujan, air sungai meluap sehingga menggenangi hampir seluruh rumah warga. Tetapi pada musim kemarau, sungai itu setiap tahun berubah menjadi asin airnya. Akibatnya Sungai Balang secara perlahan mulai ditinggalkan warga. Bersamaan dengan itu pula, sebuah proyek pembangunan air bersih dibuat pada era 1980-an ketika aku masih duduk dibangku kelas 1 atau kelas 2 SD Balang I.

Masih lekat diingatanku, proyek besar itu melintasi jalan dan membentang dari kota baru hingga kota lama. Saya menyaksikan para pekerja proyek itu menggali satu sisi jalan sebagai areal untuk dipasangi pipa-pipa. Secara kebetulan para pekerja proyek itu yang berasal dari berbagai daerah di luar Jeneponto menyewa sebuah rumah di kampung Balang. Jadi saya memiliki kesempatan melihat alat-alat dan perangkat proyek air minum itu.

Setelah proyek air bersih rampung beberapa tahun kemudian, hampir setiap rumah mengajukan permohonan pemasangan instalasi air minum. Berubahnya perilaku warga dari berpusat di sungai menjadi berpusat dirumah masing-masing mengubah pula pola jalinan dan jejaring sosial. Hampir tidak dijumpai lagi tempat-tempat warga yang bisa menjadi sarana berkumpul dan menjalin keakraban satu sama lain. Warga berubah menjadi individualis karena ketiadaan pusat sarana aktifitas bersama para warga Kampung Balang selain di mesjid.

Di Kampung Balang telah lama berdiri sebuah mesjid bernama mesjid Fastabiqul Khairat. Mesjid yang menjadi tempat berkumpulnya warga hanya ramai ketika memasuki bulan Ramadhan. Seiring renovasi yang dilakukan pengurus mesjid berkat bantuan finansial seorang dermawan keturanan warga Balang yang menjabat posisi strategis dalam manajemen Semen Tonasa, Pangkep maka mesjid tersebut berhasil disulap menjadi mesjid besar dengan design arsitektur modern. Mesjid inipun berubah menjadi pusat aktifitas baru warga dan menjadi icon Kampung Balang. Meski Balang diapit oleh kota lama dan kota baru Jeneponto, para warganya dapat membangun kampungnya sendiri melalui swadaya warga dengan tetap hidup diatas prinsip kekeluargaan meski zaman terus berubah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails