8.4.09

Aku dan Jogjaku

Penulis: Elida Tamalagi
Domisili: Jogjakarta, Jawa Tengah
http://www.kinokijogja.blogspot.com/


Ini adalah kumpulan catatan harian saya dan kota saya. Paling tidak, sejak akhir 2005. Banyak yang tentu sudah tercecer dalam kurun 10 tahun sejak saya memutuskan untuk menjadikannya tempat tinggal. Kisahkisah romantik tentang bagaimana saya bisa seenaknya pergi ke rumah sebelah dan meminta gula sampai rumitnya menawarkan rokok kepada orang asing. Tentang kondisi yang selalu saja « setengah asing » ketika saya hadir sebagai orang yang bukan jawa sekaligus terlalu familiar kalau sudah berurusan dengan profesi atau minat tertentu. Tentang memutar film yang terlalu sering dan impresonateur nicky astria. Tentang bersepeda setelah gempa bumi. Tentang saya dan jogja di kepala saya.

20 Desember 2005 : reuni gagal, rolling stones gagal, nostalgia gagal

Hari ini harusnya jadi reuni nasional. anak sospol buat Tribute To Rolling Stones, dan semua pada antusias. semua, gw jelas! dah lama gak punya kehidupan sosial, joget, ngakak, menghina, mabuk,...semuanya. tapi ada-ada aja kejadiannya.

jam 7.00
siap mo berangkat,tiba2 kinoki kedatangan tamu. dua orang, yang satunya, kondang. udah dibilangin lagi tutup, malah "wah kebenaran, malah bisa ngobrol" tadinya gw males ngeladenin, tapi ndul antusias.okelah, untuk beberapa menit gak masalah. ternyata orang itu nyerocos aja, nanya2...tanpa jeda. dengan sebel gw ngomong: kameranya mana sih? emang mbak lagi wawancara ato gimana? hehehe...efektif, dia langsung menurunkan tingkat intensitas. tapi tetap aja, menurut gw, sengak! okelah, kamu dari jakarta, mumpuni di bidang film, tapi paling gak...gw mau jalani ini dengan cara gw!bukan bermaksud menampik niat baik orang, tapi kadang2, susah sekali membedakan niat baik dan manipulasi niat baik. mpfh...jam 9 gw cabut ke sastra.eh, sospol maksudnya.

jam 10.00
nitip sepeda di parkiran, ke sospol dah ada anto,gajul,nicko, Wu....todos! Coba nelpon Vanessa, dan dia datang dengan orang Spanyol yang tipikal ama Diego. Gw sampe mikir kalo Diego ditemukan dari Paris. terus nelpon Windu, nanya warnet, karena tetap ada yang harus dikerjakan.tapi dah tutup jam 3 sore kayaknya. waktu itu juga gw sadar, kebodohan menahun! mana ada warnet kampus buka 24 jam? tapi, bonbin blues kok belum main? dan musiknya, SAMA SEKALI GAK ROLLING STONES! ada yang bergaya MOCCA,atau white shoes apa gitu yang lagi ngetop, trus EMO (yang ini juga gw baru ngerti), tapi yang jelas TIDAK ADA ROLLING STONES! PENIPUAN MACAM APA INI???? ada anak2 grafis angkatannya rudi:Si Aceh, Koko, dll.jadilah kita kecewa bersama.

jam 11.00
Bonbin Blues main. gw langsung ke depan! asik, cukup mengobati rindu. gw pikir tempat B memang di panggung. ada wawil juga nonton, jadi sedih...agak2 teringat pada Kumpeni...

jam 12.00
gak ada lagi yang bisa dikerjakan. teman2 sudah terlalu mabuk, dan emang generasi gw gak nampak.gw gak berani minum, baru sadar seharian belum makan. pulang ah...mampir makan di mas slamet, ternyata ANJING! PINTU KAMPUS KETUTUP SEMUA! gw tersesat bego keliling2 dalam kampus. astaga...KAMPUS SIAPA INI???WAHAI REKTOR!!!!

edisi nostalgia malam

Setelah putus asa keliling kampus mencari gerbang yang buka (dan ternyata mas slamet juga udah gak ada..wahai, dimakah dirimu sekarang mas slamet?Ita, sudah sekolahkah?), akhirnya gw ngambil jalan pulang. sepanjang jalan, banyak banget nemuin penjual yang lagi beresin daganganya ditunggui motor pick up sejenis Tossa. baik juga buat mereka, terpujilah penemunya!

Terus ke selatan sampe jembatan kewek, jalan ditutup.belok kanan, ke arah jalan yang jualan kembang. jadi ingat, disini dulu gw sering markir mobil dan nangis sendirian, sambil ngeliat lampu2 rumah code. sekarang, di tempat itu ada angkringan minuman, santai keliatannya. kapan2 harus coba. ada juga rumah2 tuna wisma, yang sangat rendah dan pasti bocor. ingatan pertama, lagunya Innocent Voices: Que tristes vivent el gente en las casas de cartoon...

mampir ke lik man, edziannnn! rame tenan! benar2 rame.tidak bisa bernostalgi lagi.terlalu penuh. tapi juga yang dagang bukan hanya lik man seorang, ada beberapa dengan komoditi yang relatif sama. dari sisi ini,gw bisa ngerasa positif.paling gak, ada yang bisa hidup. makan bihun goreng, di belakang gw percakapannya high tech:"...MP3...itu bisa tune ini ke... yah pixelnya berapa dulu...resize gak pecah kok..." gw gak ngerti! pastilah.

perjalanan dilanjutkan, harusnya sekarang gw dah tidur nyaman di kinoki.tapi masalah warnet belum teratasi. jadi, begitulah...

tiba-tiba ingat puisinya rendra Blues untuk Bonnie. rasanya pas dengan suasana sekarang.

blink! menghilang.

12 januari 2006 : oma di dalam taxi

sesuatu yang begitu kuat menggerakan saya untuk pergi ke toga mas malam ini. peluncuran buku film, biasa saja. tapi ketika pulang, saya terpaksa naik taksi karena beberapa janji sudah meghadang di kinoki. begitu masuk, saya langsung disambut ramah:
Mau kemana nak?

Kaget! suara itu suara seorang ibu. tapi sedetik kemudian saya menampik kekagetan tadi. kenapa memangnya kalau ibu ,maksud saya (pasti!) perempuan,jadi sopir taksi. tapi kemudian dialog dengan si ibu mengalir sehingga perdebatan dalam diri saya tidak bisa berlanjut lama.
ibu lalu bercerita tentang banyak hal: pengalaman jadi sopir, anak yang sudah selesai S2 dan menjadi dosen di papua,blablabla...
tidak seperti biasanya, saya sama sekali tidak merasa terganggu. ada sesuatu dalam nada suara ibu itu, yang kemudian membahasakan dirinya sendiri "oma", yang mengikatku erat. sesuatu yang intim...apa ya?
ketika penasaran saya tidak bisa diredam lagi, saya lalu bertanya:
Oma aslinya dari mana?
jawabnya:
Ambon-Manado

Aha! ini dia. sesuatu mengalir dari dalamku kuat sekali, menghasilkan pernyataan: saya dari Palu.
percakapan kami sesudah itu sangat menghanyutkan saya. bahkan nada yang keluar ketika saya mengaku dari Palu, rasanya adalah sebuah nada kelegaan. kerinduan terhadap sesuatu. nada yang sudah lama menanti saatnya untuk keluar.untuk memperdengarkan diri.

ah..Oma memang mengingatkan saya pada sosok mami: tegas, sedikit bengal, namun juga tulus dan penyayang. cara oma menceritakan peristiwa, sudut pandangnya, semua sungguh mewakili masa mamiku. benarkan itu adalah produk cara pandang kolektif? bahwa sebagai orang kristen harus blablabla... bahkan dengan oma, entah secara sengaja atau tidak,saya pun memainkan peran yang sama jika sedang menghadapi mami.bedanya, kali ini penuh senyum. senyum karena mengingat bahwa semua percakapan ini telah menjadi sesuatu yang sangat familiar dan terinternalisasi dalam diri saya, sehingga kapanpun memori ini terpanggil,akan langsung mengacu pada sosok mami.

Perjalanan gejayan-tirtodipuran seketika terasa begitu singkat. apalagi kami sampai bernyanyi "parcuma...beta susah di rantau" yang menjadi lagu wajib setiap orang indonesia timur. bernyanyi dengan pasangan sopran-alto. lagi, sangat membawaku pada karakter mami.

Ketika sampai, saya spontan memeluk oma dan menciumnya. ada bagian dalam diri saya yang membutuhkan relasi dan sentuhan fisik semacam itu. sesuatu yang tak akan pernah tergantikan. sesuatu yang entah kapan terakhir kali saya rasakan.

terima kasih oma..

10 Mei 2006 : impresonateur

Ini akibatnya kalau mau sok tampil. Minimal saya harus menghindari pasar prawirotaman selama dua minggu setelah kemarin malam mengubah diri menjadi nicky astria selama satu setengah jam. Paling tidak, si mbah penjual sayur cepat tanggap dengan kalimat pembukanya pagi ini : ealah mbak…jebule apik le nyanyi.
Dasar prawirocktaman !

11 juni 2006 : museum hidup
Ketika London mengalami kebakaran selama lima hari berturut-turut tahun 1966, penduduknya seperti menyelipkan kelegaan tersembunyi. Ini adalah masa ketika kota (dan masyarakat di dalamnya) menolak untuk menjadi museum hidup. Bukan sebuah eskalasi semu macam pejabat yang naik pangkat tak hentihenti, bukan. Mereka tetap mengingat bahwa sejarah adalah garis lurus semata dan pilihannya adalah membelokkannya, merunut, atau melompatinya. Kebakaran seolah menjadi jalan tol bagi konglomerasi dan paham (waham?) efektif dan efisiennya untuk membangun lusinan gedung tinggi dengan taman bermain atau kolam berjemur di puncaknya.

Aku ingat peristiwa itu, sejernih ingatanku tentang setiap bangunan yang terkulai impoten sepanjang jalan katamso dan parang tritis. Romantik, bagaimana setiap mereka berbicara tentang banyak hal yang telah disaksikannya puluhan tahun. Bagaimana aku menikmati pohon pisang dan tanaman jagung di balkon sebuah toko stiker bersisi-sisian dengan toko material, keduanya mungkin tertua disana. Pemandangan hampir setiap subuh dari seberang jalan, sambil menikmati teh hangat gurih buatan mbah koyor.

Kota ini, mungkin dia lelah menjadi pengingat tentang segala yang adiluhung. Mungkin dia butuh berbenah. Dan lembaga internasional jelas menjadi yang paling tahu apa yang INGIN mereka lakukan disini. Aku membayangkan joglo berbaris rapi, kiri dan kanan. Tidak buruk, tentu saja. Andaikan ia tidak sekedar memanggul beban kearifan lokal taik kucing itu....

Dan tidak lagi ada lorong untuk berjalan menunduk sambil menangis diamdiam saat gerimis, seperti prosa sajak Sapardi:Pada Suatu pagi

Andaikan beberapa ingat, bangunan bergaya kolonial, sama sekali tidak buruk. Sama sekali tidak... pemandangan yang akan kurindukan, sepanjang katamso dan parang tritis.

Time is a kind of friend, it makes us old. Tapi apakah sejarah, GM menuliskannya sekali, selain sebuah impian yang tak sepenuhnya terlaksana; suatu kronologi tentang kekeliruan?

29 Januari 2007 : tentang folder lama yang terbuka satu per satu

Kata B, kepalaku tampak berdenyutdenyut.Dia berdiri di belakangku. Mempermainkan kepala yang baru saja plontos lagi, sementara saya menggeremeng di depan komputer. Mungkin benar, sialnya, sepertinya dia lebih banyak berdenyut bukan untuk diriku sendiri.
Di jakarta kemarin, bertemu papi dan sahabat, mereka hanya butuh kurang dari 15 menit untuk mengatakan kesimpulan mereka: kamu sudah capek ya hidup di Jogja? Iya! Sialnya lagi, saya tidak pernah benarbenar menyukai kota lain. Setidaknya di Indonesia, sesuai dengan kemampuan ekonomi saya.
Sebulan kemarin, seorang kawan yang berkunjung dari bandung bercerita. Dia selalu menyempatkan ke jogja sebulan sekali. Menikmati perjalanan kereta, menginap di hotel murah dan berkeliling kota dengan sepeda bekas yang dibeli dan dititipkannya entah dimana. Mendengar ceritanya, saya akhirnya bertukar kisah. Saya juga selalu ke jakarta ketika merasa ada yang tidak beres, hanya untuk mencuri waktu orangorang dekat dan kemudian pulang dengan kesyukuran bahwa kota saya memberi waktu yang melimpah dan menjadikannya jauh dari mewah. Ironis, tapi mau apa lagi.
Pernah suatu pagi, saya bangun dan langsung menodong seorang teman untuk piknik. Teman yang ini, kurang lebih sama saja dengan saya. Bertahuntahun menunda kepulangannya, karena merasa tidak bisa hidup di tanah kelahirannya. Padahal kalau boleh bilang, dia orang bali paling bali yang saya tahu. Tetap saja, ketika sampai pada urusan keterikatan geografik, romantisme dan realita tibatiba berjalan ke arah yang berbeda. Kembali ke soal piknik, sejak dari selatan sampai ujung utara jogja, saya masih saja bertemu orang yang saya kenal. Atau mengenali saya. Dan menyapa. Sial! Si teman berkata, melihat kamu saya masih merasa lebih beruntung. Paling tidak, saya selalu bisa lari ke utara kalau tidak mau terjebak pembicaraan seni. Saya hanya bisa cemberut.
Beberapa hari kemarin, sepertinya saya bertemu obat anti cemberut. Iya, saya bertemu orang lagi, seseorang dari hidden files. Folder lama. Sesuatu yang membawa saya pada pemahaman (dan harapan) baru. Mungkin saya hanya harus belajar bertahan, bukan hit and run seperti yang selama ini saya lakukan.

Malam ini, dengan red wine dan gerimis di soboman, saya mendengarkan lagulagu pengisi Badai Pasti Berlalu, tentu saja versi asli dengan aransemen langsung eros jarot. Begitu megah, begitu mendalam. Sebuah entry dalam blog pribadi teman saya bicara tentang betapa muaknya dia, sekaligus betapa dia heran mengapa belum pernah punya keinginan untuk mati. Hanya ingin mencari jalan yang lain. Katanya, kalau segalanya menjadi terlalu busuk, coba saja untuk jadi anak band. Cara yang paling menyedihkan untuk mempermalukan diri dan terlihat keren. Tapi paling tidak, ini masih kata dia, anak band selalu bisa meniduri fansnya. Haha... rock and roll no longer a music anymore. They just rolling and rolling, but forget to rock. seperti juga saya, yang berlompatan di antara berbagai folder dan direktori yang saya punya.

Tentang Badai Pasti Berlalu, film itu adalah gambaran epos percintaan yang paling utuh dan dahsyat yang pernah saya punya. bahkan walau bersanding dengan Annie Hall. Bagi Paulie, dalam perjumpaan kemarin, ia bahkan menyejajarkan dosa pembuatan kembali film itu dengan upaya menulis ulang kitab suci.

Saya memang belum punya epos, tapi beberapa tempat persinggahan yang nyaman sudah saya alami. Dan bagi platonis bungkuk seperti saya, semua ini sudahlah cukup melegakan.
Melihat beberapa foto teman saya ini, ada satu yang selalu sama. Sesuatu yang selalu memberi kesan mengajak saya untuk terus hidup. Optimisme tanpa cangkokan, bara yang terjaga panasnya.

27 desember 2007 : dari lelang tanaman sampai super trouper

Banyak kawan yang merespon pengumuman kami tentang lelang tanaman. Senangnya! Acara yang salah judul, karena kami tidak tega untuk berkata pembersihan. Inisiatif spontan saya tentang menyebarkan tanaman kami ke tempat teman-teman dan kenalan, ketika sadar bahwa kami takkan mungkin lagi kembali ke lingkungan itu. bukan saja karena harga yang pasti semakin tak terjangkau, namun juga karena rasa “kota tua” perlahan sudah tersingkir. Jika tidak dengan cat ala permen sugus, maka berarti fasçade kayu atau semen kongkrit yang sering dibahasakan “minimalis modern”.

Membiarkan teman-teman memiliki sebagian dari diri kami, adalah alasan lain. Sesuatu yang tumbuh sebagai cerita, seringkali abadi di ingatan. Saya merenungkan hal ini sambil mengingat lagu ABBA, super trouper.

“tonight the super trouper lights are gonna find me

Shining like the sun

Smiling having fun, feeling like a number one

tonight the Super trouper

beams are gonna blind me

but i won’t feel blue, like i always do

Cause somewhere in the crowd there’s you”

Seperti telpon dari the mami yang penuh berat hati pagi tadi. Setelah menanggapinya dengan sepenuh hati, saya mengumpulkan kekuatan yang tersisa : kakak, keponakan dan tentu saja the papi. Pagi tadi, untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, saya merasa kehilangan suasana natal bersama keluarga saya. sebuah super trooper. Leaning rock. Batu karang tempat bersandar, karena tidak menawarkan kenyamanan, tapi keteguhan. Sesuatu yang sangat saya perlukan. Dan sudah menemukan saya.

29 Februari 2008 : cerita sorban, janggut dan si penggerutu

Menonton beberapa film dengan nuansa timur tengah pagi tadi dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terhimpun, hanya membawa satu pertanyaan bagi saya:

Bagaimana mungkin Hollywood bisa mengumpulkan sejumlah orang bersorban dan berjanggut, tanpa nama dan tanpa sejarah seperti ini?

Jika semua kejadian itu hanya manipulasi studio, maka siapakah mereka dalam kehidupan sehari-hari? pencuci piring dengan gaji harian, tukang ledeng,.. apa? Dog walker pun tak mungkin, karena itu berada di wilayah terang.

Jika semua itu dikerjakan di daerah asal mereka, negeri apapun dengan akhiran –stan, tidak bisa saya bayangkan mulut manis si pencari bakat. Tentu mereka tetap tidak dipanggil dengan sebutan bakat, “talents”. Lagilagi sekumpulan orang tak bernama tanpa sejarah, extras.

Menghadiri acara pemutaran film malam ini, yang lebih tepat disebut pentas seni, karena audiens dan suasananya, saya kembali memikirkan sorban-sorban dan janggut-janggut yang saya alami tadi pagi. Baru saya sadari, Che dan Mao tidak lagi semeriah dulu, di lampu merah atau di rak toko buku. Pasar kehabisan tokoh, amerika kehabisan musuh.

Saya memikirkan semua ini sambil meringkuk di sudut auditorium yang berisik. Acara pemutaran, yang harusnya sesederhana kita memencet tombol “play” itu sudah molor satu setengah jam. Ada dua mc yang bergaya bak penyiar radio jakartanan, dandan dan suaranya. Tibatiba saya merasa terlalu jauh memaksakan diri. Saya hanya pelengkap seperti para sorban dan janggut.

“i’m just an old fashion maid,
with no taste of todays fashion. Old maid i am. The bitter one”

Saya bergumam seperti itu sambil menerobos gerimis dan mengayuh sepeda.

Pulang.

16 Maret 2008 :Tentang panggung yang mengasingkan saya dari puisi
Saya tidak mengerti.

Sama sekali tidak.

Sejak kapan puisi bisa dinikmati dalam komunalitas? Tercipta dalam sunyi, seperti itu yang saya tahu, atau paling tidak, pernah tahu, tentang nya.

Penyairpenyair yang saya sukai atau tahu, pada umumnya adalah penyendiri akut. Mati karena TBC dan tak terurus, di motel kumuh. Atau hotel mentereng dengan gundik yang terlalu mabuk.

Atau inikah masa kini? Hal yang paling mengundang sunyi adalah keramaian. Kesunyian paling mendasar yang diperkenalkan nabi tunggalnya, kota besar.

(Beginilah mungkin jaman sekarang itu. kumpulkan sekian umat, supaya saya bisa merasakan
kesepian itu.)

(jika begitu wajah jaman ini, yang sekarang itu, jelas saya sudah tertinggal jauh. Sebab sunyi saya adalah mencari diri sendiri, bukan menenggelamkannya di lautan wajawajah yang tersenyum padamu.)

Kota ini terlalu cepat besar ya?

Anonimus menjadi hal yang muskil. Di dalamnya, saya tumbuh menjadi orang yang kalah. Karena puisi sontak menjadi bahasa seharihari. Dan sunyi, seperti saya, meraung, kehilangan saudara kandungnya.

Saya dan sunyi samasama dikalahkan.

Jadi, malam ini,
adalah perpisahan kekal bagi saya dan sunyi. Selamat melompat puisipuisi pongah!
(dan saya lari ke utara jauh. Meratap bersama blues tengah malam)

Siapa terlalu mencari

hanya sampai di tanah air Sepi

Dimana tak ada lagi setia

Melainkan duka di tiap senja

(Pont Neuf: sitor situmorang, 1953)

10 April 2008 : Tentang Sebatang Rokok Yang Rumit Sekali
Dalam perjalanan pulang tadi, hujan mendadak deras. Sebenarnya tak apa, tapi saya bawa laptop dan kamera di keranjang sepeda. Jadi, saya berteduh di emper toko terdekat, dan dalam jarak satu toko, sudah ada satu pesepeda lain yang juga nongkrong.

Setelah menimbangnimbang, saya maju menawarkan 76 ke bapak itu, orang itu, pemuda itu. tidak jelas soalnya, jaraknya terlalu jauh. Kacamataku berembun dan bajuku basah. Lengkap sudah. Sambil menyeberangi jarak yang tidak seberapa, saya merasa aneh sekali.

Coba bayangkan. Saya susah mengindentifikasi orang itu. orang gila atau bukan, mukanya ramah atau tidak, atau, ekspresinya sedang seperti apa. Kalau dia lagi sedih, saya akan mengganggu kan? Kalau dia lagi BT, bisabisa buang sialnya ke saya juga.

Saya juga berpikir cepat (harus cepat karena jaraknya hanya satu rolling door toko), bagaimana cara menawarkannya. Harus bilang apa. Gila ya, bagaimana sesuatu bisa menjadi sangat kompleks dengan tibatiba. Padahal, saat itu saya Cuma mikir “BT banget, gak ngapa2in, untuk waktu yang tidak tentu, kedinginan, tanpa ROKOK!”

(while some people i know spending too much of themselves smoking without doing or being in such a time)

Akhirnya, ya, tetap saja saya tawari. Cara klasik, rokok dikeluarkan plus korek dan ngomong:

“Monggo pak, udud é!”

Bapaknya, iya ternyata agak bapakbapak, walau belum terlalu tua. 40something. Bengong sebentar, bilang terima kasih, lalu bakar rokok. Lalu?

Dalam rangka mengembalikan korek api, mulailah bapak itu berbasa basi yang paling umum

“Kok malammalam mbak? Rumahnya mana? Asli jogja? Kuliah disini? Wah, rumahnya jauh ya? Kok ngerokok kretek perempuan?

………………………………………………………………………………………………………………………………….”

Saya tahu, ganti si bapak yang kebingungan. Tapi saya paling benci model obrolan beginian. Istilah saya, obrolan kereta. Diantara rentetan itu paling males kalo sudah sampai

“wah betah ya di Jogja! Sudah kayak orang jawa loh mbak basanya! Kok gak balik aja habis kuliah?”

Pertanyaanpertanyaan macam begitu bikin saya selalu ingat bahwa saya selalu “half- belonged”. Tidak sepenuhnya berhasil menjadi Jawa yang Jogja, tapi jgua belum “melepaskan” stereotipe Sulawesi yang Palu. Kalau dirunut, masih bisa diperpanjang lagi.

Fufh… saya tahu, ini bukan masalah bapak itu atau semua orang yang sempat bertanya tentang asal usul dan kebetahan. Mereka adalah bel yang selalu dibunyikan, dan menjadi nyaring, hanya karena saya yang menggemakannya. Hanya karena kondisi half belonged yang saya punya (kemungkinan besar saya bentuk sendiri) tetapi menjadi “hal” buat saya. hal yang belum juga selesai.

Oh…..ya, kamu pernah baca profil Ozon di wikipedia? Ada satu paragraf yang berbunyi kirakira:

“thought he never states his sexual orientation, ozon is highly considered as gay. All of his films containes a gay/lesbian sex scene” blablablablabla

Got the point? Buatku, kasus itu pun bisa diliat sebagai half-belonged. Karena, jika kamu tidak mampu menyatakan atau menegaskan definisi keberadaanmu, maka orang lainlah yang akan melakukannya. Sekarang, masalahnya tentu bukan penting atau tidak lagi, kan?

Kembali ke obrolan kereta, teman saya ada yang selalu memanipulasi alamatnya jika ditanyai orang asing, tentu dalam konteks obrolan kereta. Alamantnya adalah Jl.Taman Siswa no sekian. Sial, saya lupa nomor pastinya, tapi teman saya itu hafal habishabisan.

kamu tahu itu alamat apa? Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan. Hahaha!

(hebat bukan, cerita menawarkan rokok bisa membawa kita sampai sejauh ini. rokok kretekmu, sudah berapa bungkus hari ini?)

Selamat malam, nuansa bening.

8 Juni 2008 :tentang lampu ajaib yang sudah pergi

cinema is the cathedral of today!
quotes from someone famous but unfortunately been forgot by me

Sialnya, saya masih berduka. Empat hari yang lalu, lampu ajaib kami padam. Dia benarbenar lampu ajaib. Yang pertama, dia mewujudkan mimpi banyak orang. Yang kedua, dia bisa bertahan sampai mencapai waktu nyaris tiga tahun. Saya, anehnya, hanya bisa terdiam ketika itu terjadi. Beberapa teman panik, beberapa langsung berpikir taktis tentang solusi jangka pendek, menengah dan panjang, beberapa lagi yang merasa tak bisa membantu banyak mengucapkan bela sungkawa. Dan diantara semuanya itu, saya hanya bisa terdiam.

Waktu tiga tahun lampau kembali dengan jelas ke ingatan saya. Bagaimana rangkaian keberuntungan seolah mengikuti langkah kaki saya yang bulat bertekad untuk mewujudkan mimpi itu, sekarang. Harus sekarang! Uang yang paspasan, temanteman yang sama butanya dengan saya, kecintaan yang terlalu lama dipendam; apa lagi yang ditunggu? Lampu ajaib adalah satu dari sekian keajaiban yang menghampiri ketika itu. Toko yang kami datangi baru saja mengakhiri pameran produknya di tempat lain, dan karena baru berselang sehari, kami pun masih bisa mendapatkan harga promosi. Saya masih bisa mengingat jelas, bagaimana kami memerlakukannya seperti bayi prematur. Bagaimana kami semua, berkeringat dan bau cat, berkumpul di garasi tua itu untuk mengetes si lampu ajaib. Film yang saya pilihkan, Piñero.

Malam ini, saya menengok sebentar ruang besar yang kosong itu. Kursikursi dipindahkan ke luar untuk alasan efisiensi aset. Kami memang butuh banyak sekali uang untuk membuatnya terisi lagi, sebagai bangku penonton. Sepi. Disana dan di hati saya.

Semoga yang lain juga merasakannya. Supaya saya, dan semua temanteman di rumah bersama itu, tetap bersemangat untuk menyalakan kembali si lampu ajaib. Karena untuk itulah kami semua ada.

Malam ini, akhirnya saya bisa menangis juga.

“so please when I die …
don’t take me far away
keep me near by
take my ashes and scatter them thru out
the Lower East Side …”

Miguel Piñero, 1985

4 Oktober 2008 : ...

burungburung kecil di halaman belakang, diantara jendela dapur dan jendela kamar saya. suara pemilik rumah kontrakan saya memulai ritual harinya. menyapu daundaun di halaman yang memisahkan rumah kontrakan saya dan dia. saya tahu, setelah ini dia akan membakar sampah. asapnya biasanya masuk melalui ventilasi kamar mandi saya. tak ada yang perlu dikhawatirkan. semua jemuran sudah diangkat. sebentar lagi akan ada suara sepedasepeda berkeranjang samping melewati halaman belakang saya, mereka akan menyapa si mbah pemilik kontrakan sekedar untuk permisi lewat. setelah itu
suarasuara yang bercampur. tak lama. jam sembilan pagi, semuanya akan sepi lagi. dan saya biasanya akan tertidur. jam dua belas siang, indera saya akan bekerja lagi.



demikian sudah terjadi selama hampir 100 jam ini. tak ada alkohol atau ganja apalagi obat tidur. saya hanya tak ingin lebih sakit lagi



“aku pun bertanya, bisakah kita berlindung

pada senja yang tak memihak,

pada malam sejenak,

dan metamorfose?” GM-Berlin 1993

29 Oktober 2008 : tentang kesenangan kita menimbun kenangan

Quel est donc
Ce qui nous sépare
Qui par hasard nous réunit ?
Pourquoi tant d’allers, de départs
Dans cette ronde infinie ?

-feist: la même histoire

beberapa hari sebelum rencana perjalanan lumayan panjang saya, yang saya lakukan hanyalah bertemu sebanyak mungkin teman dan mengisi hati dengan percakapanpercakapan internal. mulai dari soal penyakit yang mematikan, rencana sepasang kawan untuk mencari donor sperma, wawancara pekerjaan yang jauh dari memuaskan,…. saya merasa berharga, dan dirindukan. sesuatu yang tak mungkin bisa direkam dalam semua perangkat elektronik yang bertebaran.

saya ingat cerita seorang teman tentang sepasang pembuat dokumenter, kemungkinan seri dok terpanjang di dunia, yang berhenti karena kelelahan mengikuti teknologi. mereka mengerjakan dokumentasi kehidupan beberapa orang selama sekitar 40 tahun, sejak subyek mereka masih kanakkanak sampai beranak. ketika mereka memutuskan untuk menghentikan proyek tersebut, para subyek protes. kata mereka

“since ever, this is the only way of living we know. we no longer know how to live a life without you around”

you, tidak hanya mewakili keberadaan pasangan seniman itu, namun juga lengkap dengan seluruh peralatan yang menyertai mereka, dan kenangankenangan beku dalam pita atau rekaman digital. bagi saya, ini adalah suatu model kehidupan yang integratif, ketika manusia “berhasil” menemukan diri mereka dalam teknologi yang mereka ciptakan. keluar dan melampaui relasi “memanfaatkan-dimanfaatkan” juga “dibalik-didalam” kamera. para subyek kerap mencari diri mereka dalam rekamanrekaman tersebut, menertawakan dan merindukan sosok yang ada di hadapan mereka. bermain dengan diri yang terproyeksi dan diri yang dibayangkan. jika berada dalam posisi mereka, saya membayangkan, pasti juga akan terperangkap dalam kebingungan akan identitas internal. tidak mudah melihat diri sendiri berinteraksi dengan diri sendiri dalam model proyeksi dokumenter seperti itu.

tapi titik akhir toh ternyata datang juga. dan tidak dari jauh. pasangan itu memulai proyek mereka ketika mereka bisa hidup tanpa topangan suplemen tulang dan penambah darah, ketika berlarian di jalan dengan memanggul kamera seluloid adalah keren dan kini, mereka berakhir di kamar kerja (yang pasti melebihi gudang penyimpanan hypermarket) dengan tumpukan can seluloid,video dan kaset dv yang menanti untuk ditransfer ke bentuk yang lebih baru,lebih awet, lebih mudah diakses, lebih… dan mereka kemungkinan besar bercermin. dalam rekaman behind the scene 40 tahun yang lalu kemudian di kaca buram kamar mandi mereka. tubuh yang berbeda. mungkin juga sinar mata yang tak seterang dulu. mereka pun berhenti. teknologi tak berbatas, tapi kami sebaliknya.

perjalanan pulang ke kota kelahiran dan ingatan saya tentang kota yang saya pilih sebagai tempat tinggal selama hampir sepuluh tahun ini, membawa saya pada pengalaman ingatan yang lain. betapa saya, kerap berpegang pada hal yang ingin saya kenang, dan menghidupkannya kembali dalam berbagai kesempatan. ziarah, bukan lagi kunjungan fisik atas tempat dan kenalan. ia adalah perjalanan santai melewati kamarkamar ingatan dekoratif dalam diri setiap orang. dan kenangan, menjadi semakin elusif dari diri.

tentu tak sembarangan, ketika proyek Paris Je T’aime memilih lagu Feist -atau sebaliknya- sebagai pengantar bagi pemirsa film + kisah cinta + sejarah kota itu.

dalam tumpukan berbagai jenis teknologi perekam yang hadir pada kurun 40 tahun ini, pastilah kita tak akan asing dengan kisah yang tersaji. belahan bumi mungkin memberi rasa waktu dan musim yang berbeda, namun kisah hidup selalu saja demikian.

captivated in a carousel of time.

27 Januari 2009
kamu emang gak ada rencana brenti merokok ya?

gak.

it never cross your mind?

nope

hahaha

aku mulai umur 10 tahun.waktu aku tau joni mitchell mulai ngrokok umur 9 tahun, rasanya nyesel. damn! if only i start a year earlier, mungkin suara gw bisa gitu juga

huahaha

tapi joni satu diantara berapa ratus ribu orang

serius amat kamu hahaha

iyalah serius hahaha

kamu nabi anti merokok

bisa jadi

i told you the story about my dad, when he got an eye operation,rite?

oui

i think it’s in my blood

no…..nein……

hahaha

hahaha

mungkin kalo kamu pacaran sama orang yang betulbetul sensitif dengan asap rokok, baru bisa

haha mungkin

tapi harus benarbenar jatuh cinta

benarbenar

dalam

dalam

pasti lebih dalam dari yang bisa bikin aku ke kanada

ya ya, pasti

kanada di musim dingin

naturlich

hahaha

hahaha

nabi anti merokok yang lesbian

lesbian dengan tetek yang sudah turun

hahaha

*percakapan di dapur seorang sahabat, saat meminta gula untuk rumah sebelah. putain!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails