Follow by Email

Minggu, 20 Desember 2009

Memandang Pamulang dari atas sepeda

Oleh: Fahri Azhar
Domisili: Bandung, Jawa Barat

“kamu asalnya dari mana?” kata teman-temanku saat pertama kali aku kuliah di IT TELKOM bandung, dan aku selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan “aku dari Jakarta”, jawaban tersebut juga berlaku bagi tiap orang yang bertanya tentang asal diriku. Tapi fakta berbicara bahwa aku bukan dari Jakarta, aku besar dan tinggal di pamulang (tapi aku lahir di Jakarta timur), sebuah kota kecamatan di barat daya Jakarta yang secara administratif dan geografis termasuk dalam kota tangerang selatan.

***

Aku tinggal dan besar di kota ini sejak tahun 1989-sekarang tepatnya di perumahan pamulang permai 1 yang merupakan perumahan milik BTN yang di bangun sekitar tahun 1983 yang terletak di belakang pacuan kuda dan memiliki 1 masjid utama yang bernama masjid Al-Hidayah yang terletak di tengah-tengah kompleks.

Pada saat aku kecil perumahan ini menjadi titik awal dari banyak sekali petualangan-petualangan kecilku dalam menjelajah kota pamulang yang sangat luas dengan menggunakan sepeda.
Aku lupa saat itu aku berumur berapa tapi yang kungingat hari itu adalah saat liburan sekolah, dan pada saat itu aku sangat penasaran dengan jalan yang cukup lebar yang terletak cukup jauh dari rumahku yang membuatku menduga-duga kemanakah jalan tersebut akan membawaku pergi. Maka aku putuskan untuk melewati jalan tersebut dengan segala resiko yang ada. Maka pagi hari setelah kedua orang tuaku berangkat kerja aku mulai berjalan mengayuh sepedaku ke jalan tersebut. Sesampainya disana memang tidak ada yang special dari jalan tersebut hanya seperti jalan kompleks biasa dengan rumah orang ditiap sisinya.

Aku pun mulai memasuki jalan tersebut, jalan tersebut sangat sepi tidak ada orang melintas tapi penuh dengan rumah aku pun terus mengayuh sepedaku mengikuti jalan yang ada hingga aku menemukan tempat yang menarik perhatianku yaitu stables yang terbuat dari beton dengan sekat-sekat pemisah dari beton dengan pintu penjaganya yang terbuat dari bambu dan kayu, stables tersebut sudah tidak berpenghuni lagi tidak ada kuda disana dan pemiliknya entah siapa.

Perjalanan kecilku berlanjut dalam rasa penasaranku yang sedang meledak-ledak yang berpadu dengan semangat karena aku melihat hal-hal baru yang belum pernah kulihat di kompleks perumahanku seperti jalan-jalan yang masih terbuat dari tanah dengan rumput-rumput liar yang menutupi akar-akar pohon pisang dan pohon-pohon lainnya dan juga ada rumah-rumah dan warung-warung kecil yang dihuni oleh warga-warga disana yang tentunya tidak ku kenali yang kesemuanya biasa disebut dengan istilah kampung.

Jauh sudah ku kayuh sepedaku mengikuti satu jalur sesuai dengan feelingku dari banyaknya jalur-jalur lain, dan akhirnya aku temui titik akhirnya yang bermuara di gang kecil di sebuah kompleks perumahan lain yang tidak ku ketahui namanya tapi biasa di sebut dengan kompleks AX. Kompleks perumahan AX ini terbilang cukup elit daripada kompleks perumahanku hal ini bisa dilihat pada rumah-rumah mereka yang sebagian besar berukuran sangat besar dan berlantai 2 apalagi jika di perhatikan sebagian besar warganya memiliki mobil. Dan lokasi kompleks AX ini tepat berada di belakang pusat perekonomian kota pamulang yang biasa disebut dengan “depan pamulang”.

Di kompleks ini aku mengitarinya sejenak hanya untuk say “Hello” ke teman-temanku yang tinggal disini setelah beberapa lama berkeliling aku menuju ke taman kecil yang terletak agak keluar dari kompleks ini, tamannya kecil ada jalan untuk sepeda yang membentang membelah taman dan ada lapangan yang kecil yang biasa di gunakan untuk bermain. Dan bagian yang paling aku suka dari taman ini adalah bagian belakangnya, disana terdapat tumpukan tanah yang membentuk sebuah bukit kecil dengan jalur sepeda kecil di tengah-tengahnya, jadi saat aku melewati taman ini aku selalu melewati bukit kecil tersebut karena aku sangat menyukai saat-saat meluncur menuruni bukit tersebut.
Setelah beberapa lama berkeliling di kompleks AX aku melanjutkan perjalananku,  kali ini aku menuju depan kompleks ini yaitu daerah “depan pamulang”, sebuah daerah yang sangat strategis karena di kelilingi oleh banyak sekali perumahan-perumahan besar dan juga merupakan rally point bagi orang-orang yang berdomisili di muncul, serpong dan kelurahan-kelurahan yang melingkupi kecamatan pamulang ini sehingga disini terdapat ruko-ruko kecil dan besar yang menjual berbagai macam produk. Dan aku sangat menyukai tempat ini karena disini terdapat banyak sekali penjual makanan, dari makanan berat hingga makanan ringan.

Di sini aku memulai perjalanku tepat di belakang supermarket dwima yang merupakan salah satu dari dua supermartket besar yang ada kota pamulang dan di dwima , lalu aku menelusuri belakangnya hingga melewatinya dan terus hingga akhirnya aku berhenti di belakang sebuah bangunan tinggi besar dan terdapat pintu kecil yang bertuliskan exit, kemudian berputar menelusuri gedung ini untuk menuju bagian depan gedung ini. Di depan gedung ini aku kembali berhenti sejenak memperhatikan 6 layar besar dengan desain yang unik dan diatasnya ada tulisan “21”, ya itu adalah bioskop 21, bioskop yang paling mewah yang pernah ada di Jakarta dan paling mewah disini bukan bioskop-bioskop lain yang memiliki nama-nama yang unik dan menayangkan film-film yang jika aku membaca judulnya aku akan tertawa terpingkal-pingkal. Bioskop tersebeut adalah bioskop kebanggaan kami sebagai orang pamulang karena di kota-kota yang kira-kira sama seperti kota kami belum tentu memiliki bioskop 21 yang resmi, dan ini menandakan pertumbuhan ekonomi kotaku ini tumbuh tinggi perlahan-lahan.
Setelah itu aku memutuskan untuk pulang kerumah dan aku memilih untuk melewati jalan yang sama yaitu aku meluncur melewati bukit kecil di taman dan melewati kampung kecil, pacuan kuda yang tidak terpakai dan akhirnya berujung di kompleks perumahanku dan berakhir di rumahku

******

Sekarang pertumbuhan ekonomi di pamulang sangat tinggi yang memberikan impact yang linier terhadap populasi, kriminalitas, gaya hidup, dan impact lainnya baik dari segi sosial, budaya, ekonomi ataupun teknologi. Dan yang paling menyedihkan adalah bioskop yang menjadi kebanggaan kami sudah tidak berdiri tegap disini lagi dan entah kemana ia pergi sehingga saat aku pulang dari Bandung ke pamulang tidak ada lagi bioskop terdekat untukku. Tapi aku bersyukur bahwa aku pernah besar di kota ini dan berpetualang dengan sepedaku.
Google Twitter FaceBook

Sabtu, 19 Desember 2009

Menelusuri Kuncen (Selatan)

Oleh: Utari Dewi Narwanti
Domisili: Yogyakarta


Jogja! Kota yang menyimpan banyak cerita. Ingatanku pun langsung menyuguhkan ‘layar lebar’ tentang suatu lingkungan di masa kecilku, dan kini.

Kuncen

Lengkapnya Pakuncen. Salah satu kelurahan di kota Jogja. Dari cerita lisan, kudengar nama itu bermula karena di wilayah Kuncen ini terdapat makam. Kuncen berarti terkunci, tidak ada orang, maksudnya mengacu pada makam yang hanya dijaga para juru kunci. Terus terang sampai saat ini, aku belum menemukan dokumentasi tertulis tentang sejarah nama Kuncen (Pakuncen) ini. HOS Cokroaminoto adalah salah satu pahlawan nasional yang dimakamkan tepat di jantung pemakaman Kuncen. Oleh karena itu jalan raya di sekitar Kuncen yang membujur dari Selatan ke Utara itu bernama Jl. HOS Cokroaminoto. Kompleks makam itu sendiri tepatnya terletak di wilayah Pakuncen bagian Tengah. Oya, ada satu lagi makam Kuncen yang berada persis di samping jalan raya, namun luasnya jauh di bawah makam Kuncen yang berada di bagian Tengah. Adi Sucipto (juga pahlawan nasional) dikebumikan di makam yang berada di samping jalan raya HOS Cokroaminoto ini.

Ada hal penting lain dalam ingatan bahwa dahulu di Kuncen ini pernah berdiri Pasar Hewan. Tepatnya di sisi Timur Jl. HOS Cokroaminoto depan tikungan jalan menuju makam Kuncen bagian Tengah. Pada hari pasaran tertentu, di Pasar Hewan Kuncen itu selalu ramai dengan keberadaan hewan, terutama sapi dan kambing. Sejak paruh awal tahun 2000-an, pasar hewan ini pindah ke Ambarketawang, Jl. Wates, Gamping, Sleman. Sedangkan bekas Pasar Hewan Kuncen bermetaforfosa menjadi Pasar Klithikan, pasar yang menjual segala macam barang, baik bekas maupun baru, mulai dari alat pertukangan sampai komunikasi. Imbas keberadaan Pasar Klithikan ini kemudian menyebabkan kepadatan yang sangat di seputaran pasar, terutama pada petang hingga malam hari.

Kampung Kleben

Kuncen terletak di Jogja Barat, berbatasan dengan Kelurahan Ngestiharjo, Kabupaten Bantul. Aku tinggal dan dibesarkan di sebuah rumah di jalan utama perkampungan, tepatnya Kuncen bagian Selatan: kampung Kleben. Wilayah ini termasuk dalam Kecamatan Wirobrajan. Sebelum tahun ’80-an, wilayah ini bernama RK Kuncen. Sejak RK berganti nama menjadi RW di akhir tahun ’80-an, RK dibagi menjadi 3 RW.

Tahun ’70-an, wilayah ini memiliki jalan kampung yang berupa tanah. Tanaman besar masih banyak bertumbuhan. Pohon bambu juga bertebaran di penjuru kampung. Pagar rumah masih banyak yang berupa pagar hidup: tanaman teh-teh-an. Kebun-kebun masih banyak yang tumbuh natural, tidak tertata dan tidak dirawat oleh pemilik tanahnya. Orang-orang menyebutnya sebagai ‘bon suwung (kebon suwung)’. Karena ‘suwung’, sepi kosong dari pemilik tanahnya, kebun itu pun sering kali membuat anak-anak penasaran untuk menjelajahinya. Tidak sedikit yang takut dengan mitos ‘hantu’ di kebun itu, tapi banyak juga yang bahagia banget karena bisa berpetualang di dalamnya seolah sedang menjelajah hutan belukar.

Halaman-halaman rumah di wilayah itu masih relatif luas. Anak-anak kampung sering kali bermain di halaman itu. Permainannya pun bervariatif, seperti gobag sodor, ‘ingkling’, jamuran, ‘ancak-ancak alis’ yang berakhir dengan tarik tangan (seperti tarik tambang tapi dengan tangan saja, tanpa tali), nekeran, bentik, delikan (petak umpet), dan lain-lain yang kesemuanya itu cenderung membutuhkan kerja sama satu tim. Suara tawa canda anak-anak terdengar jelas sungguh. Mereka terlihat gembira dengan sorak sorainya.

Banyak tanah di wilayah ini masih dimiliki oleh segelintir orang. Dalam satu RT misalnya (menurut perkiraanku, kurang lebih seluas 9.000 – 10.000 m_ pada waktu itu), bisa jadi hanya dimiliki oleh satu atau dua orang saja. Biasanya pemilik tanah itu juga memiliki banyak anak. Mereka menyewakan tanah-tanah itu sebelum diwariskan kepada anak-anaknya. Dalam perkembangannya, tanah itu kemudian dijual seiring dengan banyaknya pendatang di wilayah itu.

Kampung Kleben, Kuncen, Yogyakarta, termasuk salah satu wilayah penting dalam ‘menyangga’ keberadaan sekolah tinggi di seputaran Wirobrajan, diantaranya sebagai penyedia tempat tinggal dan juga menjadi zona interaksi antara mahasiswa dengan penduduk setempat.

Di akhir tahun ’60-an – ’90-an, STSRI ASRI Yogyakarta (sekarang bernama ISI Yogyakarta) berlokasi di Gampingan, berdampingan dengan SMA Negeri 1 Yogyakarta. Menyusul kemudian, di seberang jalan berdiri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Banyak mahasiswa dari lembaga pendidikan itu kemudian mencari tempat tinggal: kos / asrama / kontrakan di sekitar kampusnya. Dari ingatanku masih jelas tergambar bahwa para mahasiswa itu mampu mendayakan kehidupan di sekitarnya. Dalam relasi itu terjadi akulturasi budaya. Ada yang mengajarkan musik, ada yang kemudian menularkan kemampuan menggambar atau melukis, juga ada yang menularkan kemampuan memahat, atau mentransferkan ilmu lainnya, dan sebagainya.

Di wilayah kampung Kleben itu pernah muncul sosial entrepeneur, wirausahawan sosial, seorang yang memiliki solusi inovatif untuk menyelesaikan masalah mendesak di masyarakat dalam kepemimpinannya. Salah satunya adalah Narno S, pemuda kelahiran Sukoharjo (Jawa Tengah) yang menempuh studi di STSRI ASRI Yogyakarta kemudian mengajar di almamaternya. Sejak di bangku kuliah pada tahun ’60-an hingga akhir hayatnya di tahun 1997, beliau tinggal dan menggerakkan masyarakat di kampung itu untuk berkarya dalam sanggarnya yang semula bernama Sanggar Seni Ukir. Perannya sangat signifikan dalam mendorong produktifitas masyarakat, mulai dari menggambar, membuat keramik, memahat, hingga menjalin relasi dengan dunia luar yang lebih luas. Karya-karya mereka diapresiasi bukan hanya dalam verbal tapi juga materi. Seiring waktu berjalan, pengangguran pun dapat ditekan. Dalam hal memahat, masyarakat juga berinteraksi dengan para pengrajin ukir yang didatangkan dari Jepara di sanggar itu.

Seniman-seniman lain yang pernah mengalami hidup di kampung ini, baik tinggal maupun sering sekali bertandang, diantaranya Nasirun, Heri Dono, dan lain-lain. Sedangkan seniman otodidak yang belajar dari akulturasi budaya di kampung ini salah satunya adalah Djon Batik. Belum lagi kehadiran para ‘bule’ dari berbagai negara yang turut bertandang karena relasi budaya itu. Sungguh kehadiran mereka mempengaruhi  gairah hidup di kampung itu.

Interaksi yang terjadi di dalam masyarakat tidak hanya dalam hubungan kerja atau relasi biasa. Lebih jauh, tidak sedikit pasangan suami istri yang lahir dari kampung ini. Banyak mahasiswa yang kemudian menikah dengan penduduk kampung. Salah satunya adalah mantan petinggi Pusat Studi Kebudayaan UGM yang berasal dari Sumatera Barat dan menimba ilmu di Jogja, menikahi anak tetangga ibu kosnya. Romansa cinta ternyata juga berpendar dari rumah-rumah kos.

Selain aktifitas kesenian, kegiatan keagamaan juga berelasi kuat dengan mahasiswa luar Jogja yang menempuh pendidikan di UMY. Aktifitas masjid semakin ‘semarak’ dengan kehadiran dan sepak terjang mereka, semisal seringnya diadakan pengajian dan tadarus bersama.

Kondisi Kini

Waktu terus bergulir. Menjelang tahun ’90-an, terjadi pemekaran wilayah di kampung itu, juga kampung-kampung yang lain. Satu RT yang luas itu dibagi menjadi 2 RT. Hal ini mengingat pertumbuhan penduduk yang kian padat dan juga sesuai dengan peraturan Tata Kota pada waktu itu.

Sekitar awal tahun ’90-an, kampus ISI Yogyakarta yang semula di Gampingan telah berpindah ke Sewon, Bantul, arah Selatan dari kota Jogja. Sedangkan UMY telah berpindah ke Ring Road Barat, Gamping, Sleman, yang terletak di kawasan Barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Perubahan ini juga sangat berimbas pada wilayah-wilayah di sekitar lokasi awal institusi tersebut.

Kini, di tahun 2009, banyak rumah kos yang tutup. Kamar kos banyak terbengkalai. Ada satu rumah kos yang berisi sekitar 20 kamar hanya aktif dipakai 4 - 5 kamar saja. Sungguh situasi yang sangat bertolak belakang dengan keadaan pada beberapa tahun lalu. Kegiatan kesenian cenderung tumbuh privat, dilakukan perorangan. Sedangkan kegiatan ritual keagamaan didominasi oleh penduduk setempat.

Dari sisi fisik, memang ruas jalan di kampung ini sudah beraspal, berkonblok, maupun berplester meski berlubang di sana sini. Tanah yang semula hanya dimiliki segelintir orang itu sekarang juga sudah berpindah tangan alias dijual ke banyak orang. Kaum urban berdatangan, mulai dari buruh hingga wirausahawan. Kampung pun semakin padat oleh rumah-rumah dan ruas jalan kecil. Halaman semakin berkurang. Kebun luas sudah jarang, bahkan hampir tiada. Hanya tanaman-tanaman pot di teras-teras rumah. Ada satu dua rumah saja yang membiarkan pohon besar tumbuh di halaman depannya yang tidak seberapa luas. Anak-anak jarang sekali terlihat melakukan permainan tim, seperti gobag sodor dan kawan-kawannya itu. Meskipun demikian, ada harapan menyelinap: ternyata di antara kepadatan rumah itu ada salah satu tanah bekas lantai rumah yang dibiarkan lapang oleh pemiliknya. Walaupun lokasinya kurang mudah diakses publik secara lebih luas karena letaknya benar-benar di jantung kampung, tempat ini kemudian menjadi tempat publik bagi lingkungan kecil di wilayah itu. Seperti ajakan Walikota Jogja, Herry Zudianto, pada suatu ketika di tahun 2007, sebaiknya memang satu wilayah, setidaknya setiap RW di kota Jogja, memiliki satu lahan publik yang bermanfaat bagi proses interaksi warga di sekitarnya. Mudah-mudahan tanah itu tidak semakin tergerus ditelan kebutuhan pemiliknya. Semoga!

 Jl. HOS Cokroaminoto di tahun ’70-an
Foto: Istimewa

Jl.HOS Cokroaminoto kini, tahun 2009
Foto: Utari Dewi Narwanti

Balai RK Kuncen di tahun ’70-an  
Foto: Istimewa

Balai RK Kuncen kini berubahmenjadi TK (RK) Kuncen, 2009
         Foto: Utari Dewi Narwanti
Google Twitter FaceBook

Selasa, 10 November 2009

where the good old movie (houses) dissapeared, and new movies blossom

Penulis: Elida Tamalagi
Domisili: Jogjakarta, DIY, Indonesia

saya rasa hari itu, sayalah orang yang paling kaya di manila. melebihi mereka yang kebanyakan minum di semua gala premier festival ini, ataupun yang dilamar untuk masuk ke festival berikutnya.

hari itu sudah ajaib karena dimulai dari minum kopi saya bersama ami, seorang oma kenes kelahiran 1954, lajang, pernah mengelola cafe yang menjadi tempat ngumpul seniman dan pekerja film, meminjamkan apartemennya ke teman dan pindah kembali ke rumah ibunya agar mereka berdua bisa saling merawat. perbicangan dengan ami berujung pada dia memberikan saya hadiah, magic stone. sebuah batu yang dihiasinya sendiri dengan glitter, bunga kering dan foto Jose Rizal, pahlawan kesusatraan Filipina. pengisi waktu luangnya.

ada telpon dari mark, teman dari festival musim lalu. dia hanya bertanya, apakah kamu ada di Market!Market! ? aku di Serendra. kesini yuk.

saya mengiyakan dan melepas ami untuk mengejar film berikutnya. Aktivitas ami sekarang adalah menonton film.

tidak ada yang aneh dengan permintaan ke Serendra. Saya dan Mark selalu minum white russian dan double johnny on the rock disana. tapi waktu melihat kostumnya yang ajaib, celana pendek cargo dan topi dan kaos oblong, dan satu orang macho nan rapi disebelah Mark, saya langsung mengendus ada yang tak beres. benar. Mark putus asa dan memutuskan untuk meminta saya main di satu scene di filmnya. peran saya, perempuan yang diperkosa. fuih, can’t complaint!

petualangan dimulai.mengepas kostum mbak kantoran, pelurusan rambut dan make up. semua kapster di salon lantai bawah mall ayala itu berusaha menarik perhatian saya dengan bahasa inggris yang dibuat tidak terdengar taglish karena tahu make over saya untuk main film. Mark senyum selama tiga jam, katanya : kalau saja mereka tahu apa peranmu, pasti mereka merasa tidak perlu bersaing hahaha
kami mengelilingi kota manila ke arah selatan dan barat daya, mencari daerah yang kumuh, tapi dengan lampu jalan yang memadai. beberapa kali take di dalam van, tak ada masalah. kami akhirnya melakukannya di ruasruas jalan kecil di kompleks Mall SM. pada pengambilan gambar terakhir, tibatiba Mark bilang,
cut ada polisi datang.
dan pecahlah tawa kami bertiga. lebih kaget lagi, ternyata para petugas keamanan SM sudah mengintip di kaca mobil van itu. sambil tertawatawa dan setengah telanjang, kami membuka pintu van untuk menunjukan kamera dan memberi keterangan bahwa kami hanya sedang buat film. kesalahan partner saya menyerahkan simnya, membuat kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di kantor polisi pasay. saat kami masuk kantor itu pertama kali, saya langsung mencium bahwa urusan akan segera beres. 1000 pesos will do him.mark juga membaca ini dan sinar nakal langsung lewat di matanya. jadilah kita membiarkan polisi itu bicara tentang violence against public space, obscene art dan lainlain karena dia bukan orang yang buta seni. sampai disini, dia menekankan,
i once a singer!
yeah rite,
kami semua menyambut dalam hati.
drama kantor polisi itu juga berakhir seru ketika ia meminta kartu identitas kami masingmasing untuk dicatat di buku besarnya. ketika melihat paspor saya, pak polisi langsung histeris
oh my god, sister! i don’t realize you are not filipino. we have the same skin and face, diba?
oh my god, you come all the way from indonesia here just for being raped?
can you say some tagalog word? perfect sister! god be with you
kami mengakhiri hari itu dengan menyantap inasal pork jam 4 pagi. saya mengecek ponsel, ada pesan dari vic bahwa janji kita ditunda jadi jam 7 pagi. untunglah, sebelumnya kami sepakat untuk mulai jam 6. mendengar itu, mark bertanya:
does vic cast you also?
haha polos sekali. saya bilang,
tidak, saya tidaklah sepopuler itu
belum
kata mark
not after me,
tito, partner saya menyambung genit. kami terbahak.
petualangan jam 7 pagi dimulai. vic membuka pintu mobil dan tertawa menanyakan cerita suting semalam. ada bong juga. sopir pribadi vic yang cinephilic. sebagai supir taksi, penghasilannya sebenarnya lebih besar. tapi berada di lokasi suting setiap waktu dan akses bebas ke festivalfestival film membuat bong memilih terus bersama vic. kami menjemput aped, kawan vic yang juga mengerjakan desain produksi dua film vic. saat sarapan, aped meminta saya memerinci bioskop seperti apa yang masuk kriteria saya. aped sudah membuat daftar hampir 50 lokasi bioskop di manila. mati Aku!
Google Twitter FaceBook

Tak Ada Perang di Bumi Ken Arok

Penulis: Maria Serenade Sinurat
Domisili: Surabaya, Jawa Timur


Malang membuat saya kehilangan sinisme saya pada setiap kota yang biasanya saya datangi. Kota yang katanya wilayah penaklukkan pertama Ken Arok itu terlampau sederhana sekaligus misterius. Tapi Malang yang saya sambangi  bukan lagi ladang pertempuran terbuka. Arek-arek Malang jaman kiwari tinggal tertawa-tawa saja, nongkrong sepuasnya, tanpa perlu kudeta.

Awal Oktober lalu saya berkesempatan lagi singgah di Malang, kali ini seminggu penuh. Pikiran saya pun langsung melompat pada novel hebat Arok Dedes-nya Pramoedya Ananta Toer. Tumapel yang diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung bisa dikata adalah cikal-bakal Malang.

Sontak adrenalin saya berpacu untuk segera menguliti Malang hingga ke bijinya. Berbekal sepeda motor otomatis pinjaman dan memori yang mudah alpa tentang arah mata angin, mulailah saya untuk misi penting: menaklukkan Bumi Ken Arok.

Tentu saja saya gagal mendeteksi jejak-jejak pemberontakan Arok. Si pemberontak begundal yang muncul jadi pahlawan itu kini diabadikan menjadi salah satu nama pusat olahraga, Gelanggang Olahraga Ken Arok. Sementara nama Ken Dedes setahu saya dipakai jadi nama yayasan kesehatan yang juga menaungi sebuah akademi kebidanan.

Malang yang diberkahi dengan udara sejuk membikin kota ini jadi tempat istirahat orang-orang kota di akhir pekan. Tapi, jangan bayangkan Bandung yang padat dan riuh oleh factory outlet, distro, dan kafe-kafe. Malang ibarat sebuah hammock yang diikatkan pada dua batang pohon rimbun. Saya hanya tinggal selonjoran seharian menatapi langitnya yang abu-abu.

Langit Malang seperti hanya kenal dua warna, yaitu abu-abu dan hitam. Saya, yang selalu terbangun pagi hari dan disambut langit abu-abu, berpikir bahwa sebentar lagi hujan bakal turun. Ternyata hingga menjelang Maghrib pun si abu tetap menggantung sebelum digantikan hitam malam.

Arema

Dari seorang kawan saya mengoleksi banyak cerita tentang kota ini, salah satunya tentang geng Higam. Higam, singkatan dari Hidup Gembira Awet Muda, merupakan kumpulan muda-mudi entah seniman maupun pemusik yang  living their lives to the fullest, maksudnya full nongkrong, full mabuk, dan full juga berkarya. Salah satu lulusannya ialah Anto Baret yang sekarang lebih sering muncul di Bulungan, Jakarta.

Malang juga punya scene rock yang salah satunya melahirkan Ucok AKA. Saya menyesal tidak sempat menyusuri lorong-lorong tempat rock masih bergema kencang. Suatu hari mungkin.

Tapi dua cerita di atas bukan pengalaman saya. Kisah yang saya punya sendiri ialah mengitari Malang dari satu venue olahraga ke venue lainnya dan  menemukan semangat pemuda urakan Arok di dalam suporter-suporter klub sepak bola Arema.

Aremania-begitu suporter Arema disebut- singkatan dari Arek Malang. Mereka kosmopolit, ada di mana-mana baik dalam bentuk toko merchandise, umbul-umbul, hingga umpatan. Mereka muda, gesit, dan berbahaya kalau sudah ngumpul. Tapi mereka hanya membunyikan genderang perang kalau timnya bertemu Persebaya Surabaya saja, lagi-lagi karena alasan yang saya juga tidak begitu paham.

Orang Malang juga punya dialek yang unik, yang sering disebut Malangan. Saya mengibaratkan dialek mereka seperti Bahasa Inggris-nya orang Australia yang meluncur begitu rapat, cepat, hingga saya tidak bisa mendengar satu katapun yang mereka ucapkan.

Malam


Udara dingin Malang tidak membuat orang cepat-cepat sembunyi di balik selimut. Kalau malam, pedagang kaki lima mulai menyeruak seperti laron-laron. Ketimbang menyambangi restoran cepat saji berlambang M yang buka 24 jam, saya lebih suka memilih secara acak warung-warung temporer berlampu petromaks.

Beruntunglah saya sempat mengunjungi warung subuh, warung makan di Jalan Langsep yang justru kian hidup ketika subuh. Mata saya langsung berbinar melihat berbagai jenis makanan rumahan yang masih segar dari wajannya. Saya makin senang waktu melihat ada tempe goreng tebal yang masih hangat.

Makin subuh, warung justru makin penuh, juga oleh muda-mudi yang tampaknya baru pulang dugem. Rasanya lucu melihat campuran orang tua-muda mulai dari yang berbaju training hingga yang cukup gila karena hanya memakai gaun mini bertali spaghetti di udara sedingin itu. Bunyi ketukan sendok dan garpu dan  cekakak-cekikik seperti mengiringi suara-suara manusia berdialek Malangan. Saya  langsung jatuh cinta pada kota ini.

Akhirnya seminggu di Malang saya berhenti mencari sisa-sisa Arok. Cinta juga harus tetap realistis bukan? Sinisme saya rasanya mati kutu dibuat kota ini. Bahkan es krim berharga mahal dengan rasa standar di toko Oen tidak membuat saya merengut. Mal-mal yang tetap saja selalu penuh itu saya singgahi juga, pengendara motor yang hobi nyalip itu pun saya senyumi.

Malang era Arok memang bikin saya terpukau, tapi Malang 2009 yang mulai dikepung mesin dan bangunan beton itu yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana. Ternyata di Malang saya berubah jadi melankolis dan romantis. Walau hanya seminggu.
Google Twitter FaceBook

Bandung dan Sebuah Cerita Masa Kecil

Penulis: Mutaminah
Domisili: Bandung

           Dulu sekali, ayah selalu mengajakku bersepeda mengitari jalanan-jalanan kota. Dan itu adalah saat-saat yang sekarang sangat aku rindukan. Ternyata banyak sekali yang terlalu cepat diubah zaman dari kota ini.

 11 tahun silam, ayah selalu memboncengku di sepeda kuning kesayangannya. Melenggang di antara kendaraan yang lalu lalang, tapi saat itu aku tak pernah khawatir, karena jalanan masih terasa sangat lengang. Udaranya pun sejuk bersahabat, membuatku nyaman meski duduk di boncengan sebuah sepeda tua yang keras. Tapi akan sangat berbeda keadaannya jika aku bandingkan dengan keadaan Bandung saat ini. Berdebu, kusam, dan bising oleh deru mesin kendaraan yang jumlahnya bagaikan bintang di langit, tak terhitung.
 Lagu favoritku saat itu yang selalu menyapaku riuh saat aku berlalu di jalanan, adalah cicit-cicit burung yang hinggap di ranting-ranting pohon yang rapuh. Bagiku, burung-burung itu adalah penyanyi handal yang selalu mampu membuat aku merasa damai. Sampai saat ini pun, aku masih tetap mengidolakan mereka, hanya saja kini nyanyian merdu mereka itu kalah oleh klakson-klakson yang melengking, ban-ban kendaraan yang berdecit, teredam oleh erangan mesin kendaraan. Sekarang aku tak bisa menikmati melodi itu setiap waktu. Kadang jika beruntung, aku bisa mendengar suara mereka sayup-sayup hanya pada pagi hari.
            Sering kami melewati sawah-sawah yang luas, ladang-ladang yang subur, dan kolam-kolam ikan pemancingan. Beberapa kali ayah memetikkan buah ceremai untukku. Meski hanya beberapa biji saja, tapi aku sangat senang karenanya. Tapi lagi-lagi kini semuanya hanya dapat ku kenang saja. Karena banyak dari area sawah dan ladang itu telah menjelma menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Gedung-gedung yang sangat angkuh bagiku. Perkantoran, Mall, supermarket, dan entah apa lagi. Nasib pohon ceremai baik hati yang dulu selalu ku nikmati buahnya pun tak kalah tragisnya, sekarang ikut menjadi korban keganasan manusia. Ditebang karena ada pelebaran jalan.
            Kadang kami beristirahat di sebuah pemakaman, dan selalu pemakaman yang sama. Ayah selalu bilang, bahwa suatu saat ayah atau bahkan aku dan seluruh orang yang hidup di dunia ini, akan menempati petak-petak itu, dan kita akan selalu menunggu orang untuk sekedar mengunjungi dan membersihkan makam kita dari rumput-rumput liar. Aku selalu menangis setiap kali ayah menceritakan hal itu kepadaku, aku takut. Ironisnya, sekarang di atas makam-makam itu berdiri perumahan real estate yang di setiap garasinya terparkir mobil-mobil mewah yang harganya selangit. Tak bisa lagi ku lihat petak-petak dari tanah dengan nisan di atasnya, rumah yang amat sangat sederhana, tempat peristirahatan terakhir kita nanti. Tak ada lagi pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sana selain kemewahan duniawi.
            Ayah baru mengajakku pulang setelah hari beranjak petang. Beliau tak pernah banyak bicara dalam perjalanan pulang. Beliau membiarkan aku menikmati matahari sore yang indah, seakan-akan tahu, bahwa saat nanti aku tak bisa merasakan pemandangan seindah ini, karena kota ini akan begitu usang terselimuti asap kendaraan yang berpolusi.
Memoriku akan tetap menyimpan hari-hari itu. Yang selalu ku ingat, kota ini dulu begitu rindang, asri dengan pepohonan dan bunga-bunga di setiap sudutnya, indah dan menawan. Tak heran jika dijuluki Kota Kembang. Tapi kini Bandung telah membusuk oleh sampah. Dilihat dari segi manapun, tentu saja itu bukan merupakan sesuatu yang bagus dan dapat dibanggakan.
            17 tahun usiaku ini. Hanya tinggal puing-puing kesombongan yang tersisa dari kota Bandung. Termakan oleh modernisasi yang telah merenggut kisah indah dalam hidupku. Andai waktu dapat ku putar kembali, akan sangat aku nikmati dan aku abadikan, potret siluet masa lalu kota Bandung, tempat tinggalku.
Google Twitter FaceBook

Senin, 19 Oktober 2009

Aku dan Kotaku: Petani dari Gunung

Penulis: Wikan Satriati
Domisili:  Magelang – Ngepos, Banyuurip, Tegalrejo, Magelang 


Waktu aku kecil, aku suka diajak jalan-jalan pagi oleh bapak atau ibuku. Di depan rumah, sering lewat rombongan orang-orang dari daerah pegunungan yang berjalan kaki menuju pasar di kota. Kata ayahku, rumah mereka sangat jauh. Mereka berangkat dini pagi sekali membawa oncor, semacam obor kecil dari kain dibasahi minyak tanah yang disumpalkan ke sepotong bambu untuk penerang jalan. Barang dagangan mereka berupa sayur mayur, umbi-umbian, buah, kayu bakar, bambu, bibit tanaman dsb. Rata-rata barang dagangan itu ditata apik di dalam tenggok, semacam bakul besar yang digendong para perempuan, sementara kayu bakar biasa ditata membentuk huruf H atau A, dipanggul para laki-laki. Waktu aku sedang belajar membaca, ibuku kadang menyuruhku menebak huruf-huruf itu.


Aku pernah mendengar, konon di pinggang para perempuan penggendong bakul itu terdapat lekuk yang dalam bekas ujung bakul. Aku belum pernah melihatnya. Hanya saja, aku bayangkan betapa berat beban yang mesti mereka bawa karena bisa meninggalkan jejak serupa itu.


Kehadiran pedagang-pedagang itu berpengaruh pada desain eksterior kedai atau warung di sepanjang perjalanan mereka. Rata-rata di depan warung atau kedai itu terdapat semacam bangku tinggi setinggi pinggang agar bakul gendong itu bisa meletakkan bakul mereka atau menggendongnya kembali secara mudah.
Dulu, di dekat rumahku ada pertigaan yang ramai tempat para pedagang dari gunung itu istirahat, menjual sebagian dagangan atau barter dengan pedagang dari daerah lain. Makanan khas yang dulu mudah kujumpai di situ di antaranya: kacang edamame, uwi, dan aneka getuk.


Seiring dengan semakin mudah dan murahnya sarana transportasi, pedagang-pedagang itu tidak lagi berjalan kaki. Mereka berdesak-desakan naik pick up terbuka atau jenis kendaraan colt yang hanya boleh beroperasi di daerah pedesaan atau wilayah kabupaten. Hm … aku jadi ingat, dulu ada kendaraan oplet, yang sekarang sudah tidak beroperasi.


Sekarang pemandangan pagi masa kecilku itu sudah tidak ada lagi. Magelang, seperti kota-kota lain, mulai bergerak menuju wajah metropol yang seragam. Tidak ada bangku setinggi pinggang di depan warung-warung. Tidak kulihat lagi orang dari pegunungan berjalan di depan rumahku membawa oncor (mereka bisa berangkat lebih siang).


Dulu, konon di Yogya rumah-rumah harus menghadap ke selatan. Aku punya seorang kawan yang tinggal di Kota Gede. Rumah kawanku itu terpaksa disetting menghadap ke selatan meski bagian selatan rumah itu menghadap ke semacam tebing yang tidak bisa dilewati orang. Alhasil, bagian “belakang” yang seharusnya untuk dapur menjadi pintu masuk utama dan ruang tamu, sedangkan bagian “depan” rumah yang bentuknya seperti bagian depan rumah pada umumnya—dinding kayu tradisional lengkap dengan pintu gerbang, menjadi dapur. Jadi tungku masak mereka berada di depan “pintu gerbang” itu.


Aneh ... tapi banyak rumah di Kota Gede yang seperti itu. Saat masuk ke lorong-lorongnya yang berliku dan kadang bikin tersesat, aku sering merasa sedang berada di masa lalu. Rumah-rumah tua, banyak orang yang masih berpakaian Jawa dan berlaku santun khas priyayi. Wilayah ini menarik dan “berbeda”. Namun, pelan-pelan ciri khas itu menyusut. Banyak bangunan baru yang tidak taat “pakem”: tidak menghadap ke selatan, arsitekturnya pun beragam dan suka-suka. Memang satu dua bangunan baru itu tampak aneh di tengah bangunan-bangunan kuno. Namun kelak jika bangunan lama itu sudah terlalu tua dan tiba saatnya diganti, lama-lama ciri khas Kota Gede itu akan punah dengan sendirinya.Satu per satu ciri khas daerah lenyap, atau berbaur tanpa terasa. Barangkali karena dorongan faktor ekonomi. Kini, nyaris tidak ada beda berada di mana pun.


Di Bali, misalnya, aku bisa menjumpai kerajinan tangan, baju-baju batik, aksesoris, yang kurang lebih mirip di Yogya, atau malah di Tanah Abang, Jakarta. Aku bisa berpura-pura telah pergi ke Bandung dengan membawakan oleh-oleh kue moci, bolen pisang atau brownis kukus yang bisa kudapatkan di gerai oleh-oleh di Magelang. Tapi, anehnya, aku tidak tahu di mana bisa membeli kacang edamame atau uwi rebus yang dulu mudah sekali kudapatkan.


Kadang aku merasa sedang berpesta kenangan” saat mendapati tukang sayur menjual getuk hitam yang digoreng diisi gula, kue celorot, atau membeli nasi berlauk telur di warung nasi yang dulu bagiku menjual nasi berlauk telur paling enak sedunia.


Mungkin yang mengingatkanku bahwa aku masih di Magelang adalah wajah-wajah orang gunung itu tidak banyak berubah. Tipikal pekerja keras yang lugu. Aku tidak tahu apakah mereka menyadari bahwa kubis, wortel, buncis yang telah mereka tanam hampir seumur hidup itu harganya sudah jauh menurun dibanding dulu. Apakah mereka terpikir untuk menanam tanaman lain? Entahlah.


Pada saat krisis moneter 1998, dan harga sayur-mayur anjlok secara drastis, berbanding terbalik dengan harga sembako, aku pernah mendengar cerita seorang petani gunung yang nyaris kehilangan akal, duduk tercengang di emperan pasar setelah hasil penjualan berkarung-karung buncis miliknya hanya bisa untuk membeli seplastik kecil minyak goreng, seperdelapan liter dan tidak cukup tersisa uang untuk ongkos naik bis pulang ke kampungnya.Kurasa ada cukup banyak petani-petani itu yang hanya terus bekerja keras, semakin keras dan tidak mengerti ketika mendapati diri mereka hanya semakin miskin.


*) Ditulis untuk mengikuti program Tobucil Diary Project 2009 “Aku dan Kota Tempat Tinggalku”




Google Twitter FaceBook

Sabtu, 03 Oktober 2009

Dunia dari sudut angkot

Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti

Domisili: Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Blog: ifuu.tumblr.com, anakajaip.multiply.com


Satu kata benda yang bikin saya kangen Bandung : angkot. Ya, angkot. Angkutan kota. Sebuah angkutan publik yang berwujud mobil carry, colt, atau kijang yang ‘dimodifikasi’ interiornya. Standar kapasitas maksimal angkot adalah 16 orang: 3 di depan (termasuk sopir), 7 di kanan, 5 di kiri, dan 1 di ‘kursi artis’ (kursi yang ada di dekat pintu dan duduknya menghadap berlawanan ke arah penumpang lainnya).

Perkenalan saya dengan dunia angkot dimulai saat TK. Waktu itu saya sering diajak mama berkunjung ke rumah oma di Cimahi. Entah kenapa, saya selalu merasa enjoy saat naik angkot. Duduk di pojok dengan jendela yang dibuka setengah. Angin menyapa wajah saya pelan bahkan terasa menampar saat si angkot berlari kencang.

Kemana-mana saya pergi pakai angkot. Tentunya masih harus ditemani oleh orang yang lebih gede. *berhubung saat itu lagi marak penculikan anak kecil*.

Kelas 5 akhir, saya baru dibolehin naik angkot dengan rute yang sedikit jauh sendirian. Waktu itu mau naik kelas 6 dan saya ikut bimbel di sebuah tempat di bilangan purnawarman. Secara sehari-hari sekolah di dekat rumah dengan jalan kaki, “sekolah” di tempat bimbel ini terasa lebih menyenangkan bagi saya karena harus ditempuh dengan angkot. Margahayu-Ledeng tepatnya.

Saat itu naek angkot biru dengan garis kuning ini dari Pasar Sederhana ke Purnawarman hanya 500 perak loh. Mulai kelas 2 SMA sampai sekarang, saya harus bayar 2000 perak dengan jarak dan angkot yang masih sama. Empat kali lipat. Padahal harga BBM sudah turun, tapi tarif angkot yang turut naik tidak ikut turun juga.

Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya ambil, semakin sering dan variatiflah angkot yang saya tumpangi. Hingga saat kuliah sekarang, meskipun ditempuh dengan bis Damri, sebelum dan sesudahnya pasti saya naik angkot dulu. J

Di dalam angkot, saya bisa bertemu bermacam-macam orang. Anak sekolah dengan seragam ala sinetron, ibu-ibu yang pulang dari pasar, mahasiswa dengan headset yang selalu menempel di kuping, mas-mas kantoran, karyawati yang berdandan menor, nenek-nenek tukang rumpi, wanita muda yang aromanya seperti habis pakai parfum tumpah, remaja tanggung yang cuek merokok, bapak-bapak bertato, pria metroseksual, hingga mbok jamu beserta gendongannya pun ada disini. Benar-benar keberagaman strata.

*****

Bagi saya, angkot tidak hanya berfungsi sebagai angkutan belaka. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari yang ngejalaninnya. Ya, sopir angkot. Sopir angkot adalah sosok orang yang bikin saya termotivasi untuk cepat belajar nyetir mobil. Seriously!

Saya suka sekali duduk di depan. Ga untuk ngaca di spion, tapi untuk memperhatikan si mang angkot. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya nyetir si mang angkot. Dari mulai dia ngopling, masukin gigi, ngegas perlahan, kopling lagi, mindahin gigi, ngegas yang banyak, kemudian tiba-tiba ngopling dan siap-siap ngerem lalu mengarahkan setir ke kiri saat ada orang yang nyetop angkot di depan sana.

Sehabis orang tadi naik, si mang jalan lagi dengan gaya yang sama. Saat itu dia nyetir sekaligus sambil makan gorengan. Pas di lampu merah, gorengan habis dan dia beli rokok batangan di pedagang asongan. Saat lampu sudah nyala hijau, dia pun nyetir kembali sambil tetap menghisap rokoknya.

Entah kenapa, saya takjub dengan tabiat mayoritas mang-mang angkot yang kaya gini. Bisa-bisanya gitu ya mereka nyetir sambil merokok dan makan, bahkan kadang sambil ngobrol di hape, tapi matanya tetap awas terhadap orang-orang di pinggir jalan yang mau naik. Benar-benar multi tasking!

Saya juga ingin deh seperti itu. Bisa multi tasking di saat yang bersamaan. Soalnya selama ini kalau sedang nyetir, saya harus konsen dengan jalan dan spion kanan kiri. Pernah suatu hari, saya nyetir sambil makan biskuit, eh yang harusnya ngegas malah jadi ngerem mendadak dan bikin mobil-mobil di belakang rame-rame membunyikan klakson.

Namun, satu hal yang kurang saya suka dari mereka para sopir angkot: budaya ngetem! Kalau sedang santai sih oke-oke saja, tapi lain halnya kalau saya sedang sangat terburu-buru. Rasanya ingin jitak kepala si mang kalau dia sudah belagak mau jalan, tapi mundur lagi saat ada penumpang yang naik. Ngetem lagi. Dan begitu lagi. *sigh*

Beragam cara sudah saya lakukan agar si mang ngerti kalo saya lagi buru-buru. Dari menghentak-hentakan kaki, kipas-kipas, pasang muka cemas, berulang kali liat jam, melototin si mang dari spion depan, hingga berani nanya, “Mang, ini masih lama ga sih?! Bisa cepat ga?! Saya terlambat nih!!”

Biasanya, kalau si mang angkot baik hati, dia langsung jalanin angkot, tapi kalau kebetulan dia ‘ndablek’, ya dingin aja gitu. Berasa ga denger dan baru mau jalan kalau semua penumpang sudah ikut ngomelin.

Karena capek dengan masalah kaya gini terus, akhirnya saya harus berangkat lebih awal kalau akan pergi naik angkot. Setengah jam dari waktu biasanya..

Persoalan ngetem ini memang klasik. Yang bikin macet di sebagian besar jalan-jalan di Bandung kan angkot yang ngetem. Apalagi di sekitar terminal, kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. Mereka bakal tertib kalau ada polisi yang jaga disitu. Klasik sekali.

Ada satu kisah yang sempat saya diceritakan oleh seorang teman. Cerita itu bikin saya terkesan dengan seorang sopir angkot jurusan Caheum-Ledeng yang entah bagaimana wujudnya. Ceritanya, teman saya duduk di depan dan memang hanya dia satu-satunya penumpang. Namun, sopir angkot itu tidak pernah ngetem sekalipun. Sepanjang perjalanan, teman saya ini ngobrol dengannya. Saat teman saya bertanya kenapa si mang angkot ga ngetem, jawabnya: “Rejeki mah dikejar, Jang, bukan ditunggu.” Teman saya manggut-manggut dan angkot pun terus berjalan.

Saat di daerah tamansari, ada seorang bapak-bapak yang menyetop angkot itu sambil bawa beberapa barang. Karena duduk di depan, teman saya tahu arah pembicaraan si bapak dengan si sopir. Rupanya bapak ini mau mencarter angkot ke arah Lembang dan dia bersedia bayar..seratus ribu rupiah!

Wow! Amazing! Memang benar ya, rejeki itu bukan untuk ditunggu. Selama ini, para mang angkot sering berkilah bahwa ngetem untuk kejar setoran. Ah andai saja mereka berpikiran sama dengan sopir yang satu itu..

*****

Terlepas dari kebiasaan menyebalkan para sopir angkot yang suka ngetem sembarangan, saya sering juga kok merasakan kenyamanan dan kepraktisan jika bepergian dengan si mobil umum ini.

Hanya dengan bayar paling mahal 4000 rupiah untuk jarak terjauh, saya bisa duduk bebas sambil lihat apa saja yang tersebar di kanan, kiri, depan, dan belakang angkot. Mobil, motor, bis kota, sepeda, kereta, orang, gedung, jalan, pohon, traffic light, rumah, sekolah, dll. Saya bisa memerhatikan segalanya dari sudut angkot ini.

Berbagai tingkatan status sosial seolah menyatu bersama di medan jalan ini dengan kepentingannya masing-masing. Banyak hal paradoks di luaran sana. Ada pengemis tua yang meminta-minta ke jendela mobil plat merah yang berhenti di stopan, dua orang anak SD yang masing-masing diantar dengan vespa hijau dan altis hitam, mahasiswa yang terlihat membeli koran dari seorang loper, sepasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan melintasi gelandangan tua, seorang pria muda perlente yang marah-marah di pinggir jalan kepada seorang sopir angkot karena pantat mobilnya diserempet, seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan balon, bapak tunanetra yang menghentakan tongkatnya perlahan untuk berjalan, dan anak-anak yang mengejar layangan sambil bertelanjang kaki di seberang sebuah mall besar.

*****

Ada beberapa hal menarik yang sempat saya tangkap dalam sebuah ruang bernama angkot. Saya pernah naik angkot Margahayu-Ledeng yang sangat bersih. Tidak ada sampah disana. Bahkan bungkus permen pun tak ada. Saya terkesima. Benar-benar kinclong. Setelah saya duduk dan menghadap pintu angkot, ternyata ada tempat sampah kecil bertenger disana. Tempat sampah itu diikatkan ke gagang pintu dengan semacam tali tambang kecil. Di atasnya tertera kertas bertuliskan : “Buang sampah anda disini” dengan tanda panah menuju ke arah tempat sampah itu.

Di lain waktu, saya naik Kalapa-Ledeng. Angkot hijau biru muda ini penuh sekali. Saat duduk, saya heran kenapa orang sebanyak ini semuanya serius sekali melihat ke depan atas. Oh rupanya ada sebuah ‘pengumuman’ yang digantung di langit-langit angkot. Tulisan bertinta hitam di papan kecil berukuran sekitar kertas A4 yang menerangkan bahwa seluruh penumpang punya hak merokok dimana saja kecuali di angkot itu. Dilarang merokok atau lebih baik turun saja dan cari angkot lain. Wuihh…

Lain cerita dengan angkot Cicaheum-Ciroyom yang terkenal dengan ngetem dan ngebutnya yang luar biasa. Ada satu angkot yang sopirnya doyan ngomong. Bayangkan saja. Semua penumpangnya diajak ngobrol! Baik yang di belakang, maupun saya yang duduk di depan. Awalnya saya malas menanggapi, tapi ternyata sopir ini memang seru kalo ngobrol. Ibu-ibu yang pulang dari pasar saja langsung nyambung saat diajak ngobrol. Setiap ada yang bilang “kiri!”, si sopir menepikan angkot dan selalu bilang, “Turun sini, A/Neng/Bu/Pak? Bentar ya..”, “Hati-hati ya..”, atau sekedar tersenyum saat si penumpang memberikan duit ongkos. Saat saya mau turun dan bayar ongkos pun dia kembali berceloteh, “Oh si neng turun disini. Hati-hati ya neng. Awas nyebrangnya. Terima kasih, neng..”

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari sini
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails